Apakah Merry Riana sedang menyebarkan toxic positivity di tengah pandemi ini ?




[ TahukahAnda.info ]  Apapun yang terjadi, you have to:
GET UP
DRESS UP
SHOW UP
NEVER GIVE UP



Itu adalah mantra dari Merry Riana untuk menghadapi pandemi ini, yang dianggap sebagai toxic positivity oleh sebagian besar netizen Twitter Indonesia.
Dari 'kacamata' saya, itu bukan toxic positivity.
Mengapa saya menganggap mantra tersebut bukan sebuah toxic positivity? Karena menurut saya, netizen menerjemahkan mantra tersebut terlalu harfiah.
Get Up = Bangun
Dress Up = Berpenampilan yang rapi
Show Up = Muncullah/hadirlah
Never Give Up = Jangan pernah menyerah.
Kurang lebih seperti itulah terjemahan harfiah dari mantra Merry Riana.
Jika dirangkai menjadi sebuah kalimat, mungkin jadinya akan seperti ini:
Bangun dari kasurmu, gunakan pakaian kantor atau seragammu dengan bersih dan rapidatanglah ke kantor untuk bekerja, dan jangan pernah menyerah!

Namun, saya melihatnya sebagai sebuah metafora.
Get Up = Bangkit
Dress Up = Jaga penampilanmu
Show Up = Hadapilah
Never Give Up = Jangan pernah menyerah, atau terus berusaha.
Kurang lebih seperti itulah terjemahan metafora dari mantra Merry Riana, menurut 'kacamata' saya.
Jika dirangkai menjadi sebuah kalimat, mungkin jadinya akan seperti ini:
Bangkit dari keterpurukanmu, jangan terus menerus tersungkur di tanah menikmati pedihnya penderitaanmu.
Tetap jaga penampilanmu — makan yang sehat (jangan junk food mulu), tetap olahraga, maskeran, sikat gigi, apapun itu.
Hadapilah masalahmu dengan dada yang bidang dan berteriak "Come at me, bro!".
Dan teruslah berusaha. Jika cara A tidak bisa menyelesaikan masalahmu, coba cara B, C, D — sampai abjad habis.
Lebih panjang yah? Ya iyalah, namanya juga metafora. Terjemahannya bebas, asal masih dalam konteks yang diperbincangkan.

Lalu mengapa terjemahan harfiah dari mantra Merry Riana dirasa sebagai toxic positivity?
Di tengah pandemi ini, kita dihimbau untuk mengurangi kontak fisik dengan orang lain, bahkan sebaiknya kita tidak bertemu dengan siapapun terlebih dulu sampai vaksin dari virus ini telah ditemukan.
Namun kita hidup di negara Indonesia. Negara yang penuh dengan keajaiban.
Jadi meskipun kasus positif masih meningkat setiap hari, pemerintah dengan percaya diri memutuskan untuk melonggarkan PSBB dan memperbolehkan orang-orang kembali bekerja di kantor, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang sudah ditentukan oleh WHO.
Tentu saja dengan dalih "Kita harus menjaga agar ekonomi tidak mati, bung!"
Sederhananya, pemerintah sedang mengorbankan rakyatnya demi kelangsungan ekonomi. Herd Immunity, my man!
Dan arti harfiah dari mantra Merry Riana itu, dirasa seolah-olah menyetujui bahwa:
Marilah kawan, kembali bekerja! Jangan takut dengan korona!
Netizen menganggap bahwa mantra itu seperti berusaha meracuni pikiran mereka untuk tetap semangat bekerja dan jangan takut, meskipun nyawa menjadi taruhannya.
Seperti pasukan yang diberikan mantra sebelum pergi bertempur ke medan perang:
Die for your country, my fellow comrade!
Mari mati demi (ekonomi) negaramu, kawanku!
Therefore, netizen mengartikan mantra dari Merry Riana adalah toxic positivity.

"Lalu apa bedanya terjemahan harfiah dan metafora dari mantra Merry Riana? Kan intinya sebenarnya kurang lebih sama?", mungkin seperti itu pikir kalian.
Jika terjemahan harfiahnya dirasa hanya ditujukan untuk kaum pekerja kantoran atau pekerja lapangan agar mengorbankan nyawanya, maka terjemahan metaforanya ditujukan untuk semua orang.
Analoginya gini:
Katakanlah kamu seorang anak muda yang baru saja memulai bisnis kecil-kecilan pada Januari 2020.
Ternyata nasib buruk menghampirimu.
Maret 2020, badai korona menerjang perekonomian dan daya beli masyarakat Indonesia.
Sekarang bisnismu sedang sekarat dan berada di ambang kebangkrutan. Padahal kamu baru saja mulai.
Apa yang sebaiknya kamu lakukan?
Berdiam diri, nangis di pojokan, meraung-raung tidak jelas dalam kamar, dan memutuskan untuk gantung diri. Itukah saran yang ingin kamu dengarkan dari teman-teman dan orang sekitarmu?
Atau kamu ingin mendengarkan kata-kata penyemangat, seperti misalnya mantra dari Merry Riana itu?
Ya tentu saja, sedih boleh. Stres boleh. Menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan faktor eksternal juga boleh, jika ingin dijadikan sebagai pelampiasan sementara.
Tapi mau sampai kapan?
Di sinilah kegunaan dari mantra Merry Riana.
Apapun yang terjadi, you have to:
GET UP
DRESS UP
SHOW UP
NEVER GIVE UP
Tapi menggunakan terjemahan metaforanya.
Bangkit dari keterpurukanmu. Jangan terus menerus tersungkur di tanah menikmati pedihnya penderitaanmu.
Tetap jaga penampilanmu — makan yang sehat (jangan junk food mulu), tetap olahraga, maskeran, sikat gigi, apapun itu.
Hadapilah masalahmu dengan dada yang bidang dan berteriak "Come at me, bro!".
Dan teruslah berusaha. Jika cara A tidak bisa menyelesaikan masalahmu, putar otak dan coba cara B, C, D — sampai abjad habis.

Akhir kata, ini hanyalah opini pribadi dari 'kacamata' yang saya gunakan. Dan sebelum kalian nyinyir:
"Halah, emang lu nya aja yang buta. Pake kacamata minus berapa lu, sampe ga bisa liat kalo itu toxic positivity?!"
Sekedar informasi saja, saya adalah salah satu orang yang juga menentang toxic positivity. Saya mengutuk toxic positivity seperti emaknya Malin Kundang mengutuk anaknya menjadi batu.
Teman-teman saya mengenal saya sebagai orang realistis, yang cenderung pesimistis. Semua hal, sebagian besar, pasti saya lihat dari sisi negatifnya. Namun karena basic-nya memang realistis, setelah saya mengutarakan negatifnya, saya mencoba mencari positifnya.
Jadi, ketika saya mengatakan bahwa dari 'kacamata' saya mantra Merry Riana itu bukan toxic positivity, percayalah bahwa penilaian saya itu sudah melalui 'saringan' realistis pesimistis yang saya miliki.
Mari utarakan opinimu di kolom komentar, atau di jawaban yang terpisah 😊






📢 Republished by [Tahukah Anda ?]  




Artikel Terkait Lainnya

Terdepan Mengabarkan !

Back to Top

Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini