Ustadz Fadlan Garamatan, “Ustadz Sabun” yang Berhasil Mengislamkan Ribuan Orang Papua


Artikel Terbaru :



  Ayo  Jalan Terus  - Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Indonesia (KAHMI), Kamis (17/7) memberikan penghargaan kepada Ustadz Fadlan Garamatan atas dedikasinya berdakwah dan berhasil mengislamkan ribuan penduduk asli Irian Jaya atau Papua. Pemberian tersebut diserahkan dalam acara resepsi HUT KAHMI Ke-49 di Gedung Ballroom Dhanapala, Kementerian Keuangan, Jl Senen, Jakarta.





Wartawan panjimas.com sebelumnya berhasil mewancarai terkait perjuangannya dalam mengenalkan Islam di sana. Berikut adalah hasil reportasenya.

Saat ini hijab menjadi trend dikalangan wanita Papua. Hal ini terkait dengan mulai berkembangnya Islam ditanah penghasil tambang terbesar di dunia tersebut. Hampir 60 % penduduk Nuu Waar (nama lain Papua). 147 masjid berdiri kokoh mengkumandangkan keagungan Allah dan menjadi pusat berkembangnya agama Islam.

Awalnya Bernama Nuu Waar bukan Papua

Dalam sejarahnya Islam masuk ke pulau Papua pada abad 12 tepatnya pada tanggal 17 Juli 1214 atas perintah Sultan Iskandar 2. Dulu bernama Nuu Waar yang berarti Negeri yang menyimpan rahasia. Sedangkan agama Nasrani masuk pada tanggal 5 Februari 1855. Pemberian nama Papua sendiri mempunyai arti saudara tertua. Kemudian berganti nama Irian Jaya dan saat pemerintahan Gus Dur balik menjadi Papua.

Perubahan tersebut terjadi bukan secara tiba-tiba namun bertahun-tahun dan mengorbankan harta dan jiwa. Adalah Fadlan Garamatan putra ketiga dari Mahmdud Bin Abu Bakar Ibnu Suar dan Siti Ruqiyah binti Ismail merupakan salah satu dai yang berhasil mengembangkan Islam di tanah Nuu Waar. Berkat perjuangannya itulah cahaya Islam bisa dirasakan oleh penduduk Nuu Waar. Melalui Islam lah penduduk Nuu Waar kini bisa terangkat derajatnya. Jika dulu banyak yang bertelanjang, jarang mandi dan tertinggal dalam segala hal. Kini perlahan mereka berubah menjadi makhluk yang mulia.

Ancaman dan Teror Menjadi Pelecut Dalam Berdakwah

Keberhasilannya mengislamkan masyarakat Nuu Waar tidak semulus yang dibayangkan. Beragam cobaan ancaman diterima oleh Ust Fadlan Garamatan. Salah satunya adalah saat ia diancam oleh salah seorang pendeta yang bernama Alfonso. Bukannya takut dan bersembunyi ataupun lari mendapat ancaman itu Ust Fadlan malah berniat mendatangi rumah pendeta tersebut.

Hampir setiap pagi Ust Fadlan mendatangi rumah pendeta tersebut. Namun saat didatangi pendeta tersebut tak mau menemui dan hanya ditemui oleh istri dan anaknya. Kejadian tersebut berlangsung hingga 2 bulan. Dan di hari pertama bulan ketiga ia mendapat kabar bahwa pendeta Alfonso masuk rumah sakit ia pun akhirnya mendatangi rumah sakit tersebut dengan membawakan parcel buah.

Usai dijenguk Ust Fadlan pun mulai mengenalkan Islam hingga disuatu hari pendeta Alfonso dan seluruh keluarganya menyatakan diri untuk masuk Islam dengan membaca dua kalimat syahadat. Melihat kejadian tersebut para misionaris kebakaran jenggot dan melaporkan ke aparat kepolisian hingga Ust Fadlan akhirnya ditahan 3 bulan.

Keluar dari tahanan Ust Fadlan kembali berdakwah kali ini menuju Kampung Gayem. Sampai ditempat tersebut salah satu kakinya ditombak oleh kepala suku dan tepat mengenai betisnya. Iapun harus masuk rumah sakit selama beberapa minggu . Usai sembuh ia melanjutkan dakwahnya lagi hingga akhirnya kepala suku yang menombak kakinya masuk Islam dan ia akhirnya dilaporkan ke kepolisian dan ditahan 6 bulan. Jeruji besi tak membuatnya luntur dalam berdakwah didaerah.

Mendapat Julukan Ustadz “Sabun”

Yang menarik dakwah pertama yang dilakukan adalah dengan mengajari mandi menggunakan air bersih dan sabun serta sampo.

“Perlu diketahui orang Papua banyak yang bertelanjang dan hanya menggukan koteka saja karena mereka diminta oleh misionaris” ujarnya kepada reporter panjimas.com beberapa waktu yang lalu.

Tak hanya itu orang Papua tidak bisa mandi dan hanya diajari mandi menggunakan minyak babi oleh para pendeta gereja. Yang lebih memprihatinkan jika para wanita melahirkan mereka melahirkan dibawah pohon seperti hewan. Dan memotong tali plasenta menggunakan batu. Anak-anak mereka hanya boleh minum susu sebelah kiri saja. Karena payudara sebelah kanan harus digunakan untuk menyusui anak-anak babi.

Sabun dan sampo adalah modal awal yang digunakan untuk mengajarkan Islam. Hal itu dilakukan karena mayoritas penduduk Papua tidak pernah mandi. Keadaan demikian terjadi karena mereka dipengaruhi oleh misionaris gereja sehingga mereka hanya memakai koteka (telanjang) dan jika mau mandi harus menggunakan minyak babi. Misionaris mempengaruhi bahwa cara ini untuk mempertahankan tradisi.

“Saat mengajari mandi waktu dhuhur tiba lantas kami minta ijin untuk menunaikan sholat. Sholat dilakukan di atas panggung tidak bisa di tanah. Sebab kalau ditanah sering pakai oleh babi dan anjing.“ ujarnya.

Usai ust Fadlan melakukan sholat kepala suku terlihat penasaran. Setiap gerakan kepala suku menanyakan apa maksudnya. Dengan cerdas dan bijak dijelaskan dengan logika yang bisa diterima oleh orang Papua.

Alhamdulillah dengan ijin Allah beberapa kepala suku lantas berunding dan akhirnya mereka semua memutuskan untuk masuk Islam. “Hari ini kita bahagia kita senang anak ini telah mengajarkan agama yang benar. Dan kita akan mengikutinya“ teriak kepala suku diatas panggung menggunakan bahasa Wamena

Mendengar penjelasan tersebut Ust Fadlan yang menjadi pengurus MIUMI dengan jabatan Paku Bumi (Pasukan Khusus Bela Umat Islam) beserta rombongan melakukan sujud sukur. Akhirnya 3712 orang dituntun pelan-pelan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.

Bersama Ust Fadlan Garamatan dengan pelan Islam disampaikan dipulau yang kaya akan hasil tambang tersebut. Berjalan digelap hutan belantara adalah hal lumrah yang dijalankan oleh para dai pedalaman tersebut. Mandi atau thoharoh merupakan metode dakwah awal yang dilakukan sebelum masyarakat Papua dikenalkan apa itu Islam. Strategi itulah yang kadang ia mendapat julukan sebagai Ustadz sabun.

Selama 37 tahun lebih ustadz yang berasal dari Fak-fak tersebut mendedikasikan jiwa dan hartanya untuk mengislamkan masyarakat Nuu War. Karena wajahnya sudah dikenal maka rombongan Ust Fadlan tidak mengunakan pesawat dalam berdakwah. Selama 12 hari berjalan keluar masuk hutan akhirnya sampai di tempat yang dituju. 3 bulan dihabiskan dalam mengenalkan Islam didaerah tersebut. Hanya satu orang yang berhasil diIslamkan.

Minimnya dana tak membuat ust Fadlan kendor. Ia pergi ke beberapa tempat di Indonesia untuk menyaikan perkembangan Islam di Nuu Waar. Dengan cara itualah ribuan pakaian pantas pakai peralatan mandi bisa didapatkan. Dan dakwah kembalil dilakukan. Tak semua orang mampu mengikuti model gerakan dakwah yang dilakukan oleh Ust Fadlan dan kawan-kawanya. Ada sebuah kisah menarik saat Ust Fadlan usai berkunjung disebuah Perguruan Tinggi Islam di Jawa. Ia berkenalan dengan salah seorang Ustadz dan diajaklah ustadz tersebut ke Papua.

Mulai dari Nabire perjalanan ke pedalaman dilakukan. Saat baru satu hari ustadz tersebut bertanya “ ustadz Fadlan kapan sampainya ?“ lantas dijawab “belum“ begitu pula hari kedua. Dihari kelima Ustadz tersebut lantas memaki-maki ustadz Fadlan.

“Kalau saya tahu dakwah seperti ini saya tidak mau ikut. Tolong pulangkan saya ke kota dan saya akan kembali ke Jawa Timur“

Ustadz Fadlad pun menjawab “Antum tidak pantas menjadi umat Muhammad, antum tidak pantas memeluk agama Islam. Coba tengok 1400 silam seorang Muhammad berdakwah dengan sendirian. Sekarang anda berdakwah dengan saudara Islam namun anda ketakutan. Silahkan anda pulang tapi kami tak mau mengantar”

Mendengar penjelasan tersebut, Alhamdulillah lantas ustadz dari Jawa Timur itu lantas mau bergabung kembali untuk melakukan dakwah.

Berkat kesabaran dan kistiqomahan Ust Fadlan ribuan penduduk Nuu Waar (Papua) berhasil ia Islamkan berikut pendeta. Hingga disuatu saat beberapa kepala Suku pun sempat diundang ke Istana Negara yang saat itu Presidennta Suharto dan diberangkatkan naik haji ke tanah suci. Cita-citanya saat ini adalah ingin memiliki sebuah pesawat syariah. Harapanya dengan pesawat tersebut dakwahnya bisa lebih menjangkau daerah-daerah di propinsi Indonesia paling timur tersebut. Selain itu ia juga ingin mendirikan perkampungan syariah. Saat ini sudah berhasil memiliki 200 hektar. Kedepan wilayah tersebut akan dibangun segala kebutuhan administrasi negara seperti kantor keluarahan, puskesmas, kecamatan yang dalam pelaksanaannya menggunakan sistem syariah. Selain itu saat ini sedang dibangun Masjid yang sangat besar di Jaya Pura yang rencananya akan selesai dibangun pada tahun 2016. Masjid tersebut akan diberi nama The Jessus bin Maryam.


Kisah Ustadz Fadlan Mengislamkan 3712 Warga Pedalaman Papua

Para guru ngaji laki-laki dan perempuan yang berjumlah ribuan itu khusyuk mendengarkan kisah dakwah ustadz Fadlan Garamatan, da’i asal Papua. Sesekali mereka tertawa mendengar kisah ustadz Fadlan saat berdakwah di pedalaman yang mayoritas penduduknya masih bertelanjang.

Dalam ceramahnya di Masjid Nurul Huda Universitas Sebelas Maret (UNS) Ahad 9/11 kemarin, ustadz Fadlan mengungkap bahwa sebenarnya Islam adalah agama tertua yang datang di tanah Papua. “Agama yang tertua dan pertama di negeri ini adalah Islam,” kata ustadz Fadlan sambil menunjuk peta Papua yang dipancarkan dari lcd proyektor.

“Tanggal 17 Juli 1204 masehi Iskandar Syah dari Samudra Pasai melakukan dakwah ke Malaysia, Solok, Filipina, turun ke Tidore dan dari Tidore dia sampai ke Irian,” tambahnya.

Ketika sampai ke Irian itulah Iskandar Syah bertemu dengan kepala suku dan dia mengajarkan dua kalimat syahadat kepada kepala suku itu. Islam masuk ke Irian pada tahun 1204, sementara agama Kristen masuk ke Irian dibawa oleh orang yang tidak beragama Kristen. Justru Sultan Tidorelah yang membawa agama Kristen ke Irian kala itu.

“Tanggal 5 Februari 1885 (Kristen dibawa masuk Irian), tapi jauh sebelumnya Islam sudah masuk ke Irian,” terang ustadz Fadlan.

Ustadz Fadlan lalu menceritakan pengalamannnya mengislamkan pendeta bernama Alfonso di tanah Irian pada tahun 1980 an. Setelah gigih berdakwah selama tiga bulan di keluarga pendeta Alfonso, akhirnya pendeta itu bersama keluarganya mengucapkan syahadat. Akibatnya tanah Irian geger dan ustadz Fadlan ditahan selama tiga bulan tanpa pengadilan.

Keluar dari tahanan Ustadz Fadlan tidak kapok dan kembali berdakwah. Kali ini ia menuju tempat bernama Kampung Gayem. Baru sampai ditempat tersebut kepala suku langsung melempar tombak ke salah satu kaki ustadz Fadlan dan tepat mengenai betisnya. Iapun harus masuk rumah sakit selama beberapa minggu. Setelah sembuh ia kembali datang ke Kampung Gayem lagi hingga akhirnya kepala suku yang menombak kakinya masuk Islam. Tapi lagi-lagi, setelah mengislamkan seorang tokoh, ustadz Fadlan ditangkap dan dipenjara lagi, kali ini selama enam bulan.

Ada fakta unik kenapa banyak anggota suku di Papua tidak memakai baju dan telanjang. Ternyata mereka dilarang oleh misionaris Kristen untuk memakai baju. Selain dilarang berpakaian, mereka juga dilarang mandi menggunakan air bersih. “Mereka (warga suku) hanya boleh mandi menggunakan minyak atau lemak babi saja,” ungkap ustadz Fadlan sambil menunjukkan foto warga pedalaman yang masih telanjang.

Barangkali kisah dakwah ustadz Fadlan yang fenomenal adalah saat 3712 anggota suku di Irian berhasil diislamkan dan mengucap kalimat syahadat. Metode yang ia gunakan untuk mengislamkan penduduk pedalaman ini cukup unik, yaitu dengan mengajari para kepala sukunya mandi dengan sabun dan menggunakan sampo.

Usai mengumpulkan ribuan anggota suku, ustadz Fadlan dan tim da’inya memprakktekan sholat diatas panggung yang telah mereka buat. “Begitu kami takbir, warga suku yang sudah mandi maupun yang belum mandi berdiri dan berputar mengelilingi panggung tempat kami sholat,” kata ustadz Fadlan menerangkan.

Usai sholat, kepala suku langsung loncat ke atas panggung dan bertanya kepada ustadz Fadlan, apa yang baru saja dia lakukan bersama tim da’inya. Dengan sabar ustadz Fadlan menjelaskan bahwa yang mereka lakukan baru saja itu adalah sholat untuk menyembah Allah subhanahuwata’alla.

“Dalam agama kami, kami diperintahkan sehari lima kali untuk menghadap Allah sang pencipta,” terang ustadz Fadlan kepada kepala suku itu.

“Begitu mendengar penjelasan saya, kepala suku meminta kami turun dari panggung. Kemudian kepala suku besar naik ke atas panggung bersama enam kepala suku lainnya untuk melakukan rapat adat membahas kehadiran kami,” lanjut ustadz Fadlan.

Satu setengah jam kemudian kepala suku berdiri diatas panggung dan berteriak kepada warganya “Hari ini kita senang, hari ini kita gembira, karena anak-anak ini datang mengajarkan kita agama yang benar. Dalam rapat adat kami sepakat bahwa kita semua yang berkumpul di lapangan ini mengikuti agama yang mereka ajarkan,” kata ustadz Fadlan menirukan perkataan kepala suku.

Mendengar penjelasan dari kepala suku, sontak ustadz Fadlan dan tim da’inya sujud syukur dan menangis kepada Allah Subhanahuwata’alla. Saat itulah sebanyak 3712 warga pedalaman mengucapkan kalimat syahadat dan memeluk Islam.

Kisah dakwah ustadz Fadlan yang disampaikan dihadapan ribuan guru TPQ ini diharapkan menjadi motivasi agar para guru TPQ semakin semangat dalam mengajarkan Al Qur’an kepada generasi muda Islam. (Ahmad)



republished by AYO JALAN TERUS -   Good Day Good News :)  



Good Day Good News


Artikel Terbaru :


Back to Top