Code Blue, Yang Ramai di Medsos saat Penyanyi Legendaris Didi Kempot Meninggal Dunia




[ AyoJalanTerus.com ]  Penyanyi Didi Kempot meninggal dunia pada Selasa (5/5). Didi dikabarkan tiba di Rumah Sakit Kasih Ibu Solo, Jawa Tengah, dalam keadaan henti jantung.

Sementara terkonfirmasi bahwa Didi datang dalam keadaan henti jantung, platform media sosial ramai mengaitkan kepergian penyanyi campursari itu dengan istilah 'code blue'.

Tak ayal, meski belum terkonfirmasi secara resmi oleh pihak rumah sakit, istilah 'code blue' pun membuat netizen penasaran. Apa itu 'code blue' atau 'kode biru'?








Vito menjelaskan, kode ini disiarkan ke seluruh rumah sakit untuk memberi tahu seluruh petugas medis mulai dari dokter, perawat, terapis, hingga apoteker. Code blue dapat diumumkan melalui alarm, telepon, atau pesan singkat.

Seluruh petugas wajib bergerak menuju lokasi untuk menangani pasien dengan kondisi darurat tersebut.

"Code blue diumumkan di seluruh penjuru RS. Di RS, begitu ada code blue semua petugas medis akan rush [berlari] ke tempat tersebut. Pastinya yang terdekat akan sampai duluan," kata Vito.

Dokter lalu akan menangani pasien dengan melakukan sejumlah tindakan untuk menyelamatkan kondisi pasien.

Selain code blue juga terdapat kode lainnya, seperti code red yang menunjukkan kebakaran dan code black untuk menunjukkan keberadaan ancaman bom.

Kakak kandung Didi Kempot, Lilik, Didi akan dimakamkan hari ini di Ngawi, Jawa Timur, dekat dengan makam kakak kandung Didi yang juga anggota Srimulat yakni almarhum Mamiek Prakoso.

"Ya benar, akan dimakamkan di Ngawi, dekat dengan Mamiek," kata Lilik saat diwawancara CNN Indonesia TV, Selasa (5/5). (ptj/asr)






Mengenal Henti Jantung yang Dialami Didi Kempot


Henti jantung merupakan kondisi saat jantung berhenti berdetak secara tiba-tiba. Kondisi ini umumnya ditandai oleh hilangnya kesadaran dan napas yang terhenti.

Mengutip situs resmi American Heart Association, henti jantung umumnya disebabkan oleh gangguan 'listrik' pada jantung. Dalam kondisi ini, jantung berhenti memompa aliran darah ke seluruh tubuh.

Namun, henti jantung merupakan kondisi yang berbeda dengan serangan jantung. Dalam beberapa kasus, serangan jantung bisa menyebabkan aritmia yang dapat memicu henti jantung mendadak.

Henti jantung umumnya disertai dengan beberapa gejala berikut:
- tiba-tiba jatuh
- tak ada denyut nadi
- tak bernapas
- hilang kesadaran

Dalam beberapa kasus, henti jantung juga ditandai oleh beberapa gejala awal seperti berikut:


- rasa tidak nyaman pada dada
- kesulitan bernapas
- rasa lemas
- palpitasi jantung atau berdebar-debar

Cari pertolongan medis segera saat merasakan beberapa gejala seperti nyeri atau rasa tidak nyaman pada dada, palpitasi jantung, mengi secara tiba-tiba, sesak napas, hampir pingsan, dan sakit kepala ringan.

Saat jantung berhenti berdetak, aliran darah yang tak mengalir dapat menyebabkan kematian dalam hitungan menit.

Penyebab Henti Jantung

Tak seperti serangan jantung yang disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah, henti jantung umumnya didorong oleh kondisi gangguan irama jantung (aritmia). Sering kali henti jantung mendadak terjadi pada seseorang dengan gangguan jantung yang tidak terdeteksi. Berikut beberapa penyebab henti jantung.

1. Bekas luka pada jantung
Bekas luka umumnya muncul akibat serangan jantung sebelumnya. Jantung yang tergores berisiko terhadap aritmia ventrikel yang dapat mengancam jiwa. Enam bulan pertama setelah serangan jantung merupakan periode rentan terhadap insiden henti jantung mendadak.

2. Kardiomiopati (penebalan otot jantung)

Kerusakan otot jantung dapat disebabkan oleh tekanan darah tinggi, penyakit katup jantung, atau penyebab lainnya. Otot jantung yang rusak membuat seseorang lebih rentan terhadap henti jantung mendadak, terutama bagi mereka yang mengidap penyakit jantung.

3. Konsumsi obat jantung
Dalam kondisi tertentu, berbagai obat jantung justru bisa memicu aritmia (gangguan irama jantung) yang dapat menyebabkan henti jantung mendadak. Perubahan signifikan pada kadar kalium dan magnesium dalam darah dapat menyebabkan aritmia.

4. Kelainan pembuluh darah
Dalam kasus yang jarang terjadi, kelainan pembuluh darah bawaan dapat menyebabkan henti jantung. Adrenalin yang dilepaskan selama aktivitas fisik yang intens sering kali memicu henti jantung.

Henti jantung mendadak kerap dikaitkan dengan penyakit arteri koroner. Dengan demikian, beberapa faktor risiko penyakit jantung turut berkontribusi dalam memicu henti jantung.

Mengutip situs Mayo Clinic, berikut beberapa faktor risiko tersebut:

- riwayat jantung keluarga
- merokok
- tekanan darah tinggi
- kolesterol tinggi
- obesitas
- diabetes
- gaya hidup minim bergerak (sedentary lifestyle)

Henti jantung merupakan kondisi darurat yang perlu segera ditangani. Segera periksakan diri ke dokter bila mengalami gejala awal seperti yang telah disebutkan di atas, apalagi bagi Anda yang mengidap penyakit jantung.

Jika ada orang di sekitar yang mendadak tak sadarkan diri dan tak bernapas, segera cari bantuan medis. Bila denyut nadi tak terasa, lakukan pertolongan pertama berupa resusitasi jantung paru atau cardiopulmonary resuscitation (CPR). (asr/asr)

Artikel Terkait Lainnya

Terdepan Mengabarkan !



Back to Top