Akademisi UI: "Kelas Menengah Atas Banyak Alihkan Dukungan", TKN Salahkan Kampanye Hitam πŸ˜²πŸ€“


Artikel Terbaru :






  Ayo  Jalan Terus !  -  Elektabilitas capres kubu 02 Prabowo-Sandi masih di bawah pasangan Jokowi - Ma'ruf. Meskipun dalam survei Litbang Kompas disebutkan bahwa petahana mengalami tren penurunan tingkat keterpilihan. Kondisi itu dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Menurut Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi, kecenderungan penurunan elektabilitas tersebut disebabkan karena inkonsistensi kebijakan ekonomi Jokowi. Persepsi ini terjadi di level kalangan pemilih menengah ke atas.

Dituturkan Faisal, kalangan menengah ke atas itu adalah objek pajak. Mereka cukup paham soal APBN dan subsidi begitu juga tax amnesty. "Kelas ini ingin pajaknya bisa bermanfaat dan mereka juga selalu menginginkan stabilitas dan kepastian hukum agar iklim ekonomi berjalan baik," jelas Fithra di Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Karena itu, ketika pemerintah menunjukan gelagat tidak konsisten terutama dalam hal kebijakan ekonomi, maka kelas menengah atas cenderung untuk tidak memilih atau bahkan beralih dukungan. 

"Jadi trennya kelas menengah atas banyak alihkan dukungan. Belum lagi kalau kita melihat dari fakta obligasi pemerintah, masih dalam 2014-2018 datanya 10 persen jadi kenaikan rata rata 15 persen per tahun itu mengakibatkan swasta kekurangan pembiayaan," urainya. (Jawapos)

Kata TKN, Elektabilitas Jokowi Turun Karena Serangan Kampanye Hitam

Elektabilitas pasangan calon nomor urut 01, Joko Widodo-Ma'ruf mengalami penurunan 3,4 persen. Data itu terungkap dalam survei terbaru Litbang Kompas dalam surveinya pada rentang waktu 22 Februari-5 Maret 2019.

Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Garda Maharsi menilai, penurunan ini terjadi karena maraknya hoax. Seperti yang terjadi di Karawang, ketika ada ibu-ibu menyebarkan informasi jika Jokowi kembali menang tidak akan ada lagi azan.

"Memang capres 01 menyebutkan sempat terjadi penurunan. Itu terjadi karena black champaign yang dilakukan dari pintu ke pintu," kata Garda di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (20/3).

Garda lantas menyesalkan masifnya penyebaran hoax yang menyerang kubu 01. Pasalnya, perbuatan itu sangat dilarang dalam undang-undang pemilu. 

Di sisi lain, Caleg Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini meminta agar hasil sebuah survei tidak disalahgunakan. Apalagi untuk membangun opini demi kepentingan delegitimasi hasil pemilu. 

"Poinnya adalah jangan sampai survei menghasilkan argumentasi untuk mendelegitimasi pemilu," tegasnya.

Diketahui, berdasarkan survei terbaru Litbang Kompas elektabilitas Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi selisih 11,8 persen. Petahana mendapat 49,2 persen, sedangkan penantang, 37,4 persen. Adapun sebanyak 13,4 persen masih merahasiakan pilihannya.


Elektabilitas Prabowo-Sandi naik 4,7 persen dalam enam bulan, dari 32,7 persen pada Oktober 2018 menjadi 37,4 persen pada survei kali ini. Sebaliknya, rivalnya, Jokowi-Ma'ruf turun 3,4 persen, dari 52,6 persen pada Oktober 2018 menjadi 49,2 persen.

https://www.jawapos.com/nasional/politik/20/03/2019/kata-tkn-elektabilitas-jokowi-turun-karena-serangan-kampanye-hitam



Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

republished by Ayo Jalan Terus! -  Suarakan Fakta dan Kebenaran ! 



*★*――――*★**★*――――*★**★*――――*★**★*――――*★*

Asyik . Unik . Baik


Artikel Terbaru :


Back to Top