Warga Medan Ramai ramai Demo Serukan "Save Babi", Ada Apa?






[ AyoJalanTerus.com ]  Wacana pemerintah Provinsi Sumatera Utara akan memusnahkan ternak babi warga memancing respons warga.

Aksi unjuk rasa massa, pasca maraknya virus demam babi dan flu afrika yang menyerang ternak babi.

Aksi massa berlangsung dari lapangan merdeka Medan, pada senin (10/02/2020), berlangsung dari kabupaten Deli Serdang, hingga ke kantor DPRD Provinsi Sumatera Utara.

Aksi yang diberi nama save babi ini mendesak pemerintah pusat dan provinsi, agar mencari solusi terbaik dalam mengatasi virus tanpa harus mengorbankan peternak hewan babi yang ada di provinsi Sumatera Utara.




Menurut peserta aksi, seharusnya pemerintah juga memikirkan dampak kerugian yang disebabkan proses pemusnahan ternak tersebut. Masyarakat meminta ganti rugi harus sesuai.

Selain itu, pemerintah juga harus menyiapkan vaksi virus demam babi tersebut tanpa harus membebankan peternak hewan babi.

Sebelumnya, ribuan ternak babi mati mendadak, dan bangkainya dibuang ke sejumlah sungai di Medan.

Setelah diteliti, sejumlah babi di 18 kabupaten di Sumatera Utara, terinveksi virus demam babi dan flu afrika.  Pemerintah pun akhirnya berencana akan melakukan pemusnahan dan memberikan vaksin.
Dikutip dari Harian Kompas, Minggu (26/1/2020), Kematian babi yang dilaporkan di sejumlah wilayah di Sumatera Utara sudah mencapai lebih dari 42.000 ekor.



Demo 'SAVE BABI' Terkait Virus ASF, Kok Malah Digoreng Jadi Soal 'SYARIAH/KEBHINEKAAN'?






Ribuan massa yang tergabung dalam gerakan aksi damai tolak pemusnahan babi menggelar unjuk rasa di depan kantor DPRD Sumut, Senin, 10 Februari 2020. Aksi bertajuk Gerakan #SaveBabi merupakan bentuk penolakan pemusnahan babi akibat wabah African Swine Fever (ASF) di Sumut.

"Save babi, save babi," teriak pengunjuk rasa Boasa Simanjuntak, saat berorasi, di depan DPRD Sumut, Kota Medan, Sumut, melansirAntara,Senin, 10 Februari 2020.

Dari atas mobil komando, Boasa berulang kali mengatakan babi merupakan sumber perekonomian. Pihaknya sangat menentang pemusnahan babi.


"Kami makan dari babi. Anak kami kuliah dari babi. Save babi, ibabi," ujarnya.

Massa membawa sejumlah atribut seperti ulos dan spanduk menolak rencana pemusnahan babi di Sumatera Utara. Pantauan Antara, massa masih bertahan di depan Gedung DPRD Sumut. Mereka juga mendapat pengawalan dari pihak kepolisian.

Kementan sebelumnya telah mengumumkan adanya kejadian penyakit ASF di Sumut melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) No. 820/Kpts/PK.32/M/12/2019 tentang Pernyataan Wabah Penyakit Demam Babi Afrika pada beberapa kabupaten/kota di
Provinsi Sumatera Utara pada 12 Desember 2019. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa penyebab utama kematian babi di Sumut disebabkan oleh ASF.




Penyakit ASF telah terjadi di 16 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional sampai minggu ke-2 Desember 2019, total kematian ternak babi yang terjadi di Sumut dilaporkan mencapai 28.136 ekor.

Sumber: https://www.medcom.id/nasional/daerah/MkMG6rxN-massa-savebabi-tolak-pemusnahan-babi

***

NAMUN... demo 'Save Babi' ini oleh para buzzer di media sosial malah digoreng dan dibelokan, dari persoalan sebenarnya wabah African Swine Fever (ASF), jadi persoalan masalah NKRI BERSYARIAH dan KEBHINEKAAN. Ingin membenturkan dan menyalahkan ISLAM. Padahal gak ada hubungannya.

"Wacananya tentang penanggulangan penyakit African Swine Fever dan Hog Cholera yg telah membuat babi' di Sumut mati. Kok bisa dispin jadi isu syariah dan kebinekaan? Apa motif melakukan spin kayak gini?" ujar @awemany.

[Video - Demo Save Babi di Sumut]




Terima Kasih sudah membaca 😊 , Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu . Sekaligus LIKE fanspage  kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya 📌@Tahukah.Anda.Info   Membuka Mata Melihat Dunia 

📢  Sumber  





Artikel Terkait Lainnya

Terdepan Mengabarkan !



Back to Top