Cara Virus Corona Covid-19 Membajak Sel Manusia






[ TahukahAnda.info ]  Tidak seperti virus pada umumnya, SARS-CoV-2, virus corona baru penyebab Covid-19 punya cara tersendiri dalam menginfeksi sel tubuh manusia. Ilmuwan menyebut apa yang dilakukan virus ini adalah sesuatu yang 'unik' dan menyimpang.
Dalam penelitian terbaru, menunjukkan virus corona 'membajak' sekelompok sel yang berfungsi memproduksi protein untuk melawan virus, tapi juga memungkinkan serangkaian sel lainnya memproduksi protein lain.
Pola yang dilkukan SARS-CoV-2 pada sel manusia ini tidak pernah terlihat pada virus lainnya.



"Ini adalah sesuatu yang belum pernah saya lihat dalam 20 tahun mempelajari virus," kata Benjamin TenOever, virolog dari Icahn School of Medicine at Mount Sinai, AS, seperti dilansir dari Stat News, Selasa (1/6/2020).
Benjamin mencontohkan perilaku virus influenza dan SARS yang mewabah di tahun 2003.
Pada virus influenza dan SARS, dikatakan TenOver, ketika virus masuk ke dalam tubuh maka kelompok sel yang terinfeksi segera menyadarinya dan menghasilkan inteferon.
Inteferon adalah protein yang berfungsi memberikan sinyal kepada sel-sel lainnya untuk meminta "bala bantuan" melawan virus.
Sebut saja, ini kelompok sel A, di mana interferon membantu mengaktifkan sel-sel yang berfungsi memperlambat virus melakukan replikasi hingga berjumlah jutaan.
Proses pertahanan ini berlangsung tujuh hingga sepuluh hari, yang sekaligus mengulur waktu sehingga kelompok sel lain bisa bertindak.
Kini ada kelompok sel B yang menghasilkan kemokin, protein dengan fungsi memberi sinyal "datang ke sini!" pada sel lainnya, suatu proses yang dikenal sebagai kemotaksis.
Singkatnya, kemokin mengarahkan sel untuk pergi ke daerah yang terkena virus.
Sel yang dipanggil adalah Sel-T yang berfugsi untuk membunuh virus dan Sel-B yang berfungsi untuk membuat antibodi.
Saat menerima sinyal dari kelompok sel B, kedua jenis sel tersebut akan segera berpacu ke lokasi di mana terdapat sel-sel yang terinfeksi virus.
Jika itu semua berjalan baik, yakni kelompok sel A mampu menekan replikasi virus dengan waktu yang cukup lama, maka Sel-T yang merupakan pembunuh profesional bisa segera mematikan virus setibanya di lokasi. Jika tidak, tentu seseorang akan jatuh sakit.
Namun berbeda dengan SARS-CoV-2, yang secara unik memblokir suatu pertahanan sel tetapi mengaktifkan sel lainnya.
Ini berdasarkan penelitian yang dilakukan tenOever dan rekannya yang telah dipublikasikan dalam jurnal Cell.

Penelitian tersebut dilakukan dengan mempelajari sel-sel paru-paru manusia yang sehat yang ditumbuhkan di laboratorium, lalu pada musang (hewan yang mudah terinfeksi virus), dan pada sel-sel paru-paru pasien positif Covid-19.
Pada ketiganya peneliti menemukan bahwa setelah tiga hari terinfeksi, virus corona menginduksi sel-sel untuk memproduksi sitokin secara berlebihan.
Sitokin adalah protein inflamasi imun yang berfungsi untuk menangkal infeksi.
Namun, produksi sitokin ini pada akhirnya memblokir interferon yang berfungsi mengaktifkan sel untuk menekan replikasi virus. Alhasil, tidak ada rem untuk virus mereplikasi diri.
Malahan yang terjadi adalah badai sitokin yang memicu terjadinya peradangan di paru-paru. Sitokin memang baik untuk mengaktifkan sel imunitas tapi jika berlebihan itu akan berdampak buruk.
Badai sitokin pada paru-paru, membuat paru-paru dipenuhi cairan dan sel-sel imun yang pada akhirnya dapat menyebabkan penyumbatan jalan napas, kemudian timbul sesak napas dan bahkan dapat berakibat kematian.
Oleh TenOver, perilaku virus SARS-CoV-2 unik dan menyimpang saat menginfeksi sel tubuh manusia, bagaimana virus memanipulasi genom targetnya.
Dalam studi terbaru lainnya, para ilmuwan di Jepang menemukan SARS-CoV-2 memiliki aktivitas anti-interferon yang kuat, melebihi virus Influenza dan SARS.
Di samping itu, tim peneliti di Icahn School juga tidak menemukan adanya interferon dalam sel paru-paru pasien Covid-19.
"Tanpa interferon, tidak ada yang bisa menghentikan virus untuk mereplikasi diri dan membusuk di paru-paru selamanya," kata TenOever.
Pada orang tua, serta mereka yang menderita diabetes, penyakit jantung, dan kondisi-kondisi lain yang mendasarinya, bagian ajakan untuk mengangkat sistem kekebalan tubuh lebih lemah ketimbang pada orang yang muda dan lebih sehat, bahkan sebelum virus corona menginfeksi.
Itu sangat mengurangi kemampuan sel untuk merobohkan replikasi virus dengan interferon, dan ketidakseimbangan sistem kekebalan terhadap respons peradangan yang berbahaya.
Vineet Menachery dari University of Texas Medical Branch menyatakan, penemuan bahwa SARS-CoV-2 sangat menekan sel memproduksi interferon sekaligus menunjukkan bahwa dengan menggunakan obat interferon dapat mencegah gejala Covid-19 yang lebih parah.
Interferon memang merupakan protein alami yang diproduksi tubuh, namun interferon juga tersedia dalam bentuk obat yang bekerja dengan meningkatkan respon kekebalan tubuh dan menghambat pertumbuhan virus.
Pada sebuah studi, yang kini masih dalam pracetak, Menachery bersama rekannya meneliti sel-sel manusia yang ditumbuhkan di laboratorium dan juga menemukan bahwa SARS-CoV-2 mencegah sel menghasilkan interferon.
Tapi ketika sel-sel tersebut menerima obat interferon IFN-1 sebelum terpapar virus corona, hasilnya menunjukkan setelah menginfeksi, virus jadi mengalami kesulitan untuk mereplikasi diri.
Setelah beberapa hari, jumlah virus dalam sel yang terinfeksi dan diberi interferon menjadi 1.000-10.000 kali lipat lebih rendah, dibandingkan dengan sel yang terinfeksi namun tidak diberi obat interferon.

Obat Interferon Bagi Orang Sehat

Saat vaksin dan obat corona yang tepat ditemukan, kemungkinan untuk mengakhiri dan mencegah pandemi Covid-19 besar.
Hingga saat ini, remdesivir jadi jenis obat yang disetujui untuk mengobati pasien Covid-19 dengan gejala yang buruk.
Namun, studi genetik menyarankan strategi ketiga yakni obat pencegahan.
Seperti menggunakan pengobatan yang disebut interferon tipe-1 untuk menghentikan virus mereplikasi dan menginfeksi banyak sel dalam tubuh.
Memang memberikan obat kepada orang sehat merupakan hal yang aneh dibandingkan memberi obat pada yang sakit, belum lagi bisa memberikan efek samping.
Berbagai interferon, yang diresepkan untuk hepatitis, kanker, dan banyak penyakit lainnya, dapat menyebabkan gejala seperti flu.
"Pengobatan interferon penuh dengan komplikasi," kata Menachery.
Kendati demikian, rasanya sebanding antara risiko dengan manfaatnya, baik bagi individu ataupun masyarakat.
Ketika ada pengobatan, seperti interferon atau lainnya, di mana terbukti mampu mengurangi risiko gejala Covid-19 yang serius atau bahkan membuat infeksi hampir tak bergejala.
"Interferon akan memperingatkan sel-sel bahwa virus akan datang, sehingga pretreatment seperti itu memungkinkan sel yang menerima pengobatan interferon untuk menangkis virus dengan lebih baik dan membatasi penyebarannya," jelas Menachery.
Penulis: Yohana Artha UlyEditor: Gloria Setyvani Putri






📢 Republished by [Tahukah Anda ?]  




Artikel Terkait Lainnya

Terdepan Mengabarkan !



Back to Top