Blak-Blakan, Mantan Relawan Nilai 'Jokowi Berbohong Soal Biaya Politik'


Artikel Terbaru :



  Ayo  Jalan Terus !  - Debat pertama calon presiden dan calon wakil presiden yang digelar pada Kamis (17 Januari 2019) menarik perhatian masyarakat. Siaran ini ditonton oleh rakyat Indonesia, baik yang berada di dalam maupun di luar negeri.



Dalam debat ini pun muncul beberapa pertanyaan, jawaban, dan pernyataan dari kedua belah pihak yang belum diketahui publik sebelum ini. Salah satu pernyataan yang sangat menarik perhatian tersebut berasal dari Joko Widodo. Ia berujar, dalam aktivitas politik, terutama ketika menjadi wali kota Solo dan gubernur Jakarta, ia tidak mengeluarkan biaya yang mahal.

Hal tersebut ditepis oleh mantan relawannya yang sekarang menjadi tim Prabowo-Sandi.

Relawan yang bernama Nicholay Aprilindo mengaku mengikuti karir politik Jokowi dari semenjak menjabat sebagai wali kota Solo hingga berhasil menjadi Gubernur Jakarta.

Menurut Nicho, biaya Jokowi untuk melaju ke kursi DKI 1 ditanggung oleh adik Prabowo Subianto yang bernama Hashim Djojohadikusumo.

Nicho menuturkan, hal tersebut dilakukan Hashim karena Jokowi mengaku tidak punya biaya ketika itu.

“Itu kalau dikalkulasi sampai ratusan miliar. Jadi dia katakan tanpa biaya politik itu bohong. Saya saksi hidupnya dan ada beberapa teman saksi hidup. Kita yang mengantar duit itu, pakai kantong kresek lho ke rumah pemenangan, ke Jokowi langsung,” tandasya seperti dilansir Viva.

Nicho menyatakan, semua yang terjadi adalah fakta karena dia sendiri mengikuti semua pertemuan sejumlah pihak terkait dengan pemenangan Jokowi di DKI Jakarta.

[Abu Syafiq/Fimadani]

PDIP Akhirnya Akui Di Pilgub DKI Jokowi Didanai Adik Prabowo



(Prabowo dan Jokowi di Pilgub DKI 2012. Sumber: Google)

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) akhirnya mengakui Joko Widodo (Jokowi) didanai adik Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo, saat maju dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang juga Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, menyebut dana tersebut sebagai bentuk gotong royong karena saat itu Jokowi-Ahok diusung PDIP dan Partai Gerindra.

"Semuanya kan karena gotong royong. Kami (PDIP) juga gotong royong, dana saksi waktu itu kami juga gotong royong," kata Hasto saat ditemui di Stasiun Kalibata, Jakarta, Sabtu (19/1), seperti dilansir CNNIndonesia.

Hasto menjelaskan sokongan dana dari Hashim adalah bukti Jokowi-Ahok tidak terlilit investasi politik dari para pengusaha. Sebab dana datang dari internal partai pengusung. Menurut dia, hal tersebut menunjukkan dedikasi Jokowi dalam menjaga proses politik dari intervensi pemodal.

"Justru itu, jadi pemimpin bukan dengan membeli, bukan dengan investasi, jadi pemimpin adalah sebuah dedikasi," Hasto menjelaskan.

Sebelumnya, Nicholay Aprilindo, sahabat Jokowi yang saat ini menjadi anggota Direktorat Komunikasi dan Media Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, geram atas pernyataan Jokowi yang mengatakan tidak mengeluarkan biaya politik saat jadi gubernur DKI Jakarta.

Hal itu dikatakan Jokowi dalam debat kandidat perdana yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI Kamis malam, 17 Januari 2019.

Nicholay Aprilindo membantah omongan Jokowi.

“Itu bohong jika dia katakan tanpa biaya pokok. Segala sesuatu saat itu dibiayai oleh Hashim Sujono Djojohadikusumo, baik Ahok atau Jokowi tidak didukung oleh pengusaha. Dana murni dari kantung Hashim,”
ujar dia di Media Center BPN, Jakarta Selatan, Kamis (17/1/2019), seperti dilansir Tirto.

Hashim adalah pengusaha. Ia adik dari Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto.

Nicholay mengatakan, pada tahun 2008 Jokowi mengundang dirinya ke Loji Gandrung (rumah dinas Wali Kota Solo) dan berbincang. Dalam pembicaraan itu, Jokowi meminta agar diperkenalkan dengan Hashim. “Saya melihat dia sederhana waktu itu, lalu saya atur waktu agar Hashim bisa bertemu dengan dia di sana,” jelas Nicholay.

Terjadilah pertemuan antara Jokowi dan Hashim. Saat itu Jokowi memaparkan keberhasilannya dalam memerintah kota itu seperti memindahkan pasar tanpa perlu menerjunkan anggota Satuan Polisi Pamong Praja melainkan menggunakan Kirab Kencana dan tumpengan. Hashim tertarik mendengarkan kisah tersebut. “Lalu Jokowi menyatakan dia berkeinginan untuk menjadi gubernur,” terang Nicholay.

Menurutnya saat itu, Jokowi bisa menjadi Gubernur Jawa Tengah. Tapi suami dari Iriana itu ingin bertarung di Jakarta. “Saya meyakinkan Hashim bahwa Jokowi layak menjadi pemimpin DKI Jakarta untuk mengalahkan Fauzi Bowo (Foke),” sambung Nicholay. Lantas Hashim setuju dan mempersiapkan segala sesuatu agar Jokowi bisa berlaga di ibu kota.

Singkat cerita, kata Nicholay, Jokowi berhasil menjadi calon gubernur DKI Jakarta. Saat itu Partai Gerindra melobi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Megawati menolak mencalonkan Jokowi untuk berpasangan dengan Ahok dan ingin mengusung Foke. “Tapi Prabowo meyakinkan ke Megawati bahwa Jokowi layak menjadi gubernur. Akhirnya Megawati setuju,” ucap Nicholay.

Ketika itu Jokowi menyatakan bahwa dia tidak memiliki apapun (cukup harta) dan siapapun (pendukung), tutur Nicholay, serta tidak ada pengusaha yang mendukungnya mendukungnya. Alhasil, Hashim berperan untuk membiayai kampanye Jokowi. “Ahok dan Jokowi tidak didukung oleh pengusaha manapun, semua biaya dari Hashim,” kata Pengamat Hukum dari Lembaga Pengkajian Strategis Politik Hukum dan Keamanan itu.

Nicholay mengatakan Hashim merogoh kocek lebih dari Rp100 miliar untuk Jokowi-Ahok kala itu. “Saya dan kawan lain jadi saksi hidup, kami yang mengantar duit itu ke Jokowi di ‘Rumah Pemenangan’ saat itu, duit dimasukkan ke kresek, kadang koper,” ucap dia.

Jokowi pun, lanjut Nicholay, sering menyambangi kantor Hashim di Mid Plaza 2 secara intens, sepekan dua kali. “Dia selalu datang dengan keluhan, akhirnya dibantu oleh Hashim,” ujar Nicholay.




Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

republished by Ayo Jalan Terus! -  Suarakan Fakta dan Kebenaran ! 



Artikel Terkait Lainnya

*★*――――*★**★*――――*★**★*――――*★**★*――――*★*

Asyik . Unik . Baik


Artikel Terbaru :


Back to Top