Dukung Jokowi-Amin & Dapat Kursi 'NOL' di Ibukota Negara, Benarkah Golkar Kini di Titik Terendah ?


Artikel Terbaru :



  Ayo  Jalan Terus  - Pencapaian Golkar di Pemilu 2019 dianggap tak memuaskan. Suara Golkar pada Pemilu 2019 dianggap yang terendah sejak reformasi. Akibatnya sejumlah kader muda Golkar berharap segera ada pergantian kepemimpinan partai. Namun, benarkah Golkar kini berada di titik terendah?

Kader-kader Muda Partai Golkar yang mendesak pergantian kepemimpinan ini tergabung dalam Barisan Pemuda Partai Golkar (BPPG). Inisiator BPPG, Abdul Aziz, mengatakan di dalam BPPG terdapat perwakilan dari ormas-ormas Partai Golkar, yaitu perwakilan Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG), Majelis Dakwah Islamiyah (MDI) Golkar, Gema Kosgoro, Gema MKGR, Baladika Karya Soksi, dan perwakilan dari Kosgoro.





BPPG memandang hasil Pemilu 2019 merupakan titik terendah Partai Golkar. Salah satu yang disorot adalah nihilnya perolehan kursi Golkar di DKI. BPPG menilai perlu pergantian kepemimpinan untuk membangkitkan Partai Golkar.

BPPG akan mendeklarasikan dukungan ke Bambang Soesatyo agar maju sebagai calon ketum Golkar. Pria yang karib disapa Bamsoet itu dinilai punya kompetensi untuk membangkitkan partai berlambang pohon beringin itu.

"Setelah kita musyawarah atas nama BPPG dan bermufakat bahwa sebenarnya Mas Bambang satu-satunya sosok yang pantas di tengah keterpurukan partai saat ini," kata Abdul Aziz saat dihubungi, Minggu (16/6/2019).

Sementara itu, Ketua Umum Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) Ali Wongso Sinaga mendorong agar Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto kembali menjabat di periode mendatang. Menurutnya, Airlangga yang saat ini juga merupakan Menteri Perindustrian, sangat cocok terhadap visi dan misi Golkar.

"Sebab suksesnya strategi percepatan pembangunan nasional kedepan yang fokus pada sumberdaya manusia dengan penguatan ekonomi keuangan industri dan ideologi budaya bangsa, amat penting bagi perjuangan Golkar. Karena itu, Golkar tidak boleh ada jarak dengan pusat kekuasaan. Untuk menjamin itu Ketua Umum Partai Golkar ke depan harus match dengan strategi itu. Dan logikanya akan lebih kondusif jika Ketum Golkar merangkap menteri strategis," kata Ali Wongso dalam keterangan tertulis, Minggu (16/6/2019). SOKSI adalah salah satu ormas pendiri Golkar.

Menanggapi berbagai desakan ini, Partai Golkar angkat suara. Golkar meminta BPPG bersabar dan menaati AD/ART partai.

"Kita harus merujuk pada AD/ART. Sebagaimana amanat Munaslub 2017, Partai Golkar akan menggelar Munas akhir tahun ini. Jadi sebaiknya bersabar saja," kata Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily kepada wartawan, Minggu (16/6/2019).

Ace mengatakan saat ini masih ada agenda nasional yang mesti diselesaikan, seperti sidang MK untuk pilpres dan pileg. Sehingga, kata dia, tak perlu terburu-buru menggelar Munas. 

"Masih ada di depan mata agenda nasional yang harus diselesaikan. Ada sidang MK untuk pilpres dan pileg. Penetapan dan pelantikan DPR RI dan DPRD kabupaten/kota/provinsi terpilih, pelantikan presiden, dan lain-lain. Ojo kesusu," imbuh dia.

Tapi, benarkah Golkar kini berada pada titik suara terendahnya pascareformasi?


Pada Pemilu 1999, Golkar menempati posisi kedua, setelah PDIP. Golkar memperoleh suara sebesar 22,42% dengan perolehan 120 kursi. Kala itu, partai beringin ini dipimpin oleh Akbar Tandjung. Padahal kala itu, sang ketum sempat digoyang oleh kasus dugaan korupsi Dana nonbujeter Bulog. 

Lantas, pada tahun 2004 Golkar menyalip PDIP dan menjadi pemenang Pemilu 2004. Golkar memperoleh suara 21,58% dengan perolehan 128 kursi. Golkar mendukung PDIP yang memasang paslon Megawati dan Hasyim Muzadi. Meskipun kader Golkar, Jusuf Kalla (JK) saat itu berdampingan dengan Susilo Bambang Yudhoyono dari Partai Demokrat. Hasilnya, Jusuf Kalla menang menjadi Wakil Presiden. 

Pada 2009, estafet kepemimpinan Golkar berpindah dari Akbar Tandjung ke JK. Namun, posisi JK sebagai Wakil Presiden bukan jaminan Golkar jadi pemenang Pemilu 2009. Justru pada tahun 2009, posisi Golkar melorot ke posisi kedua, disalip oleh Partai Demokrat yang dipimpin SBY. Golkar memperoleh suara 14,45% dengan 107 kursi. Kala itu, Golkar mendukung paslon JK-Wiranto. Hasilnya, paslon yang diusung oleh Golkar ini kalah. 

Ternyata, pada tahun 2014 Golkar masih betah duduk di posisi kedua. Kala itu, PDIP kembali berjaya dan menjadi pemenang Pemilu 2014. Golkar meraih 14,75% suara dan 91 kursi. Golkar pimpinan Abu Rizal Bakrie ini lantas mendukung paslon Prabowo Subianto dan Hatta Radjasa. Meskipun, pada akhirnya ada JK yang berdampingan dengan capres PDIP, Joko Widodo (Jokowi). Hasilnya Jokowi-JK terpilih. 

Sayangnya, posisi Golkar pada Pemilu 2019 suram. Berdasarkan rekapitulasi suara KPU, Golkar memperoleh suara 12,31% dengan prediksi 85 kursi di DPR. Akibat perolehan suara ini, Golkar terdepak dari peringkat dua dan berada di peringkat ketiga. Ini merupakan rekor terburuk Golkar sejak reformasi. Meskipun Pemilu 2019, Golkar yang dipimpin Airlangga Hartanto mendukung paslon Jokowi-Ma'ruf Amin. Jokowi-Ma'ruf sendiri menjadi paslon terpilih jika merujuk pada hasil rekapitulasi KPU.



republished by AYO JALAN TERUS -   Good Day Good News :)  



Good Day Good News


Artikel Terbaru :


Back to Top