Laporan Internal: Sentimen Anti-China Saat Ini Berada di Titik Tertinggi Sejak Insiden Lapangan Tiananmen 1989




[ AyoJalanTerus.com ]  Sebuah laporan internal di China mengungkapkan, saat ini tingkat sentimen global terkait anti-China semakin meningkat, bahkan berada di titik tertinggi sejak insiden Lapangan Tiananmen 1989.

Laporan tersebut dibuat untuk Kementerian Keamanan Negara pada bulan lalu untuk memperingatkan para pemimpin Beijing, termasuk Presiden Xi Jinping.








Sebuah sumber mengatakan kepada Reuters, Selasa (5/5), laporan tersebut disusun oleh Institut Hubungan Internasional Kontemporer China (CICIR), sebuah lembaga think tank yang berafiliasi dengan Kementerian Keamanan Negara.

Reuters sendiri mengaku belum melihat laporan tersebut, tetapi mendapatkan informasi dari orang-orang yang memiliki pengetahuan langsung mengenai hal tersebut.

Ketika dikonfirmasi, jurubicara Kementerian Luar Negeri China enggan mengomentari laporan tersebut.


Sementara Kementerian Keamanan Negara dan CICIR tidak menanggapi pertanyaan yang diajukan.

Meski begitu, sumber mengungkapkan, laporan tersebut menunjukkan betapa seriusnya ancaman yang dihadapi Beijing, khususnya terkait dengan investasi strategisnya di luar negeri dan pandangannya terhadap keamanan.

Selain itu, laporan tersebut mengungkapkan, hubungan antara China dan Amerika Serikat saat ini berada dalam titik terburuk selama beberapa dekade. Keduanya memiliki berbagai persoalan yang semakin meningkatkan ketegangan. Mulai dari demonstrasi Hong Kong, Taiwan, Laut China Selatan, hingga yang saat ini terjadi adalah pandemik virus corona baru.

Dalam laporan tersebut, Beijing meyakini Washington ingin menahan kebangkitan China. AS memandang China sebagai ancaman ekonomi dan keamanan nasional, serta demokrasi Barat. Laporan itu juga mengatakan Amerika Serikat bermaksud melemahkan Partai Komunis yang berkuasa dengan merusak kepercayaan publik. (rmol)


AS Akan Boikot Produk China sebagai Hukuman Tak Becus Tangani Corona


Amerika Serikat dikabarkan bakal mempercepat pemboikotan terhadap suplai produk China dari industri dunia. 

Keputusan itu diambil sebagai hukuman terhadap China yang dianggap tak becus menangani penyebaran virus corona hingga akhirnya menjadi pandemi.


Presiden Donald Trump yang melancarkan sejumlah serangan ke China belakangan ini, telah berjanji untuk membawa pulang pabrik AS dari luar negeri. Saat ini, menyusul krisis ekonomi dan melonjaknya kematian akibat corona, pemerintah mencoba menghilangkan ketergantungan pasokan dari China. 

“Kami tengah bekerja untuk mengurangi suplai kami dari China dalam beberapa tahun terakhir, tapi kini kami semakin mempercepat upaya itu,” ujar Wakil Menteri Pertumbuhan Ekonomi, Energi, dan Lingkungan Keith Krach seperti dikutip Reuters, Selasa (5/5). 

Kementerian Perdagangan AS beserta pemerintah negara bagian tengah mencari cara untuk mendorong perusahaan agar memindahkan sumber maupun pabriknya dari China. Pemerintah menimbang untuk memberikan insentif pajak dan subsidi guna menopang kebijakan tersebut. 

"Momen ini sempurna. Pandemi ini semakin meyakinkan kekhawatiran semua orang untuk melakukan bisnis dengan China. Semua uang yang mereka pikir bisa dihasilkan melalui kerja sama dengan dengan China sebelumnya, sekarang telah dihancurkan karena krisis ekonomi,” ucap salah satu pejabat AS.

Duta besar Kolombia di AS, Francisco Santos, mengaku sempat berdiskusi dengan pemerintah AS, Dewan Keamanan Nasional serta Kementerian Keuangan dan Kamar Dagang tentang upaya untuk mendorong perusahaan-perusahaan AS untuk memindahkan beberapa rantai pasokan keluar dari China dan membawanya kembali ke rumah. 

China tercatat menyalip AS sebagai negara manufaktur terbaik dunia pada 2010. Banyak perusahaan AS menginvestasikan dananya di manufaktur China dan mengandalkan penjualan mereka ke 1,4 miliar rakyat China.  

Hingga kini, sudah lebih dari 3,6 juta warga dunia yang terinfeksi corona dengan 252.407 orang meninggal dunia.(kumparan)




Artikel Terkait Lainnya

Terdepan Mengabarkan !



Back to Top