Tidak Ada Jaminan Peristiwa Malari Tidak Akan Terulang Kembali


Artikel Terbaru Lainnya :



[ AyoJalanTerus.com ]  Peristiwa Malari atau Malapetaka Lima Belas Januari menjadi catatan penting bagi bangsa Indonesia tentang ekonomi dan juga investasi.

Peneliti dan juga Akademisi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro, Wijayanto menjelaskan tidak ada jaminan bahwa konflik serupa tidak akan kembali terjadi lagi.
“Jadi sebenarnya selama demokrasi secara substansial belum terpenuhi maka peluang konflik selalu terjadi,” ujarnya saat ditemui Kantor Berita Politik RMOL dalam seminar ‘Mendengar Suara Rakyat‘ yang di gelar di Usmar Ismail Hall, Kuningan, Jakarta , Rabu (15/1).

Wijayanto mengatakan, demonstrasi substansial itu parameternya adalah pemenuhan hak asasi atas ekonomi dan juga pemenuhan hak asasi politik.
Hak asasi ekonomi artinya hak setiap orang untuk hidup sejahtera secara layak. Bila menyimak kondisi saat ini, maka Wijayanto melihat ada represi di antara keduanya.
“Dengan ketimpangan ekonomi yang semakin melebar ini banyak orang yang kurang beruntung bisa menyebabkan letupan,” jelasnya.
“Represi ruang kebebasan untuk menyampaikan pendapat  juga bisa menjadikan letupan karena suara itu tidak didengar,” tandas Wijayanto.(kk/rmol)

15 Januari 1974: Mengenang Malari


 Peristiwa 15 Januari 1974 atau lebih dikenal sebagai Malari, merupakan peristiwa pertama gugatan terhadap kekuasaan Orde Baru.

Peristiwa yang berlangsung pada 46 tahun lalu ini adalah suatu gerakan demonstrasi mahasiswa yang berkembang menjadi kerusuhan sosial.

Pada saat itu ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi Jakarta turun ke jalan untuk menyampaikan kritik mengenai kebijakan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintahan Presiden Soeharto yang dianggap banyak kalangan terlalu berpihak kepada investasi dari asing.

Aksi dilakukan untuk menentang penanaman modal asing di Indonesia. Aksi demo ini dilakukan berbarengan dengan kedatangan Perdana Menteri Jepang, Kakuei Tanaka yang akan bertemu dengan Soeharto di Jakarta.

Pada awalnya aksi tersebut berjalan dengan damai, akan tetapi kemudian berkembang menjadi kerusuhan dengan perusakan sejumlah gedung dan kendaraan yang dianggap berbau Jepang.

Beberapa slogan protes mahasiswa yang dimotori Dewan Mahasiswa (Dema), terutama tokohnya Ketua Dema Universitas Indonesia (UI) Hariman Siregar, antara lain menolak modal asing dan strategi pembangunan salah arah.

Dema berbagai perguruan tinggi membulatkan tekad untuk melakukan apel di depan kampus Universitas Trisakti, Grogol. Kebulatan tuntutan yaitu menolak modal asing serta secara demonstratif dilakukan berbarengan dengan kunjungan PM Tanaka.

Dalam konteks modal asing dan pembangunan ekonomi, peristiwa Malari 1974 adalah sebuah percobaan dari kalangan mahasiswa. Sebelumnya, angkatan ’66 telah berhasil mendongkel kekuasaan Orde Lama dengan harapan mendatangkan perbaikan kehidupan bangsa.

Namun, harapan itu pun luruh seiring dengan kebijakan ekonomi Orde Baru yang condong kepada eksploitasi modal asing. Bahkan, sebelum secara resmi menjabat presiden, Soeharto telah meneken UU Penanaman Modal Asing (PMA) pada 1967, yang secara regulasi mengesahkan masuknya Freeport dan berbagai investasi asing lainnya.

Peristiwa itu kemudian berakhir tragis karena terjadi kerusuhan di sejumlah titik di Jakarta, terutama Pasar Senen.

Dalam kerusuhan yang berlangsung selama dua hari itu, 11 orang meninggal, 75 luka berat, ratusan mobil dan sepeda motor rusak, serta lebih dari 100 gedung atau bangunan hangus dibakar, serta 160 kg emas raib. Pertokoan dan perkantoran di Pasar Senen dan Harmoni juga dibakar dan dijarah oleh massa.



Terima Kasih sudah membaca 😊 , Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu . Sekaligus LIKE fanspage  kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya 📌@Tahukah.Anda.Info   Membuka Mata Melihat Dunia 

📢  Sumber  





😉 Anda Sudah Membaca ✔️ Tidak Ada Jaminan Peristiwa Malari Tidak Akan Terulang Kembali

Artikel Terbaru Lainnya



Artikel Terkait Lainnya

________________________________

Asyik . Unik . Baik

Back to Top