Antisipasi Virus Corona di KRL, MRT, LRT, Busway, Taksi, Pesawat, dan Transportasi Publik Lainnya






[ AyoJalanTerus.com ]  KRL, MRT, LRT, dan TransJakarta adalah senjata bagi masyarakat ibu kota untuk bepergian. Setiap harinya, transportasi publik tersebut bisa mengantarkan jutaan orang ke tempat tujuannya.







Maka tak heran jika keempat transportasi massa ini penuh sesak, terutama di jam berangkat dan pulang kantor. Inilah yang menjadi kekhawatiran masyarakat Indonesia yang banyak memanfaatkan transportasi umum, terutama warga Jabodetabek.
Melihat betapa ramai dan penuhnya transportasi publik seperti KRL dan TransJakarta, risiko untuk tertular di sana tampak cukup tinggi. Ribuan orang memadati setiap pemberhentian dan kita tidak tahu apakah suara batuk dan bersin yang bersahutan itu mengandung COVID-19 atau tidak. 

1. Seberapa parahkah kemungkinan tertular di transportasi publik?


Lalu apakah benar bahwa transportasi publik berisiko tinggi untuk menjadi tempat penularan virus corona? Dilansir dari New York Times, Dr Stephen S Morse, profesor epidemiologi di Columbia University mengatakan, ada dua faktor yang menentukan risiko penularan di tempat publik, yaitu seberapa padat tempat itu dan berapa lama waktu yang kita habiskan di sana.



2. Ternyata risiko tertular di transportasi publik sama besarnya dengan di tempat lainnya


Iya, memang benar bahwa kita harus berdiri berdempetan di transportasi publik. Ini sudah memenuhi indikator pertama penularan virus. Padahal kita harusnya menjaga jarak minimal satu meter dengan orang yang terinfeksi virus corona. 

Namun di sisi lain, kita hanya menghabiskan waktu yang sebentar di kereta dan bus. Paling lama sekitar dua jam, kan? Durasi tersebut tidak sepadan jika dibandingkan dengan waktu yang kita habiskan di tempat publik lain seperti kantor, kampus, atau bahkan pasar. 
“Risikonya kemungkinan sama besarnya dengan tempat ramai lainnya, tapi waktu paparannya (di transportasi umum) lebih singkat,” jelas Dr Morse kepada New York Times. 
Berkaca dengan apa yang terjadi di New York (baru ada dua kasus, sama dengan Indonesia), kemungkinan untuk tertular virus di transportasi publik hanyalah empat persen. Angka tersebut didapatkan dari hasil studi J Urban Health. Sangat rendah jika dibandingkan dengan tempat lainnya. 

3. Ikuti cara pencegahan ini ketika berada di transportasi publik


Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk meminimalisasi risiko penularan saat berada di kereta dan bus yang penuh sesak? Berikut ini beberapa caranya:
  • Hindari mengeluarkan dan menggunakan HP ketika berada di transportasi umum karena ia dapat menangkap virus
  • Cuci tangan atau gunakan hand sanitizer setelah ke luar dari kereta dan bus
  • Hindari menyentuh wajah, mulut, hidung, dan mata selama perjalanan
  • Jika ada orang yang batuk atau bersin di sekitarmu, hindari sebisa mungkin
  • Jika kamu menggunakan masker, jangan sentuh bagian depannya agar virus tidak masuk
  • Batasi kontak dengan tiang dan handle grip, tapi jika tidak memungkinkan, langsung bersihkan tangan dengan hand sanitizer begitu kamu turun
  • Sebisa mungkin hindari pulang dan pergi saat rush hour
  • Jangan makan dan minum di dalam kereta dan bus
  • Selalu bawa tas dan barang-barangmu, hindari menaruhnya di lantai atau bagasi atas.



Merespons masalah ini, instansi transportasi publik ikut tergerak untuk mencegah penularan virus corona. Salah satunya adalah TransJakarta. Mereka menyediakan cairan desinfektan di setiap halte, jadi kamu bisa menggunakannya setelah turun dari bus.
Gak perlu parno atau bahkan menghindari transportasi publik. Yang jelas, kamu harus mengikuti cara pencegahan di atas dan menjaga tubuhmu tetap sehat. Itu adalah kunci untuk terhindar dari virus corona. 


Terima Kasih sudah membaca 😊 , Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu . Sekaligus LIKE fanspage  kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya 📌@Tahukah.Anda.Info   Membuka Mata Melihat Dunia 

📢  Sumber  





Artikel Terkait Lainnya

Terdepan Mengabarkan !



Back to Top