Kegagalan Khubilai Khan di Jawa & Cara Penguasa Jawa Melawan Tiongkok


Artikel Terbaru Lainnya :



[ AyoJalanTerus.com ]  Untuk melawan bangsa Mongol di Tiongkok, Kertanegara bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara dan Asia Tenggara.
*
Sejak mendirikan Dinasti Yuan, Khubilai Khan mulai menebar kekuasannya. Ia menuntut bakti dari penguasa-penguasa yang sebelumnya mengakui kekuasaan kaisar-kaisar Dinasti Sung. Jika menolak, mereka akan diserang. Salah satunya penguasa di Jawa.

Khubilai Khan mengirim utusan ke Jawa pada 1280, 1282, dan 1286. Raja Singhasari, Kertanegara dengan percaya diri merusak muka utusan terakhir, Meng Qi pada 1289, karena telah menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara dan Asia Tenggara.



ebagaimana disebut dalam Kakawin Nagarakrtagama, bahwa seluruh Jawa, Sunda, dan Madura tunduk di bawah kekuasaan Kertanegara. Ia mengirim ekspedisi militer ke Malayu, menguasai Pahang di Semenanjung Malayu, serta menaklukkan Bali dan memboyong rajanya sebagai tawanan pada 1284. Ia juga menguasai Gurun, pulau di wilayah timur Nusantara, dan Bakulapura atau Tanjungpura di barat daya Kalimantan.

Dalam Prasasti Camundi dari 1292 disebutkan Kertanegara puas dengan kemenangan-kemenangannya di semua tempat. Ia menjadi payung pelindung seluruh dwipantara atau Nusantara.

Sejarawan Malang, Suwardono dalam Krtanegara dan Misteri Candi Jawi, menjelaskan Prasasti Camundi memberikan petunjuk tentang hubungan Kertanegara dengan kawasan Asia Tenggara bagian selatan dan kepulauan. Itu pula yang dimaksud dalam Nagarakrtagama.

Menurut Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, walaupun dalam Nagarakrtagama disebut menundukkan bukan berarti ada pertempuran. “Kalau ada (pertempuran) itu akan mempermudah Mongol masuk, karena energi berkurang,” ujarnya.

Khususnya ekspedisi ke Malayu pada 1275. Untuk mempererat hubungan dengan Malayu, pada 1286 Kertanegara mengirimkan hadiah berupa arca Buddha Amoghapasa. Penempatannya di Dharmasraya dipimpin oleh empat pejabat tinggi dari Jawa.



Menurut Dwi itu bukan ekspedisi militer melainkan untuk merekut mitra sejajar. “Menurut saya ini semacam MoU (memorandum of understanding). Jika dua kekuatan itu berkoalisi, diharapkan dapat mengontrol Selat Malaka dan menghadapi musuh bersama, khususnya menghadapi serangan Mongol,” kata Dwi.

Selain di kawasan Nusantara, Kertanegara juga bersekutu dengan Kerajaan Champa. Tujuannya sama: untuk membendung serangan bangsa Tartar, sebutan Jawa untuk Mongol.

Dalam Prasasti Po Sah di dekat Phanrang dari 1306 disebutkan seorang permaisuri Raja Champa adalah putri dari Jawa bernama Tapasi. Adik Kertanegara itu menikah dengan Raja Jaya Simhawarman III (1287-1307).


Kerja sama itu menguntungkan bagi Jawa ketika Kubilai Khan mengirim pasukan pada 1292 untuk menghukum Kertanegara. Raja Jaya Singhawarman III tidak mengizinkan mereka menurunkan jangkar di pelabuhan Champa untuk mengisi perbekalan. Apalagi selama berlayar ke Jawa, mereka menghadapi banyak kesulitan.



Shi Bi, salah satu komandan ekspedisi dalam catatannya di Sejarah Dinasti Yuan, menyebut angin selama pelayaran bertiup sangat kencang. Lautan begitu bergelombang membuat kapal terombang-ambing. Para prajurit pun tak makan selama berhari-hari.

Ditambah lagi, menurut W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa, armada Mongol yang berlayar dari Quanzhou di Fujian itu tidak mengikuti rute biasanya yang menyusuri pesisir Malaka dan Sumatra. Mereka justru berlayar di tengah lautan dan dengan berani atau mungkin nekat mengambil rute lurus terdekat menuju tujuannya.

Akibatnya, dari ribuan kapal, yang berhasil sampai Jawa Timur hanya sebagian kecilnya. Banyak yang tewas. Baik karena serangan bajak laut, maupun penyakit. “Mongol itu tidak jago berlayar. Apalagi paling sulit melintasi Laut Cina Selatan,” kata Dwi.

Supremasi Tiongkok

Banyak yang yakin ekspedisi Khubilai Khan ke Jawa sebenarnya demi menguasai perdagangan laut. Namun, David W. Bade, ahli perpustakaan di Joseph Regenstein Library Universitas Chicago, dalam Of Palm Wine, Women and War: The Mongolian Naval Expedition to Java in the 13th Century, menjelaskan bahwa saat itu Jawa menjadi negara terakhir di selatan Tiongkok yang menolak tunduk. Pengaruh Jawa semakin besar setelah mengirim utusan ke Malayu dalam ekspedisi Pamalayu. Apalagi pengaruh Sriwijaya, yang berhubungan baik dengan Tiongkok, sudah pudar.

“Kemungkinan invasi Mongol ke Jawa hanya karena hasrat Khubilai Khan mengirimkan angkatan lautnya dan juga amarahnya setelah Meng Qi dilukai, masih terus dipertanyakan,” tulis Bade.

Morris Rossabi, sejarawan Queens College dan Columbia University, salah satu yang meragukan ekspedisi Mongol ke Jawa hanya untuk menghukum orang asing yang melukai utusannya. “Sementara banyak sekali yang harus dipertaruhkan dalam ekspedisi ini,” tulis Rossabi dalam Khubilai Khan: His Life and Times.



Jika dilihat secara umum, menurut Groeneveldt, penguasa di Tiongkok selalu digerakkan oleh karakter superioritas mereka. Kala itu, supremasi Tiongkok terhadap negara-negara lain adalah dogma nasional yang begitu tertanam, bahwa kaisar ditunjuk Langit untuk menjadi penguasa dunia.

Sejak masa awal sejarah Tiongkok, mereka selalu mencatat kedatangan penguasa asing yang memberikan penghormatan kepada kaisar. Para penguasa dari negara-negara yang lebih kecil di Asia sering melakukan perdagangan hingga ke Tiongkok, sambil membawa hadiah untuk mengambil hati penguasanya. Bahkan, cara ini diikuti para pedagang swasta yang menyamar sebagai utusan dari negeri jauh. Dengan memberikan sedikit barang dagangan, mereka berharap mendapat fasilitas perdagangan atau akses hingga ke ibu kota.



“Keuntungan utama hubungan ini adalah kesempatan bagi para penguasa di negara-negara lain agar bisa berdagang di Tiongkok,” tulis Groeneveldt.


Sejak dulu Tiongkok dipandang tinggi, khususnya oleh negara-negara di Asia. Budayanya tinggi, istananya mewah dan luas. Kekayannya membuat kagum bangsa-bangsa di Asia. Karenanya para penguasa merasa mendapat kehormatan jika bisa menjalin hubungan dengan Tiongkok.

Sementara bagi kaisar, semua negara harus tunduk kepada bangsa yang dipilih Langit, yaitu Tiongkok. Jika ada yang memberikan hadiah (upeti), walaupun sedikit harus diterima dengan tangan terbuka dan dibantu sesuai dengan kebutuhannya.

“Bangsa Tionghoa bahkan menjadikan upaya kontak dagang biasa menjadi pengakuan atas superioritas mereka,” tulis Groeneveldt.

Terlebih lagi kekuasaan Tiongkok di era Dinasti Mongol. Menurut sejarawan Inggris, John Man dalam Kubilai Khan, ambisi utama Sang Khan adalah membuat dunia mengakui kejayaannya. “Tak ada alasan khusus kenapa harus menaklukkan suatu negara. Ia hanya harus melakukannya,” tulis John Man.

Oleh karena itu, menurut Suwardono, Kertanegara berusaha untuk menyatukan seluruh Nusantara karena adanya bahaya dari luar yang mengancam, yaitu pasukan Mongol. (hk/sumber)

Penulis: Risa Herdahita Putri





Kegagalan Khubilai Khan di Jawa



PENAKLUKKAN Dinasti Song pada 1279 oleh tentara Mongol di bawah perintah Khubilai Khan membuat seluruh Tiongkok tunduk di bawah bendera Dinasti Yuan. Mungkin itu menjadi kesuksesan militer terbesar, sekaligus terakhir bagi Kekaisaran Mongol.

Kendati demikian, hal itu masih selangkah lagi menuju ambisi utama Khubilai Khan, yaitu membuat dunia mengakui kejayaannya. “Tak ada alasan khusus kenapa harus menaklukkan suatu negara. Ia hanya harus melakukannya,” kata sejarwan Inggris, John Man dalam Kublai Khan.

Khubilai Khan bukannya jenius secara intelektual. Tapi dia punya kemampuan, yang menurut John Man, sebagai CEO terbaik sepanjang masa. Dia mewarisi kemampuan mengorganisir dari kakeknya, Jenghis Khan. Ketika kakaknya, Mongke Khan berkuasa, dia dikirim ke selatan untuk menundukkan kerajaan Nan Chao di Yunan. Pada 1253 dia berhasil menguasai seluruh dataran tinggi Yunan sampai Hanoi.

Setelahnya, Khubilai Khan menghajar wilayah utara di mana pusat pemerintahan Dinasti Sung berada. Pada 1259, dia menyeberangi Sungai Yang Tse untuk kemudian menyerang Wu Tsyang. Di tengah ekspedisinya itu, Mongke Khan, Khan ke-4, wafat. Dia mengajukan gencatan senjata dan kembali pulang untuk ikut pemilihan Khan menggantikan kakaknya. Namun, dia takut tak dipilih. Akhirnya, dia memerintahkan para jenderalnya untuk mengangkatnya sebagai Khan di perbatasan Tiongkok-Mongolia.

“Orang-orang Mongolia banyak yang tak suka kepadanya. Sikap dan tindak tanduk Khubilai sudah setengah Cina,” tulis Slamet Muljana dalam Menuju Puncak Kemegahan.

Setelah menjadi Khan pada 1260, dia melanjutkan ambisinya. Dia merebut kota Hu pei, Syiang-yang, dan Fan syeng; mengepung kota Hang tsju; dan menghajar pengikut Dinasti Sung yang masih bertahan di Kanton. Raja mahkotanya melarikan diri ke lautan. Namun, pada 1275, armadanya berhasil dihancurkan. Dengan begitu, patahlah seluruh kekuatan Tiongkok. Dia memindahkan ibukota Mongolia ke Beijing. Dinastinya dia namai Yuan.

Praktis sejak kekuasaan Jenghis Khan, kekaisaran Mongolia memperluas daerah jajahannya ke barat sampai Eropa. Seluruh daratan Asia dikuasai. Ini pun mengakibatkan kekuasaan mutlak atas lautan. Akibatnya, kapal-kapal dagang Tiongkok menguasai perniagaan laut dari Tiongkok hingga Arabia.


John Man memuji sang kaisar sebagai orang yang pandai menilai karakter. Seperti kakeknya, dia mempekerjakan orang-orang yang dia anggap lebih pandai darinya.

Dia tak ragu menempatkan orang-orang di sekelilingnya dari asal-usul yang berbeda. Pedagang muslim misalnya, diangkat sebagai administrator keuangan. Dia juga mempekerjakan 66 orang Uighur. Dua puluh satu di antaranya menjadi pejabat daerah yang menduduki distrik-distrik di Cina. Sementara beberapa lainnya bertugas mengajar para pangeran keluarga kerajaan.

Namun, kata John Man, petualangan berikutnya, seperti di Jepang, Burma, Vietnam, dan Jawa justru menunjukkan betapa ambisinya itu bisa menjadi sia-sia. Ekspedisi ke negara-negara itu setidaknya memberikannya pelajaran bahwa dia telah mencapai batasnya.

“Tapi dia menolak belajar,” tulis John Man.

Kegagalan

Sejak mendirikan Dinasti Yuan, Khubilai Khan mulai menebar kekuasannya dengan menuntut bakti dari negara-negara yang sebelumnya sudah mengakui kekuasaan kaisar-kaisar Dinasti Sung. Jika menolak, mereka akan diserbu dengan prajurit bersenjata.

Setelah sempat menginvasi Dinasti Goryeo di Korea pada 1260, dinasti itu akhirnya total menjadi bawahan Yuan pada 1273. Khubilai Khan menjadikannya pangkalan militer. Pasukan Korea pun ikut membantu ekspansi Mongol ke berbagai negara di Asia.

Setelah Korea, Khubilai Khan dua kali berusaha menyerang Jepang. Sebelumnya, dia sempat menyuruh utusannya membawakan perintah agar Jepang sudi mengakui kekuasaan Mongol dan mengirim upeti. Namun, kaisar Jepang menolak mentah-mentah.
Sejarawan Queens College dan Columbia University, Morris Rossabi dalam Khubilai Khan: His Life and Times menulis, di satu sisi, keputusannya untuk memulai hubungan dengan kekaisaran Jepang juga untuk mendapatkan nilai baik di mata bangsa Tiongkok.

Namun, penolakan Jepang membuatnya untuk pertama kali terlibat dalam pertarungan laut. “Meski dia tak berniat (awalnya, red) melakukan perang angkatan laut, inisiatifnya terhadap Jepang membawanya pada keputusan yang mengerikan,” tulis Rossabi.

Benar saja, kedua upaya tersebut digagalkan oleh cuaca buruk dan cacat dalam desain kapal. Armada mereka hancur. Upaya pertama pada 1274, dengan armada 900 kapal, yang terdiri dari tentara Korea dan Mongolia. Masih tak menyerah, pada 1281, Khubilai Khan memilih menggunakan banyak pelaut Tionghoa yang lebih berpengalaman. Namun, lagi-lagi kandas akibat serangan topan.

Ekspedisi ke daerah lain lebih berhasil, seperti Annam, Kamboja, dan Champa. Mereka memilih mengirim upeti dan mengaku tunduk pada Khubilai Khan. Namun, dia tak puas sampai di situ.

Menurut Slamet Mujana dia malah meminta lebih dengan menyuruh raja-raja di negara itu datang sendiri menghadap sang kaisar. Tentu ini tak selalu direspons sesuai keinginannya. Oleh karena itu, antara 1280-1287, dia mengirim tentaranya ke Annam, Kamboja, dan Birma. “Meski tentara berkuda Mongolia terkenal hebat, angkatan daratnya ulung, namun dalam ekspedisi kali ini mereka tidak berhasil karena tidak tahan akan panasnya udara,” tulis Slamet Muljana.

Jawa tak luput dari incaran Mongol. Pada 1280, 1281, 1286, Khubilai Khan mengirim utusan ke Singhasari untuk meminta sang raja mengakui kekuasannya. “Raja Kertanegara yang sadar akan keagungannya dan kekuasannya tidak sudi menyerah,” tulis Slamet Muljana.

Utusan Mongol terakhir datang pada 1289. Namun, mukanya justru dirusak. Akibatnya, angkatan perang Mongol berlayar menuju Jawa pada 1292. Mereka dipimpin oleh Shi Bi, Ike Mese, dan Gao Xing. Dua nama pertama orang Mongol, yang ketiga Tionghoa.

“Ketika Kaisar Shizu (Khubilai) menaklukkan orang-orang barbar di keempat penjuru dunia dan mengirimkan para perwira ke berbagai negara di seberang lautan, Jawa adalah satu-satunya negara yang harus diserang dengan sebuah angkatan perang,” tulis catatan Sejarah Dinasti Yuan.

Dari berita Cina, tentara Mongol sampai ke Majapahit pada 1 Maret 1293. Sebelumnya, mereka mendarat di Tuban, mendirikan perkemahan di tepi Sungai Brantas. Ike Mese mengirim tiga orang perwiranya ke perkampungan baru Majapahit untuk menyampaikan pesan agar Raden Wijaya tunduk dan mengakui kekuasaan Khubilai Khan.

Raden Wijaya akan tunduk kalau Mongol membantunya melawan Jayakatwang dari Gelang-Gelang yang telah membunuh Raja Kertanegara dan menghancurkan Singhasari. Itulah kenapa Raden Wijaya menyingkir ke Majapahit.

Puncaknya, pada 20 Maret 1293, tentara gabungan Raden Wijaya dan Mongol mengepung Jayakatwang. Mereka kocar-kacir dan terjun ke Sungai Brantas. Lebih dari 5.000 pasukan mati terbunuh. Jayakatwang mundur ke istana bersama pengikutnya. Namun, dia berhasil dikepung. Sorenya, dia pun menyerah.

Setelah kemenangan itu, Raden Wijaya minta izin pulang ke Majapahit. Dia beralasan ingin menyiapkan upeti bagi kaisar. Dia pulang dengan dikawal dua perwira dan 200 prajurit. Yang terjadi berikutnya tak pernah diduga tentara Mongol. Raden Wijaya justru berbalik menyerang prajurit Mongol yang mengiringinya. Dia juga menyerang tentara Mongol yang berkemah di Daha dan Canggu yang tengah berpesta merayakan kemenangan. Mereka mundur ke laut dalam kejaran pasukan Majapahit.

Lagi-lagi, iklim Asia Tenggara rupanya tak pernah bersahabat bagi tentara Mongol. Setelah berhasil menyapu bersih tentara Jayakatwang, mereka tak kuasa bertahan menghadapi pasukan Raden Wijaya. Mereka hanya mampu tinggal selama empat bulan di Jawa. “Pada hakikatnya terik matahari daerah khatulistiwa yang mendorong Raden Wijaya mengusir tentara Tartar dari Jawa,” tulis Slamet Muljana.

Mongol kehilangan 3.000 prajurit. Panglimanya, Shin Bi dan Iki Mese dihukum. Mereka gagal menunaikan tugas. Sisanya kembali ke Tiongkok pada 24 April 1293. Dua tahun setelah Kertanegara dihabisi Jayakatwang, Khubilai Khan wafat pada 18 Februari 1294. Ambisinya akhirnya tak melulu terpenuhi. Kendati demikian, pasukan Mongol tak pulang dengan tangan kosong. Mereka membawa lebih dari 100 tawanan, peta, daftar penduduk, surat bertulis dari Bali, dan barang lainnya yang bernilai sekira 500 ribu tail perak.


Terima Kasih sudah membaca 😊 , Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu . Sekaligus LIKE fanspage  kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya 📌@Tahukah.Anda.Info   Membuka Mata Melihat Dunia 

📢  Sumber  





😉 Anda Sudah Membaca ✔️ Kegagalan Khubilai Khan di Jawa & Cara Penguasa Jawa Melawan Tiongkok

Artikel Terbaru Lainnya



Artikel Terkait Lainnya

________________________________

Asyik . Unik . Baik

Back to Top