Vietnam Kalahkan Corona namun Ancaman Tak Kalah Ngeri di Depan Mata




[ AyoJalanTerus.com ]  Salah satu negara di Asia Tenggara yang disebut berhasil menangani pandemi virus Corona COVID-19 adalah Vietnam yang beberapa waktu lalu mulai melonggarkan lockdown. Kehidupan masyarakat secara perlahan kembali normal. Virus Corona di negara tersebut hanya menginfeksi 271 orang dan tidak ada kematian yang dilaporkan hingga saat ini.

Perwakilan WHO untuk Vietnam, Kidong Park memuji langkah-langkah yang dilakukan oleh negara tersebut dalam menangani mewabahnya virus Corona COVID-19.

Vietnam diketahui mengkarantina puluhan ribu orang di kamp-kamp bergaya militer dan melakukan prosedur pelacakan kontak. Vietnam juga menguji lebih dari 213 ribu orang di negaranya. Selain itu Vietnam juga mengampanyekan cara pencegahan COVID-19 melalui informasi publik seperti menampilkan lagu tentang tata cara mencuci tangan dan berbagai kampanye lain yang bergaya propaganda.






Namun selain langkah-langkah di atas, tindakan awal pemerintah Vietnam ketika wabah terjadi di wilayahnya terbukti menjadi yang paling efektif.

Ketika dua kasus pertama Corona COVID-19 di Vietnam muncul akhir Januari 2020, pada 1 Februari 2020, Vietnam Airlines langsung menghentikan semua penerbangan ke China, Taiwan dan Hong Kong serta menutup perbatasan dengan China. Setelah gelombang infeksi baru muncul pada bulan Maret 2020, Vietnam menghentikan semua jadwal penerbangan internasional dan melakukan lockdown pada 1 April 2020.

Ketika gelombang kedua virus Corona telah melanda Jepang dan Hong Kong, pemerintah Vietnam menerapkan beberapa aturan bagi warganya untuk mencegah merebaknya gelombang baru COVID-19. Pemerintah setempat mewajibkan warga untuk mengenakan masker ketika bepergian dan melarang perkumpulan lebih dari 30 orang, seperti festival, upacara keagamaan dan acara olahraga.

Kidong Park menekankan pentingnya pengetahuan mengenai virus Corona dan memperkuat langkah-langkah pencegahannya di masyarakat. Selain itu, Park juga memperingatkan konsekuensi ekonomi dan ini kemungkinan mempengarui keputusan pemerintah untuk mengakhiri lockdown pada 23 April 2020 lalu.

Banyak layanan non-esensial seperti bar dan tempat karaoke masih ditutup. Masalah mungkin telah selesai bagi pertokoan, hotel dan restoran. Namun di negara yang mengandalkan sektor pariwisata sebagai pendapatannya, masa depan perekonomian masih belum terlihat secara jelas terlebih ketika tidak ada orang yang tahu kapan lockdown di negara lain akan dicabut dan perbatasan akan dibuka kembali.

Sebuah laporan yang dikeluarkan oleh International Labour Organisation (ILO) pada bulan lalu menyebutkan sekitar 10 juta orang Vietnam bisa kehilangan pekerjaan mereka atau menghadapi turunnya pendapatan pada kuartal dua tahun 2020. Sementara itu, IMF memprediksi pertumbuhan sebesar 2,7 persen untuk Vietnam, turun dari sekitar 7 persen pada tahun lalu.

Pada awal April, pemerintah Vietnam mengumumkan pemberian bantuan sebesar 2,5 triliun dolar untuk masyarakat miskin Vietnam. Pemerintah juga memberikan bantuan seperti ATM beras dan "Zero Dong Store" di kota-kota besar.

Seorang ekonom asal Hanoi, Nguyen Van Trang mengatakan kesulitan masih akan dihadapi pada waktu ke depan.
"Keputusan yang sangat sulit ada di depan tentang bagaimana dan kapan waktu yang tepat untuk membuka kembali negara," katanya.
Nguyen menambahkan, meskipun ada risiko dari eksternal, Vietnam mulai memulihkan sektor manufaktur, jasa dan ritel.
"Ketahanan internal sangat besar. Sebagian besar penduduk pernah melalui kesulitan selama perang Vietnam, sehingga mereka dapat bangkit kembali dengan sangat cepat," ujar Nguyen.
Bagi sebagian masyarakat Vietnam yang paling rentan, situasi saat ini menjadi lebih suram. Dengan pemusatan perhatian pada pandemi, LSM menjadi salah satu kelompok yang terpukul. Yayasan Blue Dragon Children, sebuah organisasi yang menangani perdagangan manusia dan menangani anak-anak jalanan di Hanoi mengalami penurunan donasi. Kepala eksekutif organisasi Skye Maconachie mengatakan, krisis menyebabkan peningkatan tunawisma dan juga kelaparan.
"Banyak anak-anak dan keluarga yang kami tangani sudah ada dalam kemiskinan, jadi sekarang mereka mencapai puncaknya," ujar Maconachie.
"Pedagang manusia memangsa orang-orang yang lemah. Jadi kami sepertinya akan melihat peningkatan perdagangan manusia dan ekploitasi tenaga kerja selama beberapa bulan mendatang," tambahnya.
Sementara Kidong Park mengatakan, Vietnam tidak boleh kehilangan cengkeramannya karena perlawanan melawan COVID-19 masih berlangsung saat ini. Gelombang berikutnya juga masih mungkin terjadi di Vietnam karena wabah Corona masih terus dilaporkan di berbagai negara.

Artikel Terkait Lainnya

Terdepan Mengabarkan !

Back to Top


Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini