Sangat Benci Muslim Rohingya, Begini Nasib Biksu Radikal Wirathu Saat Ini


Artikel Terbaru :






  Ayo  Jalan Terus  - Biksu Ashin Wirathu sangat benci terhadap Muslim Rohingya hingga kemudian melancarkan kampanye provokatif yang menyulut pembantaian. Dialah pencetus gerakan anti-Islam 969 hingga jatuh sekian banyak korban di Rakhine, Myanmar. 

Setelah sekian lama membuat geram dunia Islam, Biksu Wirathu kini mulai menuai apa yang ia tanam. Pria yang terkenal karena menyebut muslim Rohingnya adalah anjing gila itu, kini diburu polisi.

Pengadilan di Myanmar mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Biksu Wirathu, atas tuduhan penghasutan. Demikian disampaikan kepolisian setempat, Rabu (29/5/2019).

Juru bicara kepolisian Myanmar, Myo Thu Soe mengatakan, surat perintah penangkapan itu telah dikeluarkan pada hari Selasa (28/5/2019) lalu oleh pengadilan distrik barat di Yangon. 

Myo tidak memberikan alasan rinci soal surat perintah penangkapan itu. Tapi, dalam demonstrasi baru-baru ini, Wirathu menuduh pemerintah korupsi dan mengritiknya karena mencoba mengubah konstitusi yang akan memangkas kewenangan militer.

"Tuduhan hasutan ini merupakan perundungan baginya," ujar Thu Saitta, sekutu Wirathu, kepada kantor berita Reuters seperti dikutip Republika. "Kami tidak akan mengatakan apa yang akan kami lakukan jika dia ditangkap, tetapi kami tidak akan tinggal diam."

Sementara Juru bicara kepolisian Myanmar mengatakan surat perintah itu belum diterima oleh polisi di pusat kota Mandalay, di mana Wirathu bermukim.

Sebelumnya, Jawatan agama tertinggi Myanmar telah melarang Wirathu berkhotbah selama setahun hingga awal tahun lalu, dengan alasan khotbahnya mengandung penyebaran kebencian. Dia sering menjadikan kaum muslim Rohingya sebagai target, di mana lebih dari 700.000 di antaranya telah melarikan diri dari penumpasan tentara di negara bagian Rakhine pada tahun 2017, yang oleh para penyelidik PBB disebutkan sebagai kasus yang dilakukan dengan "niat genosida". [Ibnu K/Tarbiyah]






Myanmar Rilis Perintah Penangkapan, Biksu Radikal Wirathu: Saya Tak Takut!



Biksu radikal yang kontroversial di Myanmar, Ashin Wirathu, mengaku tak takut ditangkap setelah surat penangkapan terhadapnya diterbitkan pengadilan setempat. Wirathu yang dikenal anti-muslim ini tengah diburu polisi Myanmar atas dakwaan memicu keresahan publik.

Pada Selasa (28/5) waktu setempat, pengadilan setempat menerbitkan perintah penangkapan untuk Wirathu. Perintah penangkapan itu didasarkan pada pasal 124(a) yang menargetkan siapa saja 'yang berusaha membawa kebencian atau penghinaan atau upaya untuk membangkitkan ketidakpuasan terhadap pemerintah'. Pelanggaran terhadap pasal 124(a) itu memiliki ancaman hukuman maksimum tiga tahun penjara. 

Seperti dilansir AFP, Kamis (30/5/2019), Wirathu memberikan tanggapan atas perintah penangkapan itu dalam wawancara via telepon dengan media lokal. Dalam wawancara itu, Wirathu mengakui dirinya sedang berada Yangon dan menyatakan polisi sama sekali belum mendatanginya.

"Jika mereka ingin menangkap saya, mereka bisa melakukannya," ucap Wirathu dalam wawancara via telepon dengan surat kabar Irrawaddy.

"Saya tidak takut," tegas biksu kontroversial ini. 

Alasan pasti di balik perintah penangkapan ini belum diklarifikasi oleh otoritas Myanmar. Namun diketahui bahwa Wirathu baru-baru ini melontarkan sejumlah pidato provokatif saat hadir dalam rally nasionalis.

Pada April lalu, Wirathu melontarkan serangan verbal untuk pemimpin sipil Myanmar, Aung San Suu Kyi. "Dia berpakaian seperti fashionista, memakai makeup dan berjalan memakai sepatu hak tinggi yang bergaya, menggoyangkan bokongnya di hadapan orang-orang asing," ucap Wirathu merujuk pada Suu Kyi. 

Dalam sebuah acara rally di Yangon, Wirathu diketahui memicu kritikan keras setelah menyatakan bahwa 'tentara-tentara yang melindungi negara seharusnya disembah seperti Buddha'.

Tidak hanya itu, perilaku Wirathu juga membuat kesal Komisi Nasional Sangha Maha Nayaka -- badan majelis tertinggi untuk para biksu Buddha di Myanmar. Pekan lalu, komisi tersebut memanggil Wirathu untuk menghadiri audiensi disiplin terkait 'keterlibatannya dalam urusan sosial saat rally'. Audiensi itu rencananya akan digelar Kamis (30/5) ini, namun pada Rabu (29/5) kemarin diumumkan ditunda karena 'situasi terkini'.

Sosok Wirathu tidak asing dengan jeruji besi. Tahun 2003 lalu saat Myanmar masih dikuasai junta militer, Wirathu dijatuhi vonis 25 tahun penjara atas sejumlah dakwaan termasuk memberikan khotbah soal ekstremisme dan menyebarkan buku-buku yang dilarang.

Ketika junta militer lengser, Wirathu dibebaskan tahun 2012 bersama ribuan tahanan politik lainnya. Dia pun kembali pada ajarannya yang beraliran garis keras, menyerukan boikot terhadap bisnis-bisnis milik warga muslim dan melarang pernikahan beda agama.

Tahun 2013, Wirathu muncul dalam sampul majalah ternama TIME dan dijuluki sebagai 'Wajah Teror Buddha'. Tahun 2015, dia menyebut Utusan Khusus PBB Yanghee Lee sebagai 'pelacur'.

Badan majelis tertinggi para biksu Buddha di Myanmar pada tahun 2017 lalu melarang seluruh ceramah Wirathu selama satu tahun. Larangan itu diberlakukan karena Wirathu berulang kali menyampaikan ceramah kebencian terhadap agama tertentu, hingga memicu perselisihan komunitas dan menghalangi penegakan hukum. Namun sejak larangan ceramah itu berakhir pada Maret 2018 lalu, Wirathu diketahui kembali berceramah di berbagai acara pro-militer Myanmar. 

Pada Januari 2018, Facebook menghapus akun Wirathu setelah serentetan postingan bernada menghasut yang menargetkan Rohingya. Kelompok-kelompok HAM menyebut postingan Wirathu membantu mengobarkan kebencian terhadap minoritas muslim di Myanmar.







Pendukung Biksu Radikal Myanmar Wirathu Tolak Surat Penangkapan



Ratusan pendukung biksu nasionalis garis keras Myanmar Wirathu memprotes surat perintah penangkapannya untuk menghadapi tuduhan penghasutan.

Wirathu yang bermarkas di Kota Mandalay, telah lama dikenal karena retorika yang keras terhadap minoritas Muslim Myanmar, tetapi perintah untuk menangkapnya mengikuti komentar yang dibuatnya yang mengkritik pemerintah sipil Aung San Suu Kyi.

Setidaknya 300 pendukung Wirathu berkumpul di luar Pagoda Shwedagon di kota terbesar Myanmar, Yangon, pada Kamis.

"Dia mengkritik pemerintah secara terbuka dan publik sebagai warga negara," kata aktivis nasionalis Win Ko Ko Lat, dikutip dari Reuters, 31 Mei 2019.


"Menggunakan tindakan penghasutan terhadapnya sama sekali tidak adil," katanya.

Surat perintah penangkapan untuk Wirathu dikeluarkan oleh pengadilan Yangon pada hari Selasa.

Polisi belum menetapkan dasar yang tepat untuk surat perintah tersebut berdasarkan undang-undang yang melarang membawa "kebencian atau penghinaan" atau ketidakpuasan terhadap pemerintah.

Tuduhan berdasarkan undang-undang hasutan era kolonial Inggris yang bisa memvonis hukuman penjara hingga tiga tahun.

Pada demonstrasi baru-baru ini, Wirathu menuduh pemerintah melakukan korupsi dan mengkritiknya karena berusaha mengubah konstitusi dengan cara yang akan mengurangi kekuatan militer.

Baik polisi Mandalay atau pendukung Wirathur tidak mengetahui keberadaan Wirathu.

Militer memerintah Myanmar selama beberapa dekade hingga dimulainya transisi ke pemerintahan sipil pada 2011.

Wirathu adalah biksu nasionalis yang paling menonjol yang muncul sebagai kekuatan politik yang tumbuh sejak saat itu.

Dalam pidato berapi-api, Wirathu sering menargetkan Muslim Rohingya, lebih dari 700.000 di antaranya melarikan diri dari penumpasan tentara Myanmar di Negara Bagian Rakhine pada tahun 2017, yang menurut para penyelidik AS adalah genosida.




republished by AYO JALAN TERUS -   Good Day Good News :)  



*★*――――*★**★*――――*★**★*――――*★**★*――――*★*

Asyik . Unik . Baik


Artikel Terbaru :


Back to Top