Ka'bah / Masjidil Haram Kosong Melompong itu Tanda Kiamat ? Ini Kata MUI




[ AyoJalanTerus.com ]   Upaya Pemerintah Arab Saudi mensterilkan kawasan Masjidil Haram membuat area di sekitar  Ka'bah kosong. Tapi, kondisi ini justru dikaitkan dengan tanda-tanda kiamat. 

Warganet mengungkapkan beragam reaksi melihat kondisi area tawaf di sekitar Ka'bah atau lebih dikenal dengan sebutan mataf yang kosong. Warganet khawatir kosongnya Ka'bah dari aktivitas tawaf merupakan tanda besar datangnya kiamat.






Dulu ga pernah percaya ketika dengar ceramahnya ustadz jika tanda² kiamat itu salah satunya adl tidak ada lg yg towaf mengelilingi Ka'bah di masjidil haram. Dulu ngebatin "ah masa sih Ka'bah sepi kayanya g mngkn deh" Sekarang... 😭 takut dong. https://twitter.com/queenmontok/status/1235732504809598977 


Menanggapi hal itu, Ketua Komisi Hukum MUI HM Baharun menjelaskan, Nabi Muhammad SAW memang pernah mengungkapkan tanda-tanda kiamat saat ditanya oleh Malaikat Jibril. Kisah ini tertulis dalam hadis sahih dari kitab Al-Arba'in  karya Imam An-Nawawi.

"Pertama harus diyakini bahwa tidak seorang pun, termasuk Nabi SAW sendiri yang mengetahui saat kiamat itu. Namun tanda-tandanya sudah dilukiskan dalam "Hadis Jibril", yaitu ketika Malaikat Jibril bertanya kepada Nabi tanda-tanda Kiamat," kata Baharun saat dikonfirmasi kumparan, Jumat (6/3).

"Dijawab oleh Rasul, pertama jika kelak ada 'budak melahirkan majikan', artinya anak yang dilahirkan jadi majikan orang tuanya (berbalik melawan orang tua), kedua jika ada orang miskin pengembala bertelanjang dada tanpa alas kaki tiba-tiba berlomba membangun gedung-gedung bertingkat (orang miskin kaya mendadak)," tutur dia.



Kedua tanda besar inilah yang menjadi pegangan utama dalam melihat tanda-tanda datangnya kiamat. Sedangkan untuk kondisi Ka'bah yang kosong, Baharun menilai, itu tidak masuk dalam tanda-tanda kiamat yang umum diungkapkan oleh para ulama.

"Adapun riwayat-riwayat tentang tanda 'Ka'bah yang sepi dari orang bertawaf', saya kira tidak masuk dalam hadis yang masyhur dan mutawatir ini," ujar dia.

Berbeda halnya bila kedua tanda besar itu muncul merata di seluruh dunia. Ditambah dengan tanda-tanda lainnya yang sangat spesifik misalnya turunnya Nabi Isa dan munculnya Imam Mahdi.

"Jika fenomena kedua tanda-tanda kiamat itu sudah merata, maka berdasar ini kiamat sudah dekat. Tanda-tanda lain juga ada selain dua tanda utama tadi. Yaitu turunnya Nabi Isa, kemunculan Imam Mahdi, serta keluarnya Ya'juj dan Ma'juj dan lain sebagainya tanda-tanda spesifik," jelas dia.

Untuk itu, Baharun meminta umat Islam tetap fokus dalam beribadah. Tidak perlu khawatir dengan beragam isu yang beredar.

"Saya kira umat Islam tetap saja harus istikamah dengan ibadah dan amal saleh masing-masing tanpa harus gusar dengan kehebohan isu, yang kadang dilebih-lebihkan itu," ucap dia.

Awalnya, pemerintah Arab Saudi melarang jemaah dari seluruh negara untuk melakukan umrah. Sebagian besar jemaah Indonesia yang sudah siap berangkat terpaksa batal berangkat karena kebijakan itu.

Sedangkan, jemaah yang sudah sampai di Arab Saudi, harus menjalani pemeriksaan kesehatan dasar untuk memastikan semua jemaah dalam keadaan sehat.

Tak lama kemudian, Arab Saudi menangguhkan ibadah umrah bagi warganya dan orang-orang yang berdomisili di Arab Saudi.

Saat ini, Pemerintah Arab Saudi memutuskan untuk membersihkan kawasan Masjidil Haram dan Masjid Nawabi lebih sering dari biasanya. Kawasan kedua masjid suci itu ditutup satu jam setelah salat Isya hingga satu jam sebelum salat Subuh.(kp)



Apa yang Akan Terjadi Jika Tidak Ada Manusia yang Thawaf Di Ka'bah?

Pasca diterbitkannya larangan perjalanan umroh oleh kerajaan Saudi, beberapa waktu lalu beredar video yang memperlihatkan kondisi tanah suci yang terlihat sepi dan tidak seperti biasanya. Berdasarkan video dan beberapa gambar hasil dokumentasi oleh netizen memperlihatkan suasana di Masjidil haram dan Nabawi sangat lengang. Meskipun akhirnya berita ini dibantah oleh salah seorang jama'ah asal Indonesia yang masih berada di Masjidil haram pada tanggal 2 Maret 2020. Bahwa kondisi masjidil haram masih ramai dan banyak jama'ahnya. Alhamdulillah.

Jika fenomena masjidil haram sepi dari muthawif (orang-orang yang thawaf) ini benar-benar terjadi, apakah ini menjadi pertanda semakin dekatnya hari qiyamat? Wallohu a'lam, yang jelas patut untuk menjadi bahan renungan salah satu hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang tanda-tanda akhir zaman adalah ketika ka'bah tidak ada lagi yang thawaf di sekelilingnya.

Dalam hadis yang disahihkan Ibnu Hibban, Rasulullah bersabda, perbanyaklah tawaf sebelum Ka’bah diangkat dari muka bumi. Bangunan yang disebut Rumah Allah ini pernah dirobohkan dua kali. Jika dirobohkan lagi, maka rumah tersebut akan diangkat.

Hujjatul Islam Imam al-Gazali dalam Ihya Ulumuddin menuliskan pengalaman seorang wali yang mengalami penyingkapan spiritual (kasyf). Wali tersebut menjelaskan, meskipun matahari terbenam, tetap saja ada kerumunan orang bertawaf. Di antara mereka ada orang-orang khusus yang disebut abdal. Hingga tibanya fajar, tetap saja ada orang bertawaf. Pasti ada awtad atau orang dari kelompok khusus yang mencapai kasyf mengelilingi Ka’bah.

Jika tak ada yang bertawaf, itu pertanda Ka’bah akan diangkat dari muka bumi. Kalau itu yang terjadi maka manusia akan bangun pada suatu hari dengan tak lagi melihat bekas apa pun yang ditinggalkan Ka’bah.

Hal itu akan terjadi apabila tak ada lagi yang tawaf selama tujuh tahun. Ketika itu Alquran akan diangkat dari mushafnya. Mereka yang membuka Kitab Suci tersebut hanya akan menemukan lembaran kosong. Tak ada satu huruf pun dalam lembaran Alquran.

Kitab yang dibawa Rasulullah itu akan terhapus dari hati setiap insan. Manusia akan kembali kepada syair, lagu, dan kisah jahiliyah. Dajjal kemudian muncul. Nabi Isa turun ke bumi untuk menghancurkannya. Setelah itu kiamat tiba tidak dalam waktu lama, seperti seorang perempuan hamil menunggu kelahiran anaknya.
Seorang sahabat Rasulullah mengatakan, Allah selalu melihat penghuni bumi. Yang pertama kali dilihat adalah penghuni Tanah Suci atau al-Haram, yaitu yang berada di Makkah, terutama mereka yang berada di Masjidil Haram. Barang siapa yang dilihat Allah sedang bertawaf maka orang tersebut mendapatkan ampunan. Jika Allah melihat manusia sedang shalat maka orang tersebut mendapatkan hal yang sama.


Al-Gazali menceritakan, tak ada kota lain yang istimewa seperti al-Haram. Di kota tersebut, orang yang baru berniat jahat saja sudah diancam dengan siksaan pedih dari Allah. Sebaliknya, mereka yang berniat baik, mendapatkan pahala berlimpah.

Seorang alim, Prof Mutawalli Sya’rawi, mengatakan, Makkah adalah kota dengan berbagai keutamaan. Muslim yang memahami kota tersebut sebagai tempat perjuangan Rasulullah berdakwah akan berdoa dengan tenang. Dalam bukunya Alhajj Almabrur dia mengatakan, mereka merenungkan betapa mulianya Rasulullah dan nabi sebelumnya mempertahankan agama Allah di sana.

Mereka tak hanya merasakan Makkah sebatas karya manusia, tapi juga tanah yang suci dari dosa dan perbuatan jahat, sehingga dianggap sebagai rumah Allah. Mereka berdoa dengan tulus, memohon ampunan Allah. Mereka merendahkan diri, bertaubat, merenungkan dosa yang telah diperbuat, hingga membuat air mata menetes. Kesombongan keluar berbarengan dengan air mata yang membasahi pipi.


Mutawalli mengatakan, selesai menangis, kemudian kembali ke kampung halaman, muslim yang baru saja mengunjungi Tanah Suci, akan kembali merindukan pengalamannya menangis di al-Haram. Pengalaman itu menjadi pengingat agar tak lagi melakukan dosa.

(Ditulis Oleh Erdy Nasrul)



Terima Kasih sudah membaca 😊 , Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu . Sekaligus LIKE fanspage  kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya 📌@Tahukah.Anda.Info   Membuka Mata Melihat Dunia 

📢  Sumber  





Artikel Terkait Lainnya

Terdepan Mengabarkan !



Back to Top