Nasihat Penyejuk Jiwa di Bulan Ramadhan, Oleh Syaikh Aidh Al-Qarni






[ AyoJalanTerus.com ]  Selamat Datang Ramadhan - Oleh Syaikh Aidh Al-Qarni

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berfirman,
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu.
Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.
Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (beberapahar yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembela (antaara yang hak dan yang batil).
Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapan sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Al-Baqarah: 183-185)


Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah yang telah bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“barangsiapa yang shaum Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosannya yang telah lalu.”[1]
Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang haq slain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Sebuah kesaksian (syahadat) yang menjadi simpanan bagi kita semua dalam menghadapi hari diperlihatkannya semua catatan amal (yaumil ‘ardh) kepada Allah, pada hari yang tidak bermanfaat lagi harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang menghadap Allah hati yang bersih.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi-Mu, keluarga nabi-Mu, para sahabat dan kepada siapa saja yang berjalan di atas manhajnya sampai hari pembalasan, begitu juga turunkanlah kami bersama mereka, dengan karunia dan kemuliaan-Mu wahai Zat yang Mahamulia.
Amma ba’d, pembaca yang budiman,telah singglah kepada kalian tamu yang mulia dan bulan yang agung. Pada bulan itu, Allah mengampuni dosa-dosa, dan memaafkan kesalahan-kesalahan serta membebaskan leher-leher (dari jerat neraka).
Selamat, selamat datang puasa
Wahai kekasih yang menhampiri kami setiap tahun
Kami sambut engkau dengan sepenuh cinta
Setiap cinta kepada selain Yang Mahamulia tertolak
Maka ampunilah dosa-dosa kami, ya Allah
Lalu, tambahkanlah kepada kami karunia-Mu yang muruah
Jangan siksa kami, karena kami telah tersiksa
(oleh) keterjagaan kami di kegelapan malam
Selamat datang wahai Ramadhan, engkau kembali datang setelah penantian slama setahun penuh. Pada tahun ini, telah meninggal sekian orang dan telah lahir sekian bayi; sebagian orang menjadi kaya, sebagian lainnya menjadi miskin; sebagian orang bahagia sementara sebagian lainnya celaka; dan sebagian orang mendapat petunjuk dan sebagian lainnya tersesat.
Engkau datang kepada kami setelah kami memenuhi waktu setahun lalu dengan kebaikan ataupun kejahatan. Itu semua akan diperlihatkan kepada kami dalam lembaran-lembaran catatan, pada hari diperlihatkan catatan amal dihadapan Allah.
 وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَى كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُمْ مَا خَوَّلْنَاكُمْ وَرَاءَ ظُهُورِكُمْ وَمَا نَرَى مَعَكُمْ شُفَعَاءَكُمُ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَاءُ لَقَدْ تَقَطَّعَ بَيْنَكُمْ وَضَلَّ عَنْكُمْ مَا كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ
“Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan tinggalkan di belakang kamu (di dunia) apa yang telah kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafaat yang kamu angap bahwa mereka itu sekutu-sekutu tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap darimu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).” (Al-An’am: 94).
 وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا
اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا
“Dan tiap-tiap manusia itu telah kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. Bacalah kitabmu, sukupkanlah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisap terhadapmu.” (Al-Isra’: 13-14)
Wahai Ramadhan, engkau datang untuk berkata kepada mata agar berpuasa dari melihat hal-hal yang haram, sebelum sang Raja yang Maha Mengetahui muraka dan sebelum dinyalakan api teramat panas. Selain itu, engkau juga berkata agar mata berpuasa dari memandang yang haram; dan memerintahkannya untuk menangis di tengah kegelapan malam.
Engkau juga berkata kepada lisan, “Wahai lisan, berpuasalah dari ghibah(membicarakan orang lain) dan namimah (mengadu domba); kata-kata keji dan kotor; begitu juga dari ungkapan-ungkapan cabul dan senda gurau.”
Lisanmu! Jangan sebut dengannya rahasia orang lain
Setiap kalian juga punya rahasia, sedang manusia punya lidah
Jagalah matamu! Jika ia memperlihatkan kepadamu aib suatu kaum.
Maka katakalah wahai mata, orang lain juga punya mata
Engkau datang wahai Ramadhan, untuk berkata kepada tangan, “Wahai tangan, tahanlah dirimu dari menumpahkan darah dan membunuh jiwa-jiwa yang tidak bersalah; hentikanlah pembunuhan terhadap para wanita dan orang-orang tua; jangan pula menghancurkan rumah-rumah di atas kepala-kepala manusia.
Wahai tangan, berpuasalah dari memukul, membunuh, mencuri dan korupsi. Berpuasalah dari perbuatan riswah (suap-menyuap) sebelum datang suatu hari nanti, engkau direbus dalam keadaan terbelenggu, yakni pada hari dimana tidak bermanfaat lagi alasan yang dikemukakan oleh orang-orang zhalim, bagi mereka laknat dan tempat kembali yang buruk.”
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (Yasin: 65)
Engkau datang wahai Ramadhan, unruk berkata kepada kaki, “Wahai kaki, berpuasalah dari berjalan menuju yang haram, juga berpuasalah dari berjalan menuju tempat-tempat kemaksiatan lagi kesesatan dan dari pulang-pergi dalam kemurkaan rabb langit dan bumi, dari jalan-jalan yang tercela, rendah sera hina!.”
Wahai Ramadhan, engkau pun datang untuk berkata kepada perut agar berpuasa dari makanan barang yang haram, karena badan yang diberi makanan haram, neraka lebih pantas baginya.
Engkau berkata kepadanya, “Wahai perut, berpuasalah dari memakan yang haram dan hasil penipuan, sebelum engkau bertemu Allah Yang Maha Mengetahui segala rahasia dan apa yang tersembunyi.”
Al- Bukhari dan Musli meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Bahwa ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits qudsi bahwa Allah berfirman:
كُلُّ عَمِلَ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلا الصِّياََمُ، فَإِنَّهُ لِي، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي
“Semua amal bani Adam adalah untuknya sendiri kecuali shaum, sesungguhnya ia untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya: Ia tinggalkan makanan, minuman dan syahwatnya hanya karena Aku.”
Pembaca yang budiman, shaum (puasa) adalah perisai, apabila salah seorang di antara kita shaum janganlah berkata keji ataupun keras, jika ada orang yang mengajaknya bertengkar atau mencacinya, hendaknya ia berkata, (إِنِّيْ صَائِمٌ) “Aku sedang berpuasa.”
Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang berpuasa itu lebih wangi di sisi Allah daripada wanginya misk. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kegembiraan, jika berbuka, ia gembira dengan hidangan berbukanya; dan jika bertemu Rabb-nya, ia bergembira dengan puasanya.
Adapun firman Allah Ta’ala:
كُلُّ عَمِلَ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلا الصِّياََمُ، فَإِنَّهُ لِي، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Seluruh amal bani Adam adalah untuknya sendiri kecuali shaum, karena sesungguhnya shaum untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
Maknanya, puasa adalah rahasia antara hamba dan Allah karena tidak ada yang tau jika Anda berpuasa kecuali Allah. Bisa saja Anda makan ketika tak ada satu orang pun yang melihatnya, akan tetapi Rabb manusia pasti melihat Anda; bisa saja Anda meminum seteguk air ketika tak ada orang yang melihat, akan tetapi Rabb manusia pasti melihat Anda kerjakan.
Oleh karena itu, Allah mengkhususkan puasa bagi diri-Nya, dengan berkata, “Semua amal Bani Adam adalah untuk dirinya sendiri.” Maksudnya, antara Allah dan dirinya; dan antara dirinya dan manusia lainnya.
Berbagai bentuk amal seseorang bisa saja tersebar dan diketahui orang lain kecuali puasa (shaum). Sesungguhnya shaum adalah salah satu rahasia Allah. Ia akan membuka rahasia tersebut saat si pelaku shaum menghadap-Nya, yakni pada hari kiamat untuk menerima ganjaran dari Allah.
Seakan-akan Ia berfirman, “Apabila ia jujur pada –Ku niscaya akan Aku ganti rasa haus itu dengan meminum air dari telaga yang mengalir, pada saat manusia dalam kehausan, putus asa, dan kepayahan. Barangsiapa merasakan lapar di dunia, akan Ku-kenyangkan ia dengan buah-buahan dari surga, pada hari orang-orang yang kelaparan datang ke pintu-pintu surga.
Sekali lagi, puasa hanyalah untuk Allah yang Esa lagi Perkasa, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, puasa adalah separuh kesabaran.[2] Sungguh, orang-orang yang sabar, akan mendapatkan pahala tanpa dihisab.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah mengumpulkan semua manusia di padang yang luas, mereka dapat mendengarkan panggilan penyeru, dan pandangan mata dapat meliputi mereka semua, lalu Allah berfirman setelah selesai menghisab manusia, ‘Masuklah ke Jannah!’ Maka, di antara mereka ada yang masuk ke dalam jannah dan ada pula yang masuk ke dalam neraka.”
Tinggallah suatu kaum dalam penantian dan belum dihisab, lantar mereka bertanya, ‘Wahai Rabb kami, Engkau meninggalkan kami (tidak dihisab)?’ lalu Allah berfirman, ‘Masuklah ke dalam Jannah!’ Kemudian mereka bertanya heran, ‘Tidak adakah hisab bagi kami?’ Allah berfirman, ‘Masuklah ke dalam Jannah!’ Kemudian mereka bertanya heran, ‘Tidak adakah hisab bagi kami?’ Allah berfirman, ‘Tidak, Aku telah menghisab kalian sewaktu di dunia dengan berbagai bentuk musibah, bencana, dan malapetaka’.”
Atau sebagaimana firman-Nya Ta’ala, “Masuklah kalian ke dalam Jannah, sehingga orang-orang yang sehat (sewaktu di dunia) berangan-angan sekiranya mereka (di dunia) dahulu dipotong-potong dengan gunting.”
Adapun firman Allah Ta’ala,
يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي
Ia tinggalkan makan, minum dan syahwatnya hanya karena Aku.”
Makanya, “Ia tinggalkan semua itu karena ingin meraih pahala-Ku, lari menjauh dari azab-Ku dan demi melaksanakan perintah-Ku serta meninggalkan larangan-Ku. Juga mengharapkan apa yang ada di sisi-Ku, maka balasan dari-Ku adalah maghfirah.”
Adapun sabda Beliau Shalallahu ‘alaihi wasalam, (الصِّيَامُ جُنَّةٌ ) “Puasa adalah perisai.” Maknanya, puasa berfungsi sebagai penjaga dari kemaksiatan, penangkis kejahatan dan sebagai tameng dari murka Al-Jabbar (Yang Mahaperkasa). Adapun firman-Nya,
فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ شَاتَمَهُ  فَلْيَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ
“Apabila ada yang mencela atau menghinanya, hendaklah ia katakan, ‘Saya sedang berpuasa.”
Para ulama berpendapat bahwa maksud dari perkataan “Aku sedang berpuasa” adalah ketika tengah melakukan shaum lalu datang kepada Anda seseorang yang ingin mencela, menghina, melawan, dan beradu mulut dengan Anda. Ingatkanlah ia akan Allah dan katakanlah kepadanya, ‘Aku sedang berpuasa’.
Dengan kalimat ini, seakan-akan Anda berbicara, “Bertaqwalah kepada Allah ketika berhadapan denganku karena aku sedang berpuasa, takutlah kepada Allah ketika menghadapiku karena aku sedang berpuasa, jangan kau langgar kehormatanku, jangan kau ganggu hartaku dan jangan kau sulut permusuhanku kepadamu, karena aku sedang berpuasa.”
Ada juga sebagian ulama yang berpendapat, agar kita berkata dalam hati dan mengarahkan ucapan tersebut kepada diri kita. Sesakan-akan kita tengah menasehati diri sendiri, “Bertaqwalah kepada Allah karena aku sedang berpuasa, jangan engkau nodai puasaku.”
Adapun maksud sabda beliau,
وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ ، وَلاَ يَصْخَبْ
“Apabila pada suatu hari, salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, janganlah berkata seronok ataupun berkata keras.”
Makna Jangan berkata seronok (rafats) adalah jangan berkata dengan sesuatu yang dapat memancing dorongan seksual dan membangkitkan birahi atau syahwat, karena ia sedang berada di alam lain tempat kediaman ruh dan jiwanya (sedang) berpuasa, begitu juga hatinya. Semua ini dilakukan agar kecenderungan setan dan potensi-potensi kejahatan tidak mempengaruhi jiwanya.
Jangan berkata keras, maknanya jangan meninggikan suara demi menghormati puasanya dan supaya tidak bertengkar, berdebat dan bermusuhan. Akan tertapi, hendaklah ia menjaga (batas-batas-edt) Allah pada puasa yang dijalaninya.
لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
sungguh, bau mulut seseorang di antara kalian (yang berpuasa) itu memiliki wangi yang lebih daripada wangi misk.”
Tiada misik kecuali bau busuk mulut (khuluf) orang yang berpuasa; tiada wewangian kecuali wewangian bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah.
Ketahuilah, aroma wangi yang ada pada mulut orang yang berpuasa bukanlah misik, akan tetapi aroma mulut yang tidak sedap tersebut lebih baik daripada misik, lebih wangi daripada minyak wangi karena ia berpuasa dalam keridhaan Allah.
Ia menahan lapar dan haus demi menginginkan apa yang ada di sisi Allah dan untuk mengharapkan ridha-Nya. Oleh sebab itu, kita tidak perlu malu menajalani puasa dengan bau mulut ini! Sambut dan terimalah bau mulut yang akan menjadi misk di sisi Allah pada hari kiamat nanti.

Bagi siapa yang ingin lebih mengenal Allah pada bulan Ramadhan, ketahuilah bahwa Rabb bulan Ramadhan adalah sama dengan Rabb bulan Syawal ataupun Sya’ban. Untuk itu, takutlah kepada Allah pada bulan Ramadhan dan selain Ramadhan, karena Dia SWT adalah Rabb di segala tempat dan waktu.

Berharap dan bergembiralah bahwa amal Anda akan diterima, sambutlah bulan ini, sambutlah bulan ini dan berusahalah agar Anda termasuk dalam golongan orang-orang yang terbebaskan dari neraka. Jadilah orang-orang yang diterima amalannya dalam bulan tersebut.
Berusahalah, agar bulan ini tidak berlalu kecuali Allah telah membebaskan Anda dari murka-Nya, karena kemurkaan-Nya akan sampai kepada orang yang layak meskipun ia tinggal di dalam rumah.
Berusahalah agar bulan ini tidak berlalu, kecuali setelah Anda terdaftar dalam golongan orang-orang yang diterima (maqbulin), yang telah ditetapkan surga bagi mereka.
لَا يَسْمَعُونَ حَسِيسَهَا وَهُمْ فِي مَا اشْتَهَتْ أَنْفُسُهُمْ خَالِدُونَ
Mereka tidak mendengar sedikitpun suara api neraka, dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka.” (Al-Anbiya:102)
Berlaparlah, agar Anda bisa kenyang disisi Allah, agar bisa memasuki pintu Ar-Rayyan di Jannah, karena yang bisa memasukinya hanya orang-orang yang berpuasa. Apabila mereka telah masuk, ditutuplah pintu itu. Berdahagalah agar Anda bisa minum dari Al-Kautsar, yakni telaga Nabi Muhammad. Pada hari itu beliau berdiri memberi minum para hamba dan bersamanya ada 70 malaikat di sekitar telaga beliau yang mengalirkan airnya. Panjangnya satu bulan dan kebarnya satu bulan. Jumlah periuknya sebanyak bintang-bintang di langit, airnya lebih manis dari madu, lebih dingin dari salju, dan lebih putih dari susu.
Barangsiapa yang meminum air telaga itu seteguk saja, ia tidak akan mpernah merasakan haus selama-lamanya. Kita memohon karunia-Nya. Tetaplah berusaha menjadi salah satu dari rombongan orang yang meminumnya, yakni orang-orang yang meninggalkan minum ketika di dunia. Berusahalah! Agar semua anggota badan Anda juga berpuasa. Ya, setiap anggota badan Anda.
Telinga, yang dahulu untuk mendengarkan, kata-kata kotor dan keji, mulai sekarang, usahakanlah jangan sampai telinga anda mendengarkannya untuk yang kedua kali. Barangsiapa mendengarkan nyanyian ketika di dunia, diharamkan baginya mendengarkan nyanyian-nyanyian akhirat di Jannah.
Ibnu Abbas berkata dalam syairnya:
Rabb kita mengirimkan angin yang menggoyangkan ranting-ranting
Lalu mengalunkan suara yang membuai pendengaran manusia
Bagaikan alunan-alunan yang teratur
Alangkah celaka telinga, jangan kau ganti
Dengan nikmatnya suara senar (alat musik)
Dalam hadits shahih, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ
Antara shalat lima waktu, Jumat sampai Jumat, Ramadhan sampai Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa antara keduanya selama seseorang tidak berbuat dosa besar.” [3]
Lima Perkara Mulia
Terdapat hadits shahih lainnya dalam Musnad Ahmad, dan menurut Al-Bazzrar serta Al-Baihaqi adalah dari hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:
أكرم الله أمّتي في شهر رمضان بخمس كرامات
Allah memuliakan umatku dengan lima perkara.”
Lima perkara tersebut adalah
  1. Bau tidak sedapdari mulut seseorang di antara umatku lebih wangi dari pada harumnya misk.
  2. Ikan-ikan di lautan pun memintakan ampn kepada seseorang di antara mereka sampai ia berbuka
  3. Allah menghias Jannah setiap hari dan Dia berfirman kepadanya (jannah), “Berhiaslah! Hampir-hampir para hamba-Ku menerima bantuan untuk kemudian memasukimu.”
  4. Allah membelenggu setan atau para dedengotnya sehingga mereka tidak dibiarkan melakukan apa yang sebelumnya akan mereka lakukan.
  5. Pada akhir malam dari bulan Ramadhan, Allah membebaskan (hamba-Nya dari siksa neraka) sebanyak jumlah manusia yang diampuni pada malam-malam berikutnya.
Lalu ada sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pada malam Lailatul Qadar ataukah akhir malam?” beliau menjawab, “Tidak, bahkan itu pada akhir malam, seorang yang beramal akan mendapatkan ganjarannya setelah menyelesaikan amalnya.
…dan Shalafusshalih pun bergembira
Apabila bulan Ramadhan tiba, para salafus shalih saling mengingatkan kabar gembira akan kedatangan dan keutamaan bulan yang mulia ini, mereka juga menyingsingkan lengan guna menjalaninya. Teladan dan pemimpin mereka adalah Nabi SAW. Beliau bersabda,
 اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ
“Ya Allah! Perlihatkanlah kepada kami hilal (bulan sabit) kepada kami dengan rasa aman dan iman; keselamatan dan Islam. Rabb-Ku dan Rabb-mu (wahai hilal) adalah Allah.”[4]
Beliau kemudian menyampaikan kabar gembira ini kepada para sahabatnya ra. Diriwayatkan dari Imam Malik ra. Jika bulan Ramadhan telah tiba, beliau menutup buku-buku beliau lalu mengambil mushaf dan duduk di masjid; berwudhu di anatara sela-sela waktu. Beliau juga mengatakan, “Ini adalah bulan Al-Qur’an, tiada pembicaraan pada bulan ini selain Al-Qur’an.
Diriwayatkan dari banyak kaum salaf, bahwa pada bulan Ramadhan mereka keluar ke masjid-masjid, dan tetap terus berada di dalamnya untuk bertilawah dan dzikir, kecuali jika ada urusan yang harus diselesaikan, barulah mereka keluar masjid dan pulang ke rumah.
Demikian halnya dengan Imam Ahmad. Apabila memasuki bulan Ramadhan, beliau tinggalkan urusan fatwa dan segala permasalahan kemudian duduk berdzikir, tahlil, takbir dan membaca ayat-ayat Allah.
Wahai orang-orang baik dan terpilih, sambutlah bulan ini dengan baik, dengan taubat nasuha, istighfar, shiddiq, banyak berdoa, tilawah, menjaga shalat berjamaah dan shalat jumat serta saling menasehati karena Allah dengan landasan kitab-Nya kepada para pemimpin serta kaum awam umat Islam. Bershalawatlah kepada orang yang memerintahkan kalian untuk memanjatkan shalawat dan salam kepadanya. [AW/Miftahul Jannah]
Sumber: Dikutip dari buku Ramadhan agar Puasa Tak Sekedar Lapar & Dahaga.
____________________
[1] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan lainnya
[2]Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ad-Darimi. Menurut Lbanu hadits ini adalah dhaif. Lihat Silsilah Ad-Dha’ifah dan Shahih wal Jami’ As-Shagir
[3] Diriwayatkan oleh Muslim, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah
[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Hibban dan Ad-Darimi. Dishahikan oleh Al-AlBani

Artikel Terkait Lainnya

Terdepan Mengabarkan !



Back to Top