Ini Efeknya Bagi Kejiwaan 😡 Bila Peseteruan Cebong-Kampret Tidak Disudahi πŸ™ƒ


Artikel Terbaru :



  Ayo  Jalan Terus  - Perang opini dan pernyataan masih terus berlangsung antara kubu pasangan calon (paslon) 01 dan 02. Berbekal hasil hitung cepat, keduanya mengklaim kemenangan yang berisiko menimbulkan keributan antar pendukung.

Berbagai pihak lantas menyerukan perdamaian atau rekonsiliasi antara cebong dan kampret sebutan bagi pendukung kubu 01 dan 02. Seruan ini mendapat tanggapan positif psikolog forensik Reza Indragiri Amriel, meski pesimistis himbauan tersebut dilaksanakan.



"Imbauan tersebut bagus dilakukan tapi saya ragu efektivitasnya. Siapa peduli dengan perasaan pihak yang baru sebatas diperkirakan kalah? No way. Kedua kubu juga sudah sempat melakukan praktik agitasi," kata Reza pada detikHealth, Minggu (21/4/2019).

Agitasi adalah praktik yang sangat biasa dalam dunia politik dengan menghasut banyak orang untuk melakukan tindakan tertentu. Menurut Reza, kubu 01 sempat menyatakan, "Sekarang saya (kita) lawan," saat kampanye. Sementara kubu 02 menunjukkan ekspresi dengan menggebrak meja saat kalimat tak lagi bisa mengungkapkan perasaan hati.

Meski rekonsiliasi mungkin belum terjadi dalam waktu dekat, namun masyarakat bisa menekan efek perseteruan antar pendukung kedua kubu. Masyarakat juga tak perlu terseret arus saling klaim kemenangan dari paslon 01 dan 02.

Reza menyarankan jauh-jauh dari media sosial atau konten lain seputar pemilu. Segala materi seputar Pemilihan Umum (Pemilu) yang bisa memicu munculnya rasa cemas harus dihindari. Hal serupa juga harus diterapkan pada anak-anak yang juga berisiko mengalami kecemasan usai pemilu.

"Jika kita lihat pemilu di AS pada 2016, tensi psikolog antar kubu justru terus naik apalagi dengan tingkah Presiden terpilih yang memang provokatif. Jika ingin menekan efek atau tak ikut arus lebih baik menjauh dari media sosial, supaya tidak lekas merasa cemas dan gelisah akibat perseteruan kedua kubu," ujar Reza.


Pemilu Sudah Berlalu Kok Masih Ribut Melulu, Memangnya Nggak Capek?


 Pemilu 2019 sudah berlalu, akan tetapi pesta demokrasi yang harusnya menjadi momen seru karena hak suara yang dimiliki masing-masing orang ternyata masih juga diisi oleh para netizen. Duh kesel nggak sih, pilpresnya saja sudah kelar tapi masih ribut-ribut?!

Kepada detikHealth, sejumlah orang memberikan pengakuan kalau mereka sudah mulai malas nih dengan drama 'cebong' atau 'kampret' yang ada di media sosial. Salah satunya Adidtya Bagus (30) seorang karyawan hotel yang sudah lama jadi pengagum Joko Widodo.

"Aku mengamati beliau dari sejak walikota Solo, menurutku sosok beliau itu kayak antitesis dari pejabat publik di tahun itu. Beliau untuk pertama kalinya membuat gebrakan kalo pejabat bisa merakyat. Pemilu walkot yang kedua beliau gak kampanye sama sekali dan dapat 80% suara menurut aku sosok beliau spesial bgt," curhat Adidtya melalui pesan singkat.

Adapun ribut-ribut soal quick count, Adidtya menyebutkan kalau itu merupakan metodologi yang sahih sehingga ia percaya hasil quick count akan tidak berbeda jauh dengan real count dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).

"Adapun soal hasil resmi KPU Saya yakin gak akan jauh beda tapiiiii mari sama-sama kita hormati hasil resminya," lanjut Adidtya.

Untuk teman-teman yang masih saja meributkan perkara pemilu, Adidtya sih sudah jauh-jauh hari menghindari itu. Ia mengaku hanya ingin realistis. Ia menambahkan, Indonesia bisa sukses bukan karena generasi muda yang pintar tapi generasi muda yang beradab dan berakhlak.

"Saran aku yah, kita hidup realistis saja, politik adalah alat yg dilakukan untuk membuat pemerintahan solid dan pemerintah bisa bekerja dengan baik, adapun bagi kita, rakyat biasa, politik akan kurang begitu terasa manfaatnya, menurut aku, hidup realistis aja, gak usah ribut-ribut. Mari sama sama nikmati hasil pembangunan Jokowi dan juga merawat apa yang sudah dibangun," tutup Adidtya.

Selain itu ada juga Suherni Sulaeman, pegiat musik dan film yang jadi pendukung Prabowo Subianto. Ia menyukai sosok Prabowo baru-baru ini karena ia berangkat dari militer. Ia menyukai kepribadian Prabowo yang tegas, gagah, dan terlihat energik. Meski begitu, ia bukanlah orang yang terlalu fanatik.

"Dulu aku sebenarnya adalah orang yang cenderung bungkam bahkan golput soal politik. Tapi rasa-rasanya sekarang harus menentukan sikap, paling tidak pilih yang mendingan. Kondisi politik sekarang memang agak nggak kondusif ya, berbeda dengan 5 tahun lalu. Sekarang ujaran negatif entah makian atau kebencian dari tiap kubu sudah sulit diredam," ujar Suherni.

"Saya sendiri yang mendukung salah satu paslon, sebenarnya bukan enek (dengan keributan di medsos --red) tapi gemes. Soalnya saya tipe orang yang suka kepikiran ya, ujung-ujungnya jadi stres sendiri, tapi karena yang negatif ini menimbulkan hal yang negatif pula, berusahalah untuk tidak terlalu banyak termakan issue, artinya bisa kendalikan diri sendiri," pungkasnya.




republished by AYO JALAN TERUS -   Good Day Good News :)  



*★*――――*★**★*――――*★**★*――――*★**★*――――*★*

Asyik . Unik . Baik


Artikel Terbaru :


Back to Top