Rahmah el-Yunusiyah, Profesor Wanita Pribumi Pertama Pejuang Pendidikan Kaum Wanita




[ AyoJalanTerus.com ]  Syaikhah adalah gelar yang diperoleh oleh Rangkayo Rahmah El-Yunusiyyah dari Universitas Al Azhar, Mesir karena kkiprahnya mendesain kurikulum sekolah khusus perempuan yang ia dirikan. Konon, madrasah Diniyyah Putri Padang Panjang, menginspirasi Al Azhar bahwa pendidikan perempuan modern juga hal penting untuk peradaban hingga akhirnya Al Azhar mendirikan juga sekolah perempuan. Rangkayo Rahmah, hingga hari ini belum mendapat gelar kepahlawanan, dan saya sangat berharap Presiden Jokowi mewujudkan hal tersebut.




Rahmah el Yunusiyyah bersama alumni perguruannya di Batavia, tahun 1935. sumber foto: Rahmah el Yunusiyyah dan Zainuddin Labay el Yunusy, Dua Bersaudara Tokoh Pembaharu Sistem Pendidikan di Indonesia (1991)



Beberapa kali saya gusar, karena beredarnya potret Rangkayo Rahmah di media sosial maupun siaran pesan instan WA, justru tidak sesuai dengan semangat yang ia nyalakan.

Potret Syaikhah yang sering dipromosikan adalah potret Syaikhah dalam kain menutup tubuh semacam mukena, seperti yang tampak pada potret di sudut kanan. Potret itu kemudian digunakan untuk menjustifikasi satu-satunya model jilbab syar’i, dengan dua semangat melenceng.

Pertama, semangat politik identitas untuk tujuan klaim kebenaran komunitas atau bahkan pedagang jilbab syar’i. Sebuah broadcast yang memuat potret Syaikhah mengarahkan lebih kepada Arabisasi pakaian -dengan judul inilah sejarah jilbab asli Indonesia yang sesungguhnya- , dibanding pakaian syariat kesopanan perempuan. Kedua, adalah semangat mendomestifikasi dan semangat penundukan perempuan, setelah menunjukkan bentuk pakaian yang serba tertutup itu. Nilai Syaikhah diringkus pada pakaian saja, menghilangkan pemikiran dan aktivitasnya yang jauh lebih besar.

Satu potret tentu saja tak cukup untuk menjelaskan sebuah situasi apalagi sebagai bukti peristiwa sejarah. Potret Syaikhah yang sebetulnya tentu saja ada banyak. Dalam kehidupan sehari-hari, Rangkayo Rahmah juga berkebaya dan memakai kain kerudung santun yang ia lingkar di kepala.

Ketika mengajar di madrasah, Rangkayo Rahmah memakai baju kurung sederhana dan kerudung lebih tertutup. Dalam potret lain, Syaikhah mengenakan kerudung renda putih khas Nusantara dan baju kurung khas Minang berbentuk jas yang sangat trendi dan terhormat ketika bertemu Syaikh Al Azhar dan pada acara-acara formal lainnya. Hal yang menunjukkan bahwa sifat pakaian sangat situasional dan terkait dengan budaya setempat.




Semangat sesungguhnya dari Rangkayo Rahmah adalah semangat keulamaan perempuan yang berpikir seutuhnya soal eksistensi kemanusiaan perempuan. Syaikhah bercerai kepada suaminya karena menolak dipoligami. Syaikhah adalah seorang bidan, seorang social engineer, seorang aktivis organisasi lintas pergerakan, sekaligus punya kiprah di laskar hizbullah hingga hizbul wathan. Syaikhah adalah perempuan yang mengibarkan bendera merah putih tinggi-tinggi bahkan sebelum proklamasi diumumkan di radio-radio.

Syaikhah menolak bantuan kolonial Belanda untuk sekolah yang ia bangun karena tidak mau kurikulumnya diatur-atur. Syaikhah bahkan menolak tawaran Buya Hamka agar diniyyah puteri bergabung saja dengan sekolah rintisan Muhammadiyah, sekali lagi karena Syaikhah memiliki misinya sendiri soal sekolah perempuan.

Jika ulama konservatif hanya mendefinisikan ilmu yang wajib dipelajari seorang perempuan hanya sebatas akidah dan fikih Ibadah, Syaikhah berpandangan bahwa penting bagi seorang perempuan untuk paham ilmu jiwa, ilmu kesehatan, ilmu kriminologi, ilmu sosiologi dan ilmu politik.






Mengapa? Tentu karena pengalaman Syaikhah sebagai perempuan sejak zaman kolonial, zaman Jepang hingga zaman Soekarno membentuk seutuhnya kedirian dan martabat nilai kemanusiaan perempuan yang ia yakini. Syaikhah terkenal banyak berseberangan dengan kebijakan-kebijakan Soekarno.

Selain itu, pandangan keulamaan perempuan ala Syaikhah pun semakin menarik sebab berkaitan dengan adat matriarki Minang yang ia alami secara otentik. Adat perempuan yang mewarisi Pusako dalam rumah tangga, diartikan Syaikhah bahwa perempuan harus mampu mewarisi pusako itu dengan siap dan untuk kepentingan kemanusiaan. Bukan semata-mata pandangan sempit sebagian orang bahwa perempuan terkait dengan materi dan ujung-ujungnya adalah mendomestifikasi perempuan.

Syaikhah Rahmah El Yunusiyyah adalah ulama perempuan yang sangat menyejarah. Warisan yang ia tinggalkan abadi sepanjang zaman. Warisan yang ia tinggalkan, sesungguhnya juga adalah mengambil Islam dengan nilai-nilai kemajuan yang berani mendobrak kejumudan berpikir dan sangat peduli pada pengalaman perempuan.



Rahmah el Yunusiyyah Pejuang Pendidikan Kaum Wanita


Sosok dan pemikiran wanita ini memberikan inspirasi bagi majunya pendidikan Islam di Indonesia, hingga dunia. Syaikh Abdurrahman Taj, Rektor Universitas al Azhar Kairo Mesir bahkan mengundangnya pada tahun 1957 dan memberikan anugerah berupa gelar Syaikhah dari Universitas al Azhar untuk pertama kalinya bagi seorang wanita. Berkat jasa dan keteladannya dalam mendirikan sekolah Islam dan memajukan pendidikan kaum Muslimah di Indonesia. Salah satu universitas tertua di dunia ini tidak segan dan memberikan penghargaan atas sumbangsih besarnya bagi pendidikan kaum wanita.

Sebelumnya pada tahun 1955, Syaikh Abdurrahman Taj telah mengadakan kunjungan ke Indonesia, khususnya ke sekolah yang didirikan oleh wanita ini di Padang Panjang, ia tertarik dengan sistem pembelajaran khusus yang diterapkan kepada putri-putri Islam di Indonesia. Ia banyak menimba pengalaman dari sekolah ini, sedangkan saat itu al-Azhar belum memiliki lembaga pendidikan khusus bagi kaum perempuan. Akhirnya tak lama setelah kunjungannya, Universitas Al Azhar terinspirasi untuk membuka pendidikan khusus perempuan yang bernama kulliyyât al-banât.[1]




Syaikhah Rahmah el Yunusiah adalah nama yang kini disandangnya. Gelar baru yang belum pernah diberikan kepada wanita manapun sebelumnya. Gelar yang setara dengan gelar Syaikh Mahmoud Syalthout, salah seorang mantan Rektor al-Azhar. Rahmah dikenal sebagai pendiri perguruan untuk wanita Islam pertama di Indonesia yakni Madrasah Diniyah Puteri (Madrasah Diniyah li al-Banat) di Padang Panjang.

Syaikhah Rahmah el Yunusiah, sering dijuluki sebagai R.A Kartini gerakan Islam atau Kartini perguruan Islam oleh masyarakat Sumatera, khususnya di daerah Minangkabau.[2] Ahmad Mansur Suryanegara, pakar sejarah Islam di Indonesia, juga mengomentari secara adil bahwa Rahmah el Yunusiyah memiliki kelebihan dari R.A Kartini (1879-1904), karena selain amal usahanya dalam bidang pendidikan, ia juga ikut aktif berjuang mengangkat senjata.[3]

Buya Prof. Dr. Hamka juga menanggapi dalam sudut pandangnya sebagai tokoh ulama dan founding father bangsa dengan menyatakan “Saya berani mengatakan bagi pejuang bercita Islam, Rahma lebih tinggi tempatnya di hati mereka, daripada RA. Kartini.”[4]

Rahmah el Yunusiah dilahirkan di Padang Panjang, Sumatra Barat, pada 29 Desember 1900. Ia merupakan anak bungsu dari lima bersaudara pasangan Syekh Muhammad Yunus dan Rafi’ah.[5] Rahmah el-Yunusiyah lahir di sebuah rumah gadang jalan Lubuk Mata Kucing, Kanagarian Bukit Surungan. Ia adalah adik bungsu dari Zainuddin Labay (1890-1924 M), Mariah (1893-1972 M), Muhammad Rasyad (1895-1956 M), dan Rihanah (1898-1968 M). Namun Rahmah masih mempunyai saudara lain ibu, yaitu Abdus Samad, Hamidah, Pakih Bandaro, Liah, Aminuddin, Safiah, Samihah dan Kamsiah. Ia dibesarkan dalam silsilah keluarga yang baik dan sangat menjunjung tinggi pendidikan agama.

Rahmah belajar Islam secara langsung kepada ayahnya, kakaknya dan ulama-ulama di Sumatera. Salah satunya ia rutin mengaji di Surau Jembatan Besi, kepada Haji Abdul Karim Amrullah (ayah Hamka), Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim (pemimpin sekolah Thawalib Padang-Panjang), Syaikh Muhammad Jamil Jambek, Syaikh Abdul Latif Rasyidi, dan Syaikh Daud Rasyidi.[6]

Pada tahun 1918 ia memulai untuk menunut ilmu bersama teman-teman dia pimpin diantaranya, Rasuna Said, Nanisah dan Upik Djalang untuk belajar ke rumah Syaikh Abdul Karim Amrullah –Haji Rasul-. Padahal ketika itu belum ada kebiasaan untuk belajar agama secara intensif mengkaji nahwu, shorof, fiqih dan ushul fiqih. Sebelumnya kajian ilmu masih terbatas pada pengajian umum dan mendengar tabligh guru-guru.[7]

Rahma adalah seorang yang selalu sederhana, lemah lembut sifatnya dan rendah diri sikapnya. Dengan jilbab panjang yang dikenakannya, ia selalu konsisten dalam menunjukkan semangat menuntut ilmu dan melakukan pergerakan bagi pendidikan bagi kaumnya.[8]

“Kalau saya tidak mulai dari sekarang, maka kaum saya akan tetap terbelakang. Saya harus mulai, dan saya yakin akan banyak pengorbanan dituntut dari diri saya”[9], kata Rahmah El Yunusiyah suatu hari bertekad, menunjukkan didikan dan penanaman agama yang kuat pada dirinya.

Cita-cita tinggi Rahmah untuk memajukan keilmuan kaumnya dan mengeluarkan mereka dari kebodohan begitu bergelora sejak mudanya. Bagi Rahmah, perempuan memiliki peran yang penting dalam kehidupan, utamanya dalam keluarga. Karena keluarga adalah bagian dari tiang masyarakat dan masyarakat adalah tiang negara. Tentulah ia tidak mau, kaumnya yang mempunyai peran penting dalam tiang negara dan pendidikan anak-anaknya tertinggal dari laki-laki. Hal tersebut sejalan dengan yang diungkapkan oleh Hamka, “Perempuan adalah tiang negara. Jika perempuannya baik, baiklah negara, dan jika mereka rusak, rusak pulalah negara. Mereka adalah tiang, dan biasanya tiang rumah tidak begitu kelihatan. Namun jika rumah condong, periksalah tiangnya. Tandanya tianglah yang lapuk”[10]




Rahmah merasa resah memikirkan perempuan di daerahnya belum mendapatkan pendidikan sebagaimana yang didapatkan laki-laki, terutama pendidikan agama, akibat pengaruh kolonial dan adat di Sumatera. Padahal Islam tidak pernah membatasi perempuan untuk menuntut ilmu dan kewajiban menuntut ilmu dibebankan kepada setiap laki-laki dan perempuan. Rahmah kemudian sadar dan tergugah bahwa melalui pendidikan lah, ia bisa memajukan kaumnya dan mengeluarkan mereka dari kejumudan dan ketertinggalan. Rahmah kemudian mengembara sampai ke Malaya, berjuang dan datang menemui Sultan-sultan Melayu untuk menyampaikan maksudnya mendirikan sekolah serta meminta kontribusi mereka .

Maka pada tanggal 01 November 1923, bersamaan dengan usianya yang hampir masuk ke 23 tahun, akhirnya Rahmah dengan dukungan dari kakaknya, Zaenuddin Labay, beserta teman-teman perempuannya di PMDS (Persatuan Murid-murid Diniyyah School) memutuskan untuk mendirikan sekolah khusus Perempuan yang dinamai Diniyah School Putri atau Madrasah Diniyah li al-Banat yang bertempat di Masjid Pasar Usang.

Saat itu, muridnya masih berjumlah 71 orang dan terdiri dari ibu-ibu muda, termasuk putri dari Teungku Panglima Polim dan Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Mata pelajaran yang diajarkan di sekolahnya adalah fiqih, tafsir, tauhid, hikmah tasyri, adab, nahwu, sharaf, ilmu bumi, ushul fiqih, sejarah Islam dan menulis Arab sebagai dasar ilmu agama. Lalu mata pelajaran keputrian, pendidikan rumah tangga, bahasa Inggris, bahasa Belanda serta keterampilan seperti memasak, menenun, menjahit dan sebagainya.[11]

Kurikulum pendidikan yang ia buat mencakup ilmu yang mendasar dan dibutuhkan bagi seorang wanita, untuk membentuk perannya dalam masyarakat dan secara keseluruhan sebagai guru dalam keluarga. Tujuan besar dan mulia dari pendidikan Diniyah puteri yang ia dirikan ini yaitu:

“Membentuk puteri yang berjiwa Islam dan ibu pendidik yang cakap dan aktif serta betanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air atas dasar pengabdian Allah subhanahu wata’ala”[12]

Melalui tekad yang kuat dan kokoh, Rahma beserta teman-temannya mulai merintis dan membagun sekolah ini. Sebuah jalan mulia yang terpatri dalam jiwa dan tujuan besar mereka dalam mencerdaskan kaum Muslimah dan mencari keridhoan-Nya. Rahma menuturkan:

“Diniyah School Puteri ini selalu akan mengikhtiarkan penerangan agama dan meluaskan kemajuannya kepada perempuan-perempuan yang selama ini susah mendapatkan penerangan agama Islam dengan secukupnya daripada kaum lelaki…, Inilah yang menyebabkan terjauhnya penerangan perempuan Islam daripada penerangan agamanya sehingga menjadikan kaum perempuan itu rendam karam ke dalam kejahilan”[13]

Rahmah sendiri merupakan pribadi yang giat mencari ilmu. Selain belajar agama kepada sejumlah ulama, ia juga mempelajari dan menekuni berbagai ketrampilan yang mestinya dimiliki oleh kaum wanita. Memasak, menenun dan menjahit merupakan keterampilan yang ia miliki. Ia juga berupaya menularkan ketrampilan ini kepada kaum perempuan yang ada di sekitarnya. Bahkan Rahmah kemudian mendirikan sebuah sekolah kejuruan, yakni sekolah tenun pada tahun 1936. Untuk memenuhi tenaga pengajar perempuan, Rahmah mendirikan sebuah sekolah guru untuk perempuan pada tahun 1937.



Semangat baru yang dibawa oleh Rahmah, cukup dipengaruhi oleh kakaknya, Zainuddin Labay El-Yunusiy. Rahma merupakan adik termuda, sekaligus murid dari Diniyyah School yang didirikan Zainuddin Labay. Melalui sang kakak yang merupakan sosok pengganti ayahnya inilah, Rahmah El-Yunusiah menyerap pemikiran baru yang kemudian ia kembangkan lebih lanjut menjadi ide dan kreativitas pendidikan untuk mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan, sehingga ia tergolong sebagai tokoh “pembaruan pendidikan Islam” di Sumatera.[14]
Rahmah El-Yunusiyah ingin menerapkan konsep pendidikan sepanjang masa dari ide pemikirannya. Tercermin dalam model pendidikan yang didirikannya mulai dari masa anak-anak, Freubel School (semacam Taman Kanak-kanak). Ia kemudian juga mendirikan pendidikan lanjutan berupa Junior School (setingkat HIS), Madrasah Diniyah Putri yang mencakup Ibtidaiyah dan Tsanawiyah, hingga program untuk calon guru Kulliyat al Mu’alimat al-Islamiyah.
Hingga pada masa selanjutnya, Rahmah pun mengagas pendirian perguruan tinggi untuk kaum perempuan. Perguruan tinggi ini hanya terdiri dari satu fakultas yakni Fakultas Dirasah Islamiyah. Bagi ibu-ibu yang tidak terjaring dalam pendidikan formal dan belum bisa membaca atau menulis, Rahmah pernah mendirikan Menyesal School. Ia juga sempat menggagas semacam sekolah kejuruan yakni, sekolah tenun. Nampak perhatiannya untuk membangun lapangan pendidikan dan usaha yang luas dan sesuai bagi wanita untuk meningkatkan taraf ilmu dan keahliannya. [15]
Maka jika R.A Kartini (1879-1904 M) dikenal karena kumpulan surat-suratnya yang berisi cita-cita untuk memajukan kaum perempuan, diterbitkan menjadi buku “Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran” (1922) oleh Abendanon (tokoh pemerintah Belanda) hampir enam tahun setelah wafatnya. Namun Rahma el Yunusiah tidak hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Pada usianya ke 23 tahun, ia telah berhasil mendirikan sekolah khusus perempuan, yang terwujud dalam pendidikan Diniyah putri, serta sekolah lainnya yang dalam perkembangannya didirikan sampai setingkat perguruan tinggi. Pengalaman dan perjalan hidup Rahma juga lebih banyak dan panjang, dalam berkiprah memperjuangkan gagasan dan realisasinya. Berbeda dengan Kartini yang belum tuntas mencapai cita-citanya, karena wafat pada umur 25 tahun, pada usia yang cukup muda.
Selain itu Rahma juga dikenal sebagai pelopor terbentuknya Tentara Kemanan Rakyat (TKR), ADI (Anggota Daerah Ibu) hingga menjadi TNI Batalyon Merapi. Rahma aktif dalam menentang berbagai kolonialisasi yang terjadi pada masanya, seperti menuntut dan menentang pengerahan kaum perempuan Indonesia terutama di Sumatera Tengah sebagai jugun ianfu (perempuan penghibur) tentara Jepang, yang akhirnya berhasil mereka bebaskan. Karena pembelaannya terhadap Islam dan jiwa ksatriaan yang dimilikinya, pemuda-pemuda pejuang kemerdekaan menyebutnya sebagai Bundo Kanduang (Ibu Kandung) dari barisan perjuangan.[16]
Rahmah El Yunusiyah juga pernah menjadi anggota pergurus Serikat Kaum Ibu Sumatra (GKIS) Padang Panjang, organisasi yang berjuang menegakkan harkat kaum wanita dengan menerbitkan majalah bulanan. Aktivitasnya yang lain adalah mendirikan Khuttub Khannah ( taman bacaan) untuk masyarakat. Rahmah juga tercatat sebagai salah seorang pendiri partai Masyumi di Minangkabau. Ia cukup aktif dalam mengembangkan Masyumi, sampai pada pemilu tahun 1955, Rahmah dicalonkan oleh partainya dan terpilih menjadi anggota Parlemen (DPR) mewakili Sumatra Tengah (1955-1958).
Tak heran guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar juga berkomentar mengenai peran kepahlawanan yang diberikan kepada Kartini, dibanding dengan tokoh wanita lainnya “Dan bilamana ternyata bahwa dalam berbagai hal wanita-wanita kita lebih mulia, lebih berjasa daripada R.A Kartini, kita harus berbangga bahwa wanita-wanita kita lebih hebat daripada dikira sebelumnya, tanpa memperkecil penghargaan kita kepada RA. Kartini”[17]


Masa hidup Rahmah El-Yunusiah dijalani dan dihabiskan dalam perjuangannya mengentaskan krisis ilmu dan menaikkan martabat kaum wanita. Ia merupakan tokoh besar yang mempelopori tradisi pendidikan untuk kaum wanita, sehingga perhatiannya terfokus pada sekolah khusus perempuan yang didirikannya. Ia menyadari bahwa peran wanita sangat besar dalam melahirkan dan mendidik generasi muda Islam, yang akan membawa kemerdekaan hidup dan kemajuan pada dekade berikutnya.
Oleh: Bambang Galih Setiawan – Alumni Ma’had Aly Imam al Ghazally Surakarta
[1] Susiyanto, “Syaikhah Rahma el Yunusiah: Pendidik dan Ibu Kandung Perjuangan”, dalam http://susiyanto.com/syaikhah-rahmah-el-yunusiah-pendidik-dan-ibu-kandung-perjuangan/.
[2] Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta: LP3ES, 1996, hlm. 50.
[3] Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, Bandung: Tria Pratama, 2014, hlm. 536.
[4] Hamka, Ajahku:Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera, Djakarta: Penerbit Djajamurni, 1967, hlm. 265.
[6] Ahmad Syahirul Alim, “Rahmah el Yunusiah, Pelopor Pendidikan Muslimah Indonesia”, dalam http://www.dakwatuna.com/2013/04/30/32399/rahmah-el-yunusiyyah-pelopor-pendidikan-muslimah-indonesia/#axzz3z16TZYRD.
[7] Hamka, Ajahku:Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera, Djakarta: Penerbit Djajamurni, 1967, hlm. 265.
[8] Ibid, hlm. 266.
[9] Junaidatul Munawaroh, Rahmah El Yunusiyah: Pelopor Pendidikan Perempuan, dalam Jajat Burhanudin dan Oman Fathurrahman (ed), Tentang Perempuan Islam: Wacana dan Gerakan, Jakarta: Gramedia, 2004.
[10] Hamka, Buya Hamka Berbicara Tentang Perempuan, Jakarta: Gema Insani, 2014.
[11] H. Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana, 2009, hlm.54.
[12] Sarah Mantovani, “Rahmah el Yunusiyyah, Mujahidah tanpa Emansipasi”, dalam http://thisisgender.com/rahmah-el-yunusiyyah-mujahidah-dan-pelopor-pendidikan-perempuan-asal-padang/.
[13] Ibid
[14] Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta: LP3ES, 1996, hlm. 50.
[15] Susiyanto, “Syaikhah Rahma el Yunusiah: Pendidik dan Ibu Kandung Perjuangan”, dalam http://susiyanto.com/syaikhah-rahmah-el-yunusiah-pendidik-dan-ibu-kandung-perjuangan/.
[16] Ibid
[17] Adian Husaini, Pendidikan Islam, Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab, Jakarta: Komunitas NuuN, 2011, hlm. 155.

Artikel Terkait Lainnya

Terdepan Mengabarkan !



Back to Top