Calon Ibukota Rawan Tsunami & Longsor Bawah Laut, Saiful Anam: Kenapa Ngotot Sekali Ingin Pindah ?




[ AyoJalanTerus.com ]  Presiden Joko Widodo seharusnya mengurungkan niat untuk melanjutkan proyek pemindahan ibukota baru. Hal ini seiring adanya penelitian bahwa calon ibukota baru di Kalimantan Timur rentan dilanda tsunami yang dipicu longsor bawah laut.

Pakar politik dan hukum Universitas Nasional Jakarta (Unas), Saiful Anam mengaku heran dengan kengototan pemerintah untuk memindahkan ibukota. Apalagi, proses pemindahan tidak ditunda sekalipun negeri sedang diserang wabah Covid-19.

"Saya kira ini menjadi pertanyaan besar, ada apa kok ngotot sekali ingin memindahkan Ibukota? Apalagi di tengah rakyat membutuhkan uluran tangan untuk mengatasi Covid-19. Pemerintah justru masih ingin mengambil langkah melakukan pinjaman lagi," ujarnya, Senin (27/4).

Saiful Anam mendesak agar Presiden Jokowi untuk segera membatalkan proyek ibukota baru. Apalagi, alasan pembatalan semakin kuat setelah adanya penelitian dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang menyatakan bahwa lokasi calon ibukota baru tidak bebas dari ancaman tsunami.

“Ingat, rakyat hari ini juga bukan minta ibukota pindah, tapi bagaimana penanganan Covid-19 benar-benar tertangani dengan benar,” tegas Saiful. [rmol]






Ilmuwan Inggris Sebut Lokasi Ibu Kota Baru Indonesia Rawan Tsunami


 Sekelompok ilmuwan Inggris dan Indonesia menyatakan, bahwa ada potensi risiko tsunami di wilayah yang dipilih Pemerintah Indonesia sebagai calon ibu kota baru.

Para peneliti tersebut menemukan, bahwa tanah longsor bawah laut pernah beberapa kali terjadi di Selat Makassar, antara pulau Kalimantan dan Sulawesi.

Jika kejadian tanah longsor yang paling besar terulang hari ini, tsunami akan muncul yang bisa membanjiri Teluk Balikpapan daerah yang dekat dengan calon ibu kota.

Kendati adanya temuan tersbeut, para tim peneliti yang terdiri dari ilmuwan Inggris dan Indonesia meminta untuk tidak bereaksi berlebihan.

“Masih banyak pekerjaan yang harus kami lakukan untuk menilai situasi ini dengan tepat. Namun demikian, ini adalah sesuatu yang mungkin harus dipertimbangkan sebagai risiko oleh pemerintah Indonesia meskipun kita hanya membicarakan peristiwa frekuensi rendah, dampak tinggi,” kata Dr. Uisdean Nicholson dari Heriot-Watt University, Inggris, Kamis (2/4).

Tim penelitiannya menggunakan data seismik untuk menyelidiki sedimen dan strukturnya di dasar laut Makassar. Survei tersebut mengungkap 19 zona di sepanjang selat tempat lumpur, pasir, dan lanau jatuh ke lereng yang lebih dalam.

Beberapa peristiwa longsor ini melibatkan material sebanyak ratusan kilometer kubik volume yang sangat mampu mengganggu kolom air, dan menghasilkan gelombang besar di permukaan laut.

“Tanah longsor ini atau yang kami sebut Mass-Transport Deposits (MTD) cukup mudah dikenali dalam data seismik,” jelas Dr. Rachel Brackenridge dari Universitas Aberdeen, peneliti utama di makalah yang memaparkan penelitian ini kepada BBC News.

“Tanah longsor tersebut berbentuk lengkungan dan sedimen di dalamnya kaotis; bukan lapisan datar, teratur, dan rata yang Anda harapkan. Saya memetakan 19 peristiwa, tetapi itu dibatasi oleh resolusi data. Akan ada kejadian lainnya, yang terlalu kecil untuk saya lihat,” sambungnya.

Semua MTD berada di sisi barat kanal dalam (3000m) yang melintasi Selat Makassar. Dan mereka juga sebagian besar berada di sebelah selatan delta Sungai Mahakam di Pulau Kalimantan, yang mengeluarkan sekitar 8 juta meter kubik sedimen setiap tahun.

Tim peneliti menduga material ini terbawa oleh arus di selat dan kemudian tertimbun di perbatasan dasar laut yang lebih dangkal dengan dasar laut yang lebih dalam.

Sedimen yang menumpuk dari waktu ke waktu akhirnya roboh, barangkali dipicu oleh guncangan gempa bumi setempat, hal yang lazim di Indonesia.

Hal yang belum diketahui tim peneliti saat ini ialah kapan tepatnya longsor bawah laut ini terjadi. Estimasi terbaik para peneliti adalah dalam periode geologi saat ini jadi, dalam 2,6 juta tahun terakhir.

Sampel batuan yang diekstraksi dari MTD bisa lebih memastikan usia mereka dan frekuensi kerobohan lereng dan para ilmuwan sedang mencari pendanaan untuk melakukan ini.

Tim juga berencana mengunjungi daerah pesisir Kalimantan untuk mencari bukti fisik dari tsunami purba ini dan membuat pemodelan jenis gelombang yang bisa mengenai garis pantai.

“Penelitian ini memperkaya pengetahuan komunitas geologi dan geofisika Indonesia akan bahaya sedimentasi dan tanah longsor di Selat Makassar. Masa depan penelitian ilmu bumi adalah menggunakan pendekatan terintegrasi dan multi-disiplin dengan kolaborasi internasional,” kata Ben Sapiie, dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Profesor Dan Parsons adalah direktur Institut Energi dan Lingkungan di Universitas Hull, Inggris. Kelompoknya juga mempelajari tanah longsor bawah laut di seluruh dunia.

“Yang menarik di sini ialah bagaimana sedimen ini sedang tertimbun kembali dan menumpuk dari waktu ke waktu di Selat Makassar oleh arus laut,” katanya.

“Sedimen ini menumpuk dan kemudian roboh ketika menjadi tidak stabil. Kuncinya kemudian ialah mengidentifikasi titik kritis, atau pemicu, yang menyebabkan longsor. Kami melakukan penelitian serupa pada fjord, mengeksplorasi beberapa pemicu dan magnitudo dan frekuensi longsor yang bisa terjadi.

“Peristiwa longsor terbesar dan tsunami terbesar kemungkinan bakal terjadi ketika laju pengiriman sedimen sangat tinggi tapi pemicunya jarang terjadi, sehingga ketika terjadi longsor volumenya sangat besar.”

Indonesia mengalami dua peristiwa tsunami yang disebabkan tanah longsor pada tahun 2018 ketika sisi gunung berapi Anak Krakatau runtuh dan ketika gempa memicu tanah longsor di Teluk Palu, Sulawesi.




Waspada! Calon Ibu Kota Negara Rentan Tsunami dan Longsor Bawah Laut


Calon Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan Timur diduga rentan dilanda smong dari sumber longsor bawah laut. Smong merupakan istilah tradisional masyarakat di Pulau Simeulue, Aceh, untuk menyebut sebuah gelombang laut besar yang melanda setelah sebuah gempa bumi menghantam.

Hal tersebut merupakan hasil penelitian Widjo Kongko, ahli tsunami dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Ia pun menyebut smong pernah terjadi beberapa waktu lalu, yakni saat tsunami di Palu dan Krakatau.

Peneliti senior BPPT ini menambahkan bahwa dengan volume ~4 juta meter kubik (m3) bisa menimbulkan smong setinggi lebih dari 15 meter (m) seperti di Papua Nugini pada 1998.

“Kami pernah sampaikan tahun lalu. Kaji detil perlu untuk siapkan PRB-nya,” kata Widjo Kongko dalam cuitannya soal perlunya upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB) bagi calon IKN berkaitan dengan hasil kajian tersebut, Jumat 24 April 2020.

Menurut dia, smong dari sumber longsor di Indonesia kejadiannya lebih banyak dari yang diperkirakan semula. Meski demikian, Widjo mengatakan kajian soal longsor bawah laut yang mengakibatkan smong di Indonesia tidak banyak.

Di wilayah barat Indonesia, dari survei batimetri detil cacat-parut bekas longsor bawah laut menjadi kajian kolega peneliti di Potsdam. Sementara di Indonesia tengah dan timur, atau Laut Banda, suspek longsor bawah laut lebih banyak lagi.

Smong longsor bawah laut bisa sangat tinggi, lebih dari 50 m atau 100 m, ujar dia. Cuitan awal Widjo terkait potensi smong di calon IKN tersebut mengomentari berita yang dilansir BBC News berjudul Tsunami risk identified near future Indonesian capital pada Rabu 22 April 2020.

Tim peneliti Inggris dan Indonesia menggunakan data seismik untuk menginvestigasi sendimen dan struktur bawah Laut Makassar, mereka memetakan bukti longsoran-longsoran bawah laut purba di Selat Makassar antara Pulau Kalimatan dan Sulawesi.

Dari kajian awal memang jika ada longsoran bawah laut besar terulang saat ini, itu akan memicu tsunami yang mampu menggenangi Teluk Balikpapan, sebuah area dekat dengan Ibu Kota Negara yang diusulkan.

Namun demikian tim peneliti internasional itu sangat berhati-hati terhadap reaksi yang berlebihan, mereka masih harus banyak melakukan penilaian terhadap kondisinya dengan tepat.

Sebagai catatan, ada sejumlah tsunami yang menghancurkan di Indonesia dalam 15 tahun terkahir, dipicu oleh berbagai mekanisme. Gempa Megathrust dan tsunami di lepas pantai Sumatera di 2004 menelan korban 220.000 jiwa di sepanjang wilayah Samudera Hindia, 165.000 korban tersebut ada di Sumatera menjadikan bencana alam terburuk dalam 100 tahun terakhir.

Lalu mekanisme tsunami Palu pada 28 September 2018 masih belum pasti namun kemungkinan dihasil dari kombinasi gempa bumi besar dari seafloor rupture dan longsor bawah laut. Dua gelombang, tercatat dengan ketinggian maksimal lebih dari 10 m terjadi, 4000 korban jiwa karena sapuan gelombang tsunami dan likuefaksi akibat goncangan sesmik.

Dan pada Desember 2018, bencana alam tersebut diikuti oleh tsunami Anak Krakatau, di mana sayap gunung runtuh yang kemungkinan dipicu oleh erupsi gunung berapi tersebut dan menghasilkan tsunami yang menelan korban sekitar 400 jiwa di pesisir Jawa dan Sumatera.

Sebelumnya publikasi ilmiah spesial berjudul Indonesian Throughflow as a preconditioning mechanism for submarine landslides in the Makassar Strait milik Rachel E Brackenridge, Uisdean Nicholson, Benyamin Sapiie, Dorrik Stow dan Dave R Tappin diterbitkan Geological Society pada 1 April 2020.

Mereka menjelaskan perihal peran penting Selat Makassar sebagai pintu gerbang utama Arus Laut Indonesia (Indonesian Throughflow) yang mengangkut air dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia.

Penelitian tersebut baru-baru ini mengidentifikasi pemindahan massal sejumlah deposit dari bagian Cekungan Pleistosen Utara Makassar dari yang moderat lebih dari 10 km3 sampai dengan yang raksasa lebih dari 650 km3. Mayoritas longsor bawah laut yang membentuk deposit berasal dari pro-delta Mahakam, dengan arah condong ke selatan.

Brackenridge dan rekan-rekannya mengatakan melihat dengan jelas bukti dari erosi arus laut, terjadi transpor lateral dan deposisi kontur di sepanjang lereng bagian atas. Itu menunjukkan Arus Laut Indonesia bertindak sebagai sabuk konveyor lembah yang panjang, mengangkut sendimen ke selatan delta, di mana laju sendimentasi menjadi cepat dan hasilnya lereng kemiringan semakin curam dari longsor bawah laut yang berulang.

Karena itu, daerah tersebut berpotensi rawan tsunami yang ditimbulkan oleh tanah longsor bawah laut. Kembali Brackenridge menjelaskan telah mengidentifikasi perbedaan antara fault rupture yang bersejarah memicu tsunami (berlokasi sepanjang zona patahan Palu-Koro) dan distribusi dari deposit yang terpindahkan secara besar di bawah permukaan.

Jika identifikasi runtuhan besar baru tersebut tsunamigenik, mereka bisa saja merepresentasikan bahaya yang sebelumnya terabaikan di wilayah tersebut. Selat Makassar membentuk jalur laut dalam yang memisahkan Kalimantan dari Sulawesi. Dengan lebar dari 100 km hingga 200 km dan panjang hingga 600 km.

Sementara Cekungan Makassar Utara memiliki panjang 340 km dan lebar 100 km dengan kedalaman 200 hingga 2000 m, dan Cekungan Makassar Selatan menunjukkan kedalaman sama dengan panjang 300 km dan lebar 100 km.

Sedangkan dasar cekungan lincir, tidak ada bukti gangguan tektonik. Pemetaan seismik di lereng depan Delta Mahakam menunjukkan sejumlah besar fitur pengendapan air dalam, termasuk saluran turbidit, tanggul dan bentang serta deposit besar yang terpindahkan.

Berdasarkan studi analog deposit besar yang terpindahkan di tempat lain, kemungkinan longsor bawah laut yang menghasilkan endapan yang dipetakan adalah tsunamigenik. Gelombang yang dihasilkan dari longsor bawah laut yang dipetakan dalam penelitian itu dapat berdampak pada garis pantai Sulawesi dan Kalimantan di wilayah yang sebelumnya tidak terpengaruh oleh peristiwa sejarah.

Karena itu, penting untuk memahami mekanisme pemicu peristiwa ini dan bahayanya. Pekerjaan di masa depan akan bertujuan untuk membatasi penelitian pada frekuensi longsoran bawah laut yang memicu tsunami, dan peran iklim dan permukaan laut sebagai pemicu longsor bawah laut.

Brackenridge dan rekan penelitinya mengusulkan pemodelan gelombang tsunami diperlukan untuk menguji skenario kegagalan kemiringan dan mengidentifikasi wilayah pesisir dengan risiko tertinggi.










Artikel Terkait Lainnya

Terdepan Mengabarkan !



Back to Top