Pesona Anies Baswedan di Tengah Dua Arus Besar PDIP

 

KONTENISLAM.COM - Oleh: Smith Alhadar*

Kendati ideologi rakyat Indonesia bisa bermacam-macam, Islam dan nasionalis dianggap sebagai mainstream ideologi Bangsa Indonesia sejak awal kemerdekaan. Dan Anies bukan bagian, melainkan sintesa dari keduanya. Anies seorang kosmopolit, demokrat, nasionalis, pluralis, sekaligus religius.

Kendati yatim piatu dalam konteks politik elektoral 2024, Anies Baswedan merupakan tokoh paling menarik di antara figur-figur bakal calon presiden yang sedang menjadi pembicaraan publik hari-hari ini. Tak heran, belakangan ini bermunculan relawan-relawan “Anies for President” di berbagai daerah. Dan paling tidak ada dua partai politik yang disebut-sebut akan mencalonkannya untuk kontestasi dalam pemilihan presiden pada Febaruari 2024, rentang waktu yang relatif tak lama lagi.

Dikatakan Anies yatim piatu karena, pertama, ia bukan kader parpol mana pun. Padahal, semua Presiden RI sejak Soekarno adalah kader parpol. Bahkan, kecuali B.J. Habibie dan Joko Widodo, semuanya adalah pendiri sekaligus pemimpin parpol. Lalu, UU Pemilu meniscayakan calon presiden diusung oleh satu atau lebih parpol hingga mencapai presidential threshold. Pilpres Indonesia tak mengenal calon independen.

Kedua, faktor etnis. Kendati lahir dan besar di Jawa, Anies tidak dianggap representasi orang Jawa. Dia berasal dari keluarga nasionalis keturunan Arab. Meskipun belum pernah teruji di lapangan bahwa wakil non-Jawa pasti kalah bila head-to-head dengan wakil Jawa dalam pilpres — karena hal itu belum pernah terjadi sepanjang sejarah Indonesia modern — ada anggapan umum bahwa faktor etnis masih menjadi faktor dominan dalam politik elektoral.

Memang semua presiden RI –kecuali B.J. Habibie yang menjadi presiden secara otomatis menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri sesuai konstitusi– berasal dari etnis Jawa.

Ketiga, faktor ideologi. Kendati ideologi rakyat Indonesia bisa bermacam-macam, Islam dan nasionalis dianggap sebagai mainstream ideologi Bangsa Indonesia sejak awal kemerdekaan. Dan Anies bukan bagian, melainkan sintesa dari keduanya. Anies seorang kosmopolit, demokrat, nasionalis, pluralis, sekaligus religius.

Kalau diperas, bolehlah dia dibilang seorang nasionalis religius yang berkomitmen kuat pada pengukuhan sistem demokrasi modern, penghormatan pada HAM, dan pluralisme yang berkeadilan.

Bila kaum nasionalis mensubordinasi agama dalam mencapai tujuan-tujuan strategis bangsa, Anies menginternalisasi nilai-nilai substantif agama sebagai pijakan moral dalam setiap kebijakannya, nilai-nilai luhur agama yang menghargai perbedaan, memuliakan semua manusia, dan mewujudkan keadilan bagi semua. Hal ini terlihat nyata selama kedudukannya sebagai gubernur DKI Jakarta.

Keempat, faktor kebaruan. Anies berbeda dari bakal capres lain karena ia menawarkan standar baru dalam moral, sikap, prestasi kerja, konsep pembangunan yang menjadikan manusia sebagai pusat perhatian dari setiap kebijakannya, dan membawa Indonesia pada posisi yang pas dalam percaturan politik, ekonomi, dan teknologi global.

Dengan kata lain, Anies mengesankan bahwa dialah pemimpin masa depan yang diperlukan Indonesia. Karena memang ketika isu-isu baru bermunculan menantang bangsa, diperlukan pemimpin baru yang genuine, yang dianggap paling mampu memahami fenomena baru di segala bidang –ekonomi, budaya, politik, dan teknologi– yang berkelindan dengan kepentingan negara-negara besar di pentas regional dan global. Orang yang memahami dengan sendirinya orang mampu merespons dengan tepat.

Pembangunan stadion olahraga kelas dunia, penyelenggaraan balap Formula-E, serta banyak kebijakan lain yang bernuansa internasional, mencerminkan pemahaman Anies tentang posisi Indonesia di pentas global dan ingin lebih memberdayakannya.

Meskipun yatim piatu dalam konteks seperti yang dipaparkan di atas, Anies justru semakin mempesona. Pada saat bersamaan, PDI-P, parpol terbesar yang dianggap sebagai salah satu faktor dominan penentu kemenangan capres, justru terbelah dalam dua gerbong besar.

Gerbong pertama adalah kubu Megawati yang nyaris pasti akan mengusung Prabowo-Puan. Pasangan ini dianggap ideal karena memenuhi utang janji Megawati kepada Prabowo dan membuka peluang Puan Maharani, putri Megawati, menjadi presiden di kemudian hari.

Pertimbangan lain, pasangan
Prabowo-Puan yang didukung Gerindra dan PDI-P, dua partai besar, diharapkan menjadi magnet bagi parpol lain untuk berkoalisi sehingga Prabowo-Puan berpotensi meraih kemenangan dalam pilpres mendatang.

Pertimbangan itu berdasarkan fakta bahwa PDI-P adalah peraih 20 persen suara nasional dalam pemilu legislatif sebelumnya. Sedangkan Gerindra merupakan satu dari tiga parpol peraih suara terbanyak nasional bersama PDI-P dan Golkar.

Lalu, dalam dua pilpres terakhir ketika Prabowo dengan pasangannya head-to-head dengan Jokowi bersama pasangannya, suara Prabowo dan pasangannya cukup signifikan meskipun kalah. Diduga, meskipun para pendukung Prabowo dalam pilpres-pilpres sebelumnya sebagian akan berpindah ke figur lain dalam kontestasi pilpres mendatang, yang loyal mendukung Prabowo masih cukup signifikan.

Namun, harapan itu tertantang oleh realitas baru di internal PDI-P yang muncul secara tak terduga. Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah dua periode, menantang skenario kubu Megawati. Ganjar sangat populer di basis PDI-P di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Ia juga beretnis Jawa yang piawai memasarkan dirinya di pasar politik nasional, khususnya di Jawa.

Memang terlihat jelas ia berambisi menjadi capres. Hal itu wajar. Dan diprediksi, kalau PDI-P tak mau, partai lain akan bersedia mengusungnya. Yang membuat bobot politik Ganjar kian membesar karena ia didukung Joko Widodo.

Lepas dari pro-kontra masyarakat terkait presidensinya –banyak yang kecewa terhadap kebijakan dan kinerja rezimnya, tapi lebih banyak yang mengidolakannya sebagai presiden yang berhasil– Jokowi mau tak mau harus diakui sebagai tokoh yang akan berpengaruh dalam pilpres mendatang. Calon yang didukungnya diprediksi akan mendapat insentif elektoral.

Tak heran, Prabowo –yang dalam dua kali pilpres melawan Jokowi secara keras– belakangan ini terlihat memuji-muji Jokowi dalam berbagai kesempatan. Ya, harapannya ia akan mendapatkan apa yang disebut sebagai efek ekor jas (coattail effect) Jokowi.

Lalu, mengapa harus Ganjar dan bukan Prabowo? Jokowi dan Ganjar sudah berteman sejak lama. Ganjar juga pengagum Jokowi dan diharapkan akan melanjutkan kebijakan pembangunan idolanya yang terganggu akibat pandemi Covid-19.

Sedangkan Prabowo dilihat sebagai “manusia lama” yang tidak memahami kebutuhan-kebutuhan Indonesia kekinian, terutama di bidang teknologi dan ekonomi digital. Ia dipandang sebagai faktor disrupsi terhadap keberlanjutan apa yang sudah dimulai Jokowi. Jokowi juga menyadari kuatnya resistensi para simpatisannya terhadap Prabowo. Dimasukkannya Prabowo ke dalam kabinet bukan didasarkan pada kebutuhan rezimnya atas kapasitas Prabowo, tapi kebutuhan politik untuk menciptakan stabilitas negara dengan menggembosi oposisi.

Dua arus besar dalam gerbong besar PDI-P ini memiliki konsekuensi politik yang tak menguntungkan baik bagi kubu Megawati-Prabowo maupun Jokowi-Ganjar karena terbaginya suara PDI-P ke kedua kubu. Kalau tak ada jalan keluar untuk menyatukan mereka –nampaknya akan demikian karena tak ada pihak yang mau mengalah– maka perpecahan itu akan mengurangi minat parpol lain untuk bergabung ke dalam salah satu dari dua kubu itu.

Realitas ini akan membuat pesona Anies untuk dicapreskan membesar. Apalagi di basis-basis PDI-P di Jawa telah bermunculan juga relawan Anies. Kalau kita berkaca pada Pilkada Maluku di mana seorang habib keturunan Arab bermarga Assagaf bisa memenangi Pilkada di tengah sejumlah besar warga non-Muslim (Protestan dan Katolik) yang dikenal memilki identitas etnis dan agama yang sangat kuat –yang bisa jadi dapat dilihat sebagai memudarnya pengaruh etnis dan agama dalam politik Indonesia– bukan tidak mungkin sosok Anies bisa diterima secara luas di masyarakat Jawa juga.

Apalagi di kalangan generasi milenial Jawa yang berorientasi pada sosok yang dianggap paling dekat dengan aspirasi dan berkomitmen pada kepentingan-kepentingan mereka. Sejauh ini, kebijakan-kebijakan Anies di Jakarta terkait isu sosial, lingkungan, dan budaya mendapatkan apresiasi kaum milenial Indonesia. Dengan demikian, terkait hal ini, Anies paling representatif dibanding bakal kandidat lain.

Sebenarnya akan aman bagi karier politik Puan sebagaimana dikehendaki Megawati kalau PDI-P mengusung Anies sebagai presiden dan Puan sebagai cawapres. Selain pasangan ini lebih menjanjikan kemenangan, keinginan besar Mega untuk memajukan Indonesia di tengah persaingan global yang ketat bisa terwujud. Juga di bawah kepemimpinan Anies-Puan stabilitas Indonesia juga lebih bisa dijamin karena sosok Anies sendiri dapat menyatukan kaum nasionalis dan Islam sekaligus.

Semua terpulang kepada Megawati yang akan menetapkan pasangan capres-cawapres pada menit-menit akhir sejalan dengan dinamika politik yang berkembang. Dalam politik tak ada yang tak mungkin. Sebagai seorang nasionalis yang rasional pasti Mega akan mengambil keputusan berdasarkan pada kepentingan bangsa jangka panjang, bukan pada pertimbangan pragmatis yang menjadi ciri para pemimpin politik Indonesia saat ini.

*Direktur Eksekutif Institute for Democracy Education

(kbanews)



from Konten Islam https://ift.tt/31H802r
via IFTTT

Klik Link Untuk Membaca Artikelnya - Terima Kasih


Selengkapnya


Sering Dengar Suara Adzan di Dalam Sel, Tahanan Polres Kotim Menjadi Mualaf

Sering Dengar Suara Adzan di Dalam Sel, Tahanan Polres Kotim Menjadi Mualaf 

KONTENISLAM.COM - Keseringan mendengar suara adzan di dalam sel, seorang pria yang merupakan tahanan Polres Kotim memutuskan untuk menjadi mualaf. Hal ini disampaikan oleh Kapolres Kotim, AKBP Abdoel Harris Jakin, Rabu (8/12).

Keputusan hati dari pria bernama Rifandi untuk pindah keyakinan tersebut dilakukan tanpa ada paksaan dari manapun.

"Ya betul. Namanya Rifandi. Dia umur 19 tahun. Alasannya karena merasa terkesan setiap kali mendengar suara Adzan yang dikumandangkan di Mushola Ar Raudah Mapolres Kotim," ujar Kapolres.

“Alhamdulillah, niatnya ini kami sambut dengan baik," tambahnya.

Keputusan untuk mualaf oleh pria asal Seruyan itu akhirnya dibimbing dan dilakukan prosesi keagamaan.

Sebelum prosesi dimulai, Kapolres Kotim terlebih dahulu menanyakan keseriusannya untuk memeluk berpindah agama. Namun karena atas kemauan dan kesadaran hati nuraninya sendiri, dengan tegas dan senang polisi berpangkat dua melati emas ini membimbingnya.

Selesai Rifandi menyebutkan Syahadat, sontak para saksi yang sebagian besar merupakan perwira melontarkan Takbir. Suasana haru pun bercampur jadi satu dengan kegembiraan.

“Namanya kini menjadi Muhammad Rifandi. Semoga Rifandi selalu dalam lindungan dan bimbingan Allah SWT untuk selalu menempuh jalan yang benar dan lurus. Kelak kita semua dikumpulkan pada surganya Allah SWT,” kata Kapolres Kotim di dalam mushola. (kumparan)



from Konten Islam https://ift.tt/3y7BaUw
via IFTTT

Klik Link Untuk Membaca Artikelnya - Terima Kasih


Selengkapnya


Keluarga Yahudi Rothschild Dicap Paling Mujur Selama Pandemi, Kok Bisa?

Keluarga Yahudi Rothschild Dicap Paling Mujur Selama Pandemi, Kok Bisa? 

KONTENISLAM.COM - Keluarga Rothschild menjadi sorotan publik setelah ada desas-desus menjadi pihak yang diuntungkan dalam penanganan pandemi Covid-19.

Melansir dari Reuters, sebuah dokumen menyebutkan bahwa keluarga Rothschild memegang paten pelacakan pasien infeksi virus corona. Sebuah akun Facebook bernama Mike Waldron pada 23 Oktober 2020 mengunggah bukti aplikasi paten Amerika Serikat (AS) untuk sistem dan metode pengujian Covid-19 yang diajukan pemohon bernama Richard A. Rothschild.

Permohonan tersebut bertanggal 17 Mei 2020. Dalam postingannya, dia menyatakan Rothschild memiliki paten pengujian Covid-19 sejak 2015. Data itu sendiri diperoleh dengan menunjuk situs web asal Belanda yang menunjukkan paten yang dinamai "Sistem dan Metode Pengujian untuk Covid-19."

Laporan itu juga menunjukan bahwa Covid-19 merupakan rekayasa keluarga Yahudi tersebut untuk meraup pundi kekayaan selama pandemi.

Dalam penelusuran Reuters, klaim itu disebutkan palus atau Hoax. Pada tahun 2015, Richard A. Rothschild memang mengajukan paten pelacakan biometrik paten bukan untuk pelacakan virus corona.

"Serangkaian aplikasi paten reguler non-sementara selanjutnya dibuat untuk 'Sistem dan Metode Untuk Menggunakan, Memproses, dan Menampilkan Data Biometrik'," ungkap laporan Reuters, Rabu (12/8/2021).

Paten itu sendiri di tahun 2017 dan 2020 memang dikembangkan kembali sehingga permohonan yang dituliskan pada tanggal 17 Mei 2020 itu bukanlah pengajuan baru melainkan hanya pengembangan dari tahun sebelumnya.

Selain itu, nama Sistem dan Metode Pengujian untuk Covid-19 bukanlah nama dari pengajuan paten itu. Dalam situs resmi pengajuan paten AS, nama dokumen itu adalah tetap 'Sistem dan Metode untuk Menggunakan, Biometrik, dan Menampilkan Data Biometrik'.

"Tahun 2015 adalah ketika Rothschild pertama kali mengajukan aplikasi sementara dalam keluarga paten. Tahun 2017 adalah tanggal pengajuan paten terkait," tambah laporan itu.

Seperti diketahui, keluarga Rothschild merupakan taipan perbankan terkenal di dunia, memiliki kekayaan US$350 miliar atau setara Rp5.035 triliun.

Sekadar informasi, Eropa dan Asia Tengah mengalami lonjakan infeksi Covid-19 selama sebulan terakhir, menurut pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis (4/11). Sudah berminggu-minggu kedua kawasan ini kembali menjadi pusat pandemi Covid-19. Menurut Direktur Regional WHO untuk Eropa, Dr. Hans Henri Kluge, kedua wilayah ini menyumbang hampir 60 persen dari seluruh kasus global dan hampir 50 persen dari semua kematian selama sepekan terakhir.[akurat]



from Konten Islam https://ift.tt/3pzp9n0
via IFTTT

Klik Link Untuk Membaca Artikelnya - Terima Kasih


Selengkapnya


Ulama Sampang Ceritakan Habib Muhdlor yang Selamat dari Erupsi Semeru setelah Diusir Warga

Ulama Sampang Ceritakan Habib Muhdlor yang Selamat dari Erupsi Semeru setelah Diusir Warga 

KONTENISLAM.COM - Ulama asal Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang, Madura yakni KH Imam Mu'ti menceritakan kondisi Habib Muhdlor yang selamat dari bencana Erupsi Gunung Semeru pada hari Sabtu (4/12/2021) lalu.

Di mana erupsi Gunung Semeru tersebut membuat dua kecamatan di Kabupaten Lumajang terdampak. Yakni Kecamatan Candipuro dan Kecamatan Pronojiwo yang membuat ribuan warga mengungsi di tempat yang lebih aman.

Imam menceritakan kisah Habib Muhdlor bin Ali Al-Muhdlor yang selamat dari Erupsi Gunung Semeru di tengah agenda Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Aliansi Ulama Madura (Auma), Selasa (7/12/2021).

Tiga hari sebelum Gunung Semeru keluarkan Awan Panas Guguran (APG), Habib Muhdlor yang berdomisili di Desa Supit Urang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang sudah tidak tinggal di kedimannya yang merupakan rumah wakaf pemberian salah satu warga desa.

Kisah Habib Muhdlor yang merupakan tokoh masyarakat dan guru ngaji di sekitaran tempat tinggalnya yang diusir oleh salah satu anak dari pemilik rumah, tiga hari sebelum Erupsi Gunung Semeru juga sempat viral.

"Habib menempati rumah wakaf pemberian salah satu warga yang sekarang sudah meninggal, namun salah satu anaknya mengusir habib dan keluarganya yang tidak punya tempat tinggal. Habib tersebut hanya bisa pasrah, karena rumah yang ditinggali adalah rumah wakaf," ungkap Imam di hadapan pimpinan Komisi III DPR RI.

Ulama yang masuk dalam keanggotaan Auma ini menuturkan, saat ini banyak pihak yang menawarkan Habib Muhdlor beserta keluarga tempat tinggal agar dapat meneruskan pengabdiannya sebagai Guru Ngaji.

"Dikabarkan 40 orang desa yang mengusir Habib Muhdlor menghilang semua, namun sekarang Habib Muhdor dalam keadaan selamat. Itu kejadian tiga hari sebelum meletusnya Gunung di Lumajang," ujar Imam.

Imam pun menarik kesimpulan bahwa pengusiran tersebut merupakan suatu tindakan kebencian kepada seorang habib. Dirinya pun juga menyinggung terkait penembakan hingga terbunuhnya enam laskar di KM50 juga suatu tindakan kebencian.

"Kami kuwatir kalau tidak ditegakkan seadil-adilnya akan ada letusan yang lebih dahsyat dari pada Lumajang," kata Imam.

"Semoga dengan kejadian Gunung meletus ini kita semua dapat mengambil ibrahnya," imbuh Imam.

Sementara itu, seperti yang telah diberitakan  sebelumnya, Erupsi Gunung Semeru terjadi pada hari Sabtu (4/12/2021) sekitar pukul 14.50 WIB. Dari peristiwa tersebut, selain dua kecamatan di Kabupaten Lumajang yang terdampak, sekitar tujuh kecamatan di Kabupaten Malang juga sempat merasakan hujan abu vulkanik.

Kemudian, berdasarkan laporan sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang per hari Rabu (8/12/2021) sebanyak 34 orang dinyatakan meninggal dunia, 69 orang luka-luka dan 16 orang sedang dalam tahap pencarian. [malangtimes]



from Konten Islam https://ift.tt/3rN1wKo
via IFTTT

Klik Link Untuk Membaca Artikelnya - Terima Kasih


Selengkapnya


Tiang Pancang Kereta Cepat Dibongkar karena Salah Koordinat, PT KCIC Salahkan Kontraktor

Tiang Pancang Kereta Cepat Dibongkar karena Salah Koordinat, PT KCIC Salahkan Kontraktor 

KONTENISLAM.COM - Pembongkaran tiang pancang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) yang viral di media sosial Twitter pada Rabu (8/12) diklarifikasi oleh PT Kereta Cepat Indo-China (KCIC).

Presiden Director PT KCIC, Dwiyana Slamet Riyadi membenarkan bahwa pembongkaran dilakukan lantaran tiang pancang atau pier yang dipasang tidak sesuai koordinat.

"Tim Quality PT KCIC dan Konsultan Supervisi CDJO menemukan pergeseran alignment pekerjaan pier di DK46 dan menginstruksikan Kontraktor melakukan rework dan membongkarnya untuk dibangun kembali sesuai spesifikasi teknis yang sudah ditetapkan," ujar Dwiyana dalam keterangan tertulis kepada wartawan pada Rabu malam (8/12).

Namun, dirinya menegaskan bahwa kesalahan pemasangan pier semata-mata dilatarbelakangi oleh kesalahan pihak kontraktor yang mengerjakan bagian tersebut.

Karena, ihaknya sudah menelusuri standar ooperasional prosedur (SOP) Engineering terkait dengan pembongkaran pier untuk rework sudah ditetapkan termasuk aspek keselamatan kontruksinya.

"Namun berdasarkan hasil investigasi yang sudah dilakukan oleh KCIC didapatkan bahwa kontraktor melanggar SOP tersebut sehingga timbul kejadian seperti yang ada didalam video," tuturnya.

Pasca kejadian pembongkaran pier KCJB yang berada di DK46, Teluk Jambe, Kabupaten Karawang, Dwiyana memastikan sanksi diberikan terhadap kontraktor yang tidak melakukan pekerjaan sesuai SOP sehingga menimpa eskavator.

"PT KCIC langsung memanggil, melakukan investigasi dan memberikan teguran langsung kepada kontraktor terkait agar kejadian serupa tidak terulang," demikian Dwiyana. [rmol]



from Konten Islam https://ift.tt/3DDprhu
via IFTTT

Klik Link Untuk Membaca Artikelnya - Terima Kasih


Selengkapnya


AyoJalanTerus.com | Membuka mata, Melihat Dunia

Portal Islam & Unik Terupdate !

Back to Top