Bagaimana saya bisa berhenti menjadi rata-rata ?




[ TahukahAnda.info ]  Menurut pemikiran, pengamatan, dan pengalaman saya, ada tiga faktor utama yang bisa membuat seseorang tidak lagi menjadi rata-rata. Saya asumsi, maksud Anda tentunya "di atas rata-rata", bukan di bawah rata-rata, kan?


(Dengan bermaksud meyombong, bolehlah saya menganggap diri saya di atas rata-rata? Saya tidak merasa diri paling hebat sedunia, kok. I just know my place.)


Inspirasi
Inspirasi merupakan faktor eksternal yang dapat mendorong seseorang untuk menjadi di atas rata-rata. Tulisan-tulisan motivasional dan kisah sukses orang-orang yang sering Anda baca, termasuk di Quora, merupakan inspirasi bagi kita.
Pengalaman pribadi saya, saya bisa meraih IPK tertinggi se-UI (silakan googling nama saya jika tidak percaya) dan bekerja di Google karena saya terinspirasi oleh senior saya yang telah lebih dulu melakukannya. Senior saya ini lulus ketika saya baru masuk UI. Belum apa-apa, saya sudah mendengar kehebohan bahwa senior saya dari fakultas yang sama menjadi lulusan terbaik se-UI dengan IPK di atas 3.9. Hal ini membuat saya sangat terinspirasi. Ketika saya bertemu orangnya, dia sangat rendah hati dan bahkan tidak pernah menyombongkan diri. Kami juga jarang berinteraksi (dia diwisuda ketika saya baru masuk semester 1), tetapi karena dialah saya mengalami momen Eureka!
"Oh, ternyata bisa, ya, jadi lulusan terbaik UI? Saya juga kepengen, ah!"
Beberapa tahun kemudian, saya masih mengikuti kabar senior saya karena kami berteman di Facebook. Kemudian saya mengetahui bahwa dia berhasil diterima kerja di Google. Selain senior saya, tiga orang junior saya juga berhasil magang di Google. Tentu saja saya semakin terinspirasi setelah mengetahuinya. Ini merupakan momen Eureka! saya yang kedua.
"Oh, ternyata bisa, ya, mahasiswa UI kerja di Google? Bukan hanya lulusan universitas top luar negeri."
Namun inspirasi tidak akan mengangkat kita apabila tidak disertai motivasi.
Motivasi
Semua tulisan motivasional dan kisah sukses orang lain TIDAK AKAN MENGUBAH HIDUP ANDA jika Anda tidak bertindak menanggapinya. Di sini motivasi dari dalam diri menjadi faktor internal dan pendorong terbesar untuk mengubah kehidupan seseorang.
Percuma Anda membaca ribuan halaman kisah sukses orang lain jika Anda sendiri tidak bertindak dari dalam diri.
Percuma Anda kelabakan mencari koneksi orang sukses jika Anda sendiri tidak bergerak maju.
Yang terakhir (ehem!), percuma Anda menanyakan tips-tips masuk Google dari saya jika Anda sendiri tidak rajin belajar dan berusaha keras dengan blood, sweat, and tears!
Saya jarang, tuh, menghubungi senior dan junior saya yang kerja di Google untuk bertanya-tanya terus mengenai tips bagaimana masuk Google. Saya cari sendiri informasinya melalui Internet. Ketika saya sudah siap maju wawancara, barulah saya bertanya kepada mereka apakah mereka mau menjadi referral saya (karena diminta oleh Google). Saya tidak pernah bertanya, kalau mau masuk Google syaratnya apa saja, ya? Itu pertanyaan terlalu mendasar dan bisa dicari sendiri jawabannya. Masa mau masuk Google tidak tahu syaratnya?
Soal IPK tertinggi juga sama. Saya pakai strategi, dong. Saya tahu, asal dapat A terus, maka IPK akan terjamin. Bagaimana cara supaya dapat A? Ya, belajar, belajar, dan belajar. Saya selalu duduk di bangku depan di kelas supaya saya dapat memperhatikan kuliah dengan baik. Saya selalu mencatat materi kuliah. Saya selalu mengerjakan tugas-tugas sebaik mungkin, tidak ada yang dilewati. Jika saya tidak mengerti, saya tidak segan bertanya pada asisten dosen, dosen, maupun belajar bersama dengan teman-teman. Bahkan jika masih tidak mengerti, saya mencari dan membaca buku teks tambahan (di luar buku wajib).
Selain itu, kemampuan mengukur diri juga menjadi keterampilan yang sangat penting. Jika saya ingin menjadi lulusan terbaik se-UI dan bekerja di Google tetapi saya tidak punya kemampuannya, ya percuma saja. Saya menilai diri sendiri dengan cara melihat kinerja saya selama beberapa semester awal perkuliahan. Semester 1–2 saya bisa mendapatkan banyak nilai A, berarti saya mampu, kan? Jika tidak mampu, saya harus sadar diri dan menurunkan standar.
Saya tidak selalu berhasil mencapai impian saya, kok. Salah satu impian saya yang tidak terwujud adalah berkuliah di Stanford atau MIT. Saya sudah coba sekuat tenaga, ternyata masuk graduate school ke dua universitas tersebut dalam jurusan ilmu komputer sangat sulit. Harus sudah punya publikasi sekian paper dalam konferensi top dunia. Saya akhirnya banting setir. Tidak se-worth it itu kuliah di universitas top dunia jika saya harus mengorbankan kesehatan dan kewarasan saya.
Privilege
Mohon maaf, tidak bisa dipungkiri bahwa privilege merupakan faktor penentu (jika bukan yang terbesar) apakah seseorang bisa menjadi di atas rata-rata. Dalam kasus saya:
  • Saya bisa kerja di Google — selain karena saya mati-matian bekerja keras dan berlatih — karena saya lulusan universitas bagus dan bisa bahasa Inggris level profesional.
  • Saya lulusan universitas bagus karena pendidikan saya saat SMA bagus.
  • Pendidikan SMA saya bagus karena orangtua saya sangat mementingkan pendidikan.
  • Saya bisa bahasa Inggris level profesional karena orangtua saya mengajarkan saya dari bayi.
  • Saya berasal dari keluarga yang harmonis, orangtua jarang bertengkar, ekonomi berkecukupan (tinggal di rumah, tidak pernah kekurangan makan).
  • Orangtua saya berkecukupan karena mereka juga bekerja keras semasa mudanya, lalu melakukan perencanaan yang matang sebelum menikah sehingga bisa mendidik anak-anak dengan baik.
Namun saya juga sadar, mau bekerja keras seperti apapun, akan SANGAT SULIT bagi saya untuk mencapai taraf yang lebih tinggi, misalnya seperti bos-bos Djarum atau Bill Gates. Privilege saya tidak sebesar itu.
Bagaimana jika Anda kekurangan privilege?
Menurut saya, kekurangan privilege bisa disiasati dengan menambah motivasi dalam diri. Saya sangat salut dengan orang-orang yang berjuang dari bawah tetapi bisa mencapai kesuksesan. Misalnya anak-anak daerah yang orangtuanya hidup sederhana, tetapi bisa kuliah di universitas bagus dan mendapat pekerjaan yang bagus. Namun kegigihan yang mereka perlukan sangatlah tinggi, tidak sebanding dengan mereka yang memiliki privilegeKatakanlah, 1 privilege harus ditukar dengan 100 kegigihan.
Saya juga pernah membaca, bahkan orang yang hidupnya kekurangan pun (misalnya, anak tukang becak yang bisa jadi lulusan terbaik PTN), ternyata masih memiliki privilege walaupun sedikit. Contohnya, orangtuanya miskin tetapi tidak memukuli anaknya. Atau tidak bertengkar di rumah. Suasananya cukup kondusif untuk membantu sang anak belajar.
Bagi orang-orang yang kekurangan privilege, jika Anda memiliki "100 kegigihan," maka Anda akan menemukan banyak cara untuk menjadi di atas rata-rata. Ada teman saya yang berasal dari keluarga kurang mampu, bisa kuliah di UI dan memperoleh IPK sangat tinggi karena mendapatkan beasiswa. Sekarang ia bekerja di perusahaan IT top di Indonesia.
Atau ada teman saya yang lain, mungkin kemampuan bahasa Inggris-nya tidak sebagus saya, dan keluarganya mungkin tidak bisa memberikan feedback pada statement of purpose-nya, tetapi bergabung dalam komunitas Indonesia Mengglobal yang membantu meningkatkan kemampuannya. Dia bisa kuliah di universitas top di Amerika Serikat yang program IT-nya nomor satu di sana.
Sedangkan orang yang motivasinya rendah, mau dicekoki inspirasi sebanyak apapun, akan sulit untuk memajukan dirinya. Lebih enak rebahan, main HP, ngegosip, kan?
Hidup ini pilihan. Jika kita ingin mencapai sesuatu, maka ada yang harus dikorbankan.
Kecuali Anda memiliki privilege berlebih, itu, mah, sudah untung dari sananya. Mohon pergunakan privilege Anda untuk membantu orang lain yang membutuhkannya.






📢 Republished by [Tahukah Anda ?]  




Artikel Terkait Lainnya

Terdepan Mengabarkan !

Back to Top

Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini