Sejarah Sebenarnya Hari Valentine, Bukan Kasih Sayang tapi Tragedi Penggal Kepala!






[ AyoJalanTerus.com ]  Hari Valentine selalu diperingati pada tanggal 14 Februari setiap tahunnya. Pada hari itu, selalu didentikkan dengan cinta, kasih sayang, mawar merah, puisi, hadiah dan coklat.








Tapi apa sejatinya sejarah Hari Valentine ini?
Berdasarkan berbagai literasi, disebutkan ada beberapa versi yang muncul.
Namun, versi tragedi berdarah lebih banyak dipercaya sebagai asal-muasal peringatan Hari Valentine.
Dikisahkan, di kerajaan Romawi pada 269 Masehi dalam masa kepemimpinan Kaisar Claudius, hidup seorang pendeta Kristen, yakni Santo Valentine.
Claudius sendiri dikenal sebagai kaisar kejam dengan ambisi memiliki angkatan perang yang besar.
Karena itu, sang kaisar mewajibkan seluruh pria untuk bergabung menjadi prajuritnya agar bisa menjadi penguasa dunia.
Sayangnya, rakyatnya menentang dengan alasan tak ingin terlibat perang dan meninggalkan istri atau kekasihnya.
Hal itu kemudian membuat Claudius marah besar dan membuat kebijakan pelarang pernikahan.
Santo Valentine saat itu menjadi yang paling menolak kebijakan tak masuk akal sang kaisar.
Sebagai pendeta, ia tetap menikahkan pasangan-pasangan kekasih menjadi suami-istri, meski dilakukan secara diam-diam.
Namun, hal itu diketahui Claudius yang akhirnya memberi Santo Valentine peringatan keras.




Akan tetapi, peringatan itu tak digubris sang pendeta. Hingga suatu malam, Santo Valentine tertangkap basah sedang menikahkan sepasang kekasih.
Beruntung, pasangan kekasih itu bisa melarikan diri. Tapi nahas, sang pendeta justru tertangkap dan dijebloskan ke dalam penjara.
Sebagai akibat menentang kaisar, Claudius menjatuhkan hukuman pancung kepada Santo Valentine.
Hari pemenggalan kepala sang pendeta itu, dipercaya terjadi tepat pada tanggal 14 Februari.
Kisah dan kematian Santo Valentine itu kemudian menyebar hingga ke seluruh penjuru Roma.
Cerita itu kemudian disampaikan secara turun-temurun dan dipercaya dari generasi ke genarasi.


14 Februari, Sejarah Kelam dan Legenda di Balik Hari Valentine, Dimulai dengan Kematian


AyoJalanTerus.com ]   Masih ada sebagian besar anak muda yang menganggap hari valentine atau hari kasih sayang adalah hari yang tepat untuk mengungkapkan perasaan, untuk memilih pasangan, untuk melakukan ritual romantis bareng pasangan dan lain sebagainya. 


Namun nyatanya, apa yang terjadi saat ini justru berbanding terbalik dengan apa yang terjadi dahulu kala. Beberapa sejarawan menelusuri asal-usul Hari Valentine di zaman Kekaisaran Romawi kuno. 

Pada masa itu, orang-orang memperingati tanggal 14 Februari sebagai hari libur guna menghormati Juno yang merupakan Ratu Mitologis Dewa-Dewi Romawi. Orang Romawi juga menganggap Juno sebagai Dewi Perkawinan. 




1. Dulu, perayaan valentine baru dimulai tanggal 15

Malah keesokan harinya, 15 Februari, diadakan sebuah perayaan bernama Festival Lupercalia yang umum disebut dengan festival kesuburan. Perayaannya sendiri sungguh beragam, ada yang mengatakan bahwa di perayaan ini semua wanita akan memasukan namanya ke dalam tempat dan akan dipilih oleh pria secara acak dan nama yang dipilih adalah jodohnya. 

Gampangnya, Lupercalia sendiri adalah momen untuk menyucikan kota dari roh jahat, melepaskan kesehatan dan mencegah kemandulan. Asal kata Lupercalia sendiri bukan dari bahasa Latin sehingga ini membuktikan bahwa festival ini lebih tua dari kekairasan Romawi sendiri.

Saat ini, tanggal 15 Februari justru sudah tidak ada lagi perayaan jenis apapun. Hanya tanggal 14-nya saja dirayakan sebagai hari kasih sayang yang diperingati dengan membagi kasih sayang dengan orang-orang terkasih.

Perkembangan zaman memang membawa begitu banyak perubahan. Apalagi ini bukan cuma tentang peringatan sebuah hari, tapi juga tradisi dan adat yang pastinya semua belahan bumi memiliki pandangannya masing-masing.


2. Kebingungan yang timbul karena sosok bernama Valentine

Sudah banyak perdebatan yang sebenarnya masih samar dan belum tahu mana yang benar tentang sosok yang namanya diperingati sebagai hari kasih sayang seluruh dunia ini. Legenda tersebut bermula dari tiga sosok bernama Valentine yang ketiganya meninggal dengan cara yang tidak lazim; Dipenggal, disiksa dan dieksekusi mati.

Mungkin yang tidak asing dari orang awam adalah cerita seorang pastor bernama Santo Valentino yang menikahkan pasangan muda yang saling mencintai secara diam-diam dan kemudian mati dengan cara dipenggal. Namun ada pula kedua sosok lain bernama Valentine yang juga mati tanggal 14 Februari dengan cara yang mengenaskan.

Saat ini, hal tersebut sudah tidak banyak lagi dibicarakan. Rata-rata orang hanya merayakan esensinya saja. Bahwa sebelum mereka mati, mereka telah menciptakan cinta itu sendiri di kehidupan orang di sekitarnya.

3. Perubahan pandangan orang tentang hari kasih sayang

Kalau dulu, pada zaman Romawi kuno, merayakan hari kasih sayang adalah guna membersihkan kota dari segala macam kesialan dan kutukan. Perayaannya juga disadari dengan pengingatkan kematian St. Valentine yang meninggal dengan tragis.

Namun saat ini sudah tidak seperti itu. Perkembangan zaman, budaya, agama dan tradisi menciptakan esensi yang berbeda di tiap belahan bumi. Kalau di Indonesia sendiri, hari kasih sayang adalah hari dimana kita bisa berbagi kasih dengan orang tercinta dengan memberikan hadiah. Tidak ada pengingat akan sejarah tertentu maupun ritual pembersihan kota.

Dilansir Idntimes, terlepas dari banyaknya legenda, sejarah, perayaan, tradisi yang ada tentang hari kasih sayang ini, kita tentu tidak bisa menebak mana yang paling bisa dianggap benar.


Sejarah Kelam Hari Valentine


Banyak remaja muslim tidak mengetahui bagaimanakah sejarah hari valentine. Karena ketidaktahuan dan cuma asal ikut-ikutan trend, juga supaya mau dikatakan gaul, akhirnya mereka pun merayakannya. Di antara mereka saling memberi kado, lebih-lebih pada orang yang dikasihi. Maka kita lihat coklat dan berbagai souvenir laris manis di hari tersebut. Bagaimanakah sebenarnya sejarah hari tersebut?

Cikal Bakal Hari Valentine

Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (The World Book Encyclopedia, 1998).

Versi lainnya menceritakan bahwa sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (mati sebagai pahlawan karena memperjuangkan kepercayaan), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis “Dari Valentinusmu”. (Sumber pembahasan di atas: http://id.wikipedia.org/ dan lain-lain)

Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan:

Valentine’s Day berasal dari upacara keagamaan Romawi Kuno yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan.

Upacara Romawi Kuno di atas akhirnya dirubah menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day atas inisiatif Paus Gelasius I. Jadi acara valentine menjadi ritual agama Nashrani yang dirubah peringatannya menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan matinya St. Valentine.
Hari valentine juga adalah hari penghormatan kepada tokoh nashrani yang dianggap sebagai pejuang dan pembela cinta.

Pada perkembangannya di zaman modern saat ini, perayaan valentine disamarkan dengan dihiasi nama “hari kasih sayang”.

Sungguh ironis memang kondisi remaja saat ini. Sebagian orang mungkin sudah mengetahui kenyataan sejarah di atas. Seolah-olah mereka menutup mata dan menyatakan boleh-boleh saja merayakan hari valentine yang cikal bakal sebenarnya adalah ritual paganisme. Sudah sepatutnya kaum muslimin berpikir, tidak sepantasnya mereka merayakan hari tersebut setelah jelas-jelas nyata bahwa ritual valentine adalah ritual non muslim bahkan bermula dari ritual paganisme. Bahkan secara tegas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Daud). Dalil ini sudah cukup sebagai alasan terlarangnya merayakan hari valentine, apa pun bentuk perayaannya. Baca pula artikel Memadu Kasih di Hari Valentine di web tercinta ini.

Wallahu waliyyut taufiq.





Terima Kasih sudah membaca 😊 , Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu . Sekaligus LIKE fanspage  kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya 📌@Tahukah.Anda.Info   Membuka Mata Melihat Dunia 

📢  Sumber  





Artikel Terkait Lainnya

Terdepan Mengabarkan !



Back to Top