Abu-abu Kebijakan BBM , Jika Menolong Rakyat Kenapa Tidak Turunkan Saja Harga BBM ?






[ AyoJalanTerus.com ]  ABU-ABU KEBIJAKAN BBM, Menolong Rakyat atau Menolong Perusahaan Ojol? Kenapa Tidak Turunkan Saja Harga BBM?





ABU-ABU KEBIJAKAN

Menurut saya, kebijakan Pemerintah atau BUMN terkait pengemudi transportasi online semacam ini perlu segera diproblematisasi. Sebab, ada persoalan abu-abu di sini: apakah yang sedang dilakukan Pemerintah ini sebenarnya untuk menolong rakyat, ataukah untuk menolong perusahaan aplikasi transportasi online dari beban kewajiban sosial terhadap para mitranya?! Sebab, jangan lupa, sebagian pemegang saham perusahaan-perusahaan tersebut kini berada di pusat kekuasaan, atau memiliki kaitan dengan sejumlah pejabat yang 
sedang berkuasa.

Kalau memang ingin menolong rakyat, kenapa yang dapat cashback hanya pengemudi ojol? Kenapa pengemudi ojek pangkalan juga tak diberi hak yang sama? Kenapa sopir angkot tidak dikasih hal serupa? Bagaimana dengan sopir metromini? Atau sopir bajaj?


Sebenarnya, kalau Pemerintah mau menolong para pengemudi transportasi online, mereka seharusnya bisa membuat regulasi yang meminta agar perusahaan-perusahaan penyedia jasa aplikasi ikut meringankan beban para mitranya, melalui penghapusan potongan, pemberian CSR, atau sejenisnya. Jadi, bukan melalui kebijakan abu-abu seperti di atas.

Bukankah perusahaan-perusahaan itu kategorinya sudah unicorn dan decacorn, sebagaimana sering dipuji-puji Pak Jokowi saat kampanye Pilpres kemarin?! Artinya, bukan perusahaan receh kan?!

Oya, Pak Basuki, kapan ya Pertamina akan menurunkan harga BBM? Harga minyak mentah sudah anjlok tuh. Atau, kerja komisaris kini hanya seperti jubir sajakah?!

📢  Sumber  By Tarli Nugroho  [fb]


Imbas Minyak Dunia Turun Malaysia Jual Pertamax Rp4.500, Apa Kabar Negara +62 ? 


 Jakarta - Mantan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini menilai penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi suatu hal paling mendesak yang harus dilakukan pemerintah pada saat ini. 


Imbas Minyak Dunia Turun Malaysia Jual Pertamax Rp4.500, Rudi Rubiandini: Harga yang Pantas Diterima Masyarakat Sebesar Rp5.500 per Liter





Menurutnya, penyesuaian harga BBM naik ataupun turun harus mengikuti kesepakatan awal yang telah berjalan yaitu setiap periode dua minggu sekali, sehingga tidak menghilangkan kepercayaan konsumen dalam hal ini masyarakat pada pemerintah, yang selama ini dilakukan pada tanggal 1 atau 15.

"Apalagi sekarang sudah harusnya turun sejak sebulan lalu, sehingga kewajiban menurunkan harga BBM sudah sangat mendesak," kata Rudi Rubiandini melalui keterangan tertulisnya kepada Industry.co.id, Minggu (12/4/2020).

Namun, lanjut Rudi, pemerintah harus bijak menyikapi nilai jual-nya kepada masyarakat, di satu sisi jangan sampai ada kesan mengeksploitasi masyarakat dengan memberi harga terlalu tinggi jauh dari nilai keekonomian.

"Tapi jangan juga terlalu rendah sehingga membutuhkan subsidi yang tinggi dari pemerintah," terang Mantan Wamen ESDM di era SBY ini.

Dijelaskan Rudi, bila menggunakan parameter baru yang sedang terjadi yaitu USD senilai Rp16.000 dan harga minyak USD 35/barrel, maka harga minyak mentah setara Rp3.500, ditambah biaya pengolahan, transportasi, dan Ppn maka bisa menjadi Rp4.500.

"Bila ditambah keuntungan Pertamina 10%, maka akan menjadi seharga Rp5.000," jelas Rudi.

Selanjutnya untuk menjaga kelangsungan tugas Pertamina menjaga satu harga sampai ke pelosok ditambah menutupi penurunan pendapatan di sisi hulu maka masih pantas ditambah lagi dengan nilai Rp500 - 1.000 per liter BBM.

"Artinya, harga yang dijual ke masyarakat Rp5.500 - 6.000 adalah harga yang sudah memasukkan segala macam aspek sehingga Pertamina mendapat perlindungan dan masyarakat juga membeli dengan harha yang wajar dan masih terjangkau," terangnya.




Sebagai perbandingan, saat ini di negara tetangga Malaysia harga Ron 95 (Pertamax) adalah 1,25 Ringgit atau setara dengan Rp4.500 per liter.

"Jadi wajar kalau di Indonesia dijual dengan harga Rp5.500," ungkapnya.

"Jangan sampai anugerah harga minyak dunia turun tidak dirasakan dan dinikmati masyarakat Indonesia, tetapi hanya dinikmati oleh pemerintah dan BUMN saja," tutup Rudi.



Tak Turunkan BBM, Ahok Hanya Beri Cashback untuk 10.000 Ojol Pertama yang Daftar Pakai Aplikasi


Pemerintah hingga kini masih bergeming terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) tanah air meski harga minyak dunia terjun bebas di angka 33 dolar AS per barel hingga 24 dolar AS per barel.

Alih-alih menurunkan harga, PT Pertamina justru hanya memberikan promo terbatas.
Hal itu disampaikan oleh Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahaja Purnama di akun Twitter pribadinya, Senin (13/4). Ia menjelaskan, diskon BBM hanya berlaku untuk pengemudi ojek online dengan beberapa syarat.

"Untuk sobat rider ojek online, dapatkan cashback 50% maksimal Rp 15.000 bagi 10.000 pengendara ojek online perhari," kata Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Nantinya, cashback tersebut berlaku untuk pembelian BBM jenis Pertalite, Pertamax dan Pertamax Turbo dengan syarat harus menggunakan aplikasi milik Pertamina, yakni MyPertamina.




Hal itu disampaikan oleh Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahaja Purnama di akun Twitter pribadinya, Senin (13/4). Ia menjelaskan, diskon BBM hanya berlaku untuk pengemudi ojek online dengan beberapa syarat.

"Untuk sobat rider ojek online, dapatkan cashback 50% maksimal Rp 15.000 bagi 10.000 pengendara ojek online perhari," kata Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Nantinya, cashback tersebut berlaku untuk pembelian BBM jenis Pertalite, Pertamax dan Pertamax Turbo dengan syarat harus menggunakan aplikasi milik Pertamina, yakni MyPertamina.

"Promo berlaku pada periode 14 April-12 Juli 2020," tutup Ahok. (rmol)


Minyak Dunia Turun Tapi Harga BBM Tetap


Harga minyak dunia tengah terjun bebas akibat pandemik Covid-19. Harganya berkisar di angka 33 dolar AS per barel hingga 24 dolar AS per barel.

Peristiwa ini seharusnya membuat pemerintah untuk menurunkan harga minyak nasional, sesuai dengan harga pasaran dunia.

Begitu kata Direktur Institute Development Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Senin (13/4).

“Seharusnya harga BBM kita sudah turun, kan tiga bulan sekali ditinjau ulang. Jadi harus turun mengikuti perkembangan pasar. Kementerian ESDM juga seharusnya sudah melakukan evaluasi dan mengikuti perkembangan pasar,” ujarnya.

Tauhid mengatakan selama ini harga minyak selalu mengikuti perkembangan pasar. Pasalnya, minyak Indonesia ada yang dari impor, sehingga seharusnya pemerintah melakukan penurunan harga sesuai dengan pasar global.

“Harusnya turun harga, karena patokannya di pasar global. Ini belum turun,” tekannya.


“Ini tidak fair. Pemerintah tidak konsisten dalam penetapan harga BBM. Ini sudah lewat tiga bulan, Maret. April ya harus sudah turun, kalau naik lagi ya disesuaikan,” demikian Tauhid. [RMOL]



📢  Sumber Industry.co.id








Artikel Terkait Lainnya

Terdepan Mengabarkan !



Back to Top