Hal-hal apa yang sudah membuatmu tidak tertarik lagi, seiring bertambahnya usiamu ?






[ TahukahAnda.info ]  1. Membuat feed & story aesthetic di Instagram. Ini kegiatan unfaedah yang dulu sangat saya sukai. Postingan Instagram yang aesthetic memang eye-catching sih, tapi sungguh ini kegiatan yang menyita waktu. Bisa seharian atau berhari-hari hanya untuk memilih filter foto yang pas, instagramable dan tak lupa caption sok iye ala-ala. 




Bahkan hanya untuk sebuah story yang hanya ditampilkan 24 jam pun, saya butuh waktu sampai 1 jam untuk mengeditnya. Hahaha. Kini terhitung 10 bulan saya menonaktifkan akun Instagram pribadi..dan ternyataaa..sedamai itu hidup tanpa pencitraan di Instagram, pemirsa.


Deep sarcasm, huh ?
2. Membeli barang-barang branded yang sebenarnya tidak dibutuhkan, makan enak di kafe atau restaurant mahal, tiap hangout wajib OOTD, berburu spot foto yang sedang hits hampir setiap hari. Demi apa ? Lagi-lagi demi konten Instagram. Serta pengakuan sosial dari orang-orang yang tidak saya sukai atau yang pernah membully saya dong. Semua konten sosial media saya seolah berkata :
"Hey..lihat aku..aku yang dulu pernah kau bully sudah "naik kelas" ini lhooo"
Hahaha..seiring berjalannya waktu kok saya capek ya hidup begitu. Pemasukan yang saya dapat juga seakan mengalir begitu saja. Meski dari segi positifnya ya memang saya berhasil mengubah "personal branding" dari hasil kerja keras saya. Sekarang saya lebih menurunkan gaya hidup. Apalagi sejak saya tidak perlu memusingkan konten Instagram. Membeli barang branded hanya ketika butuh, tidak branded pun sekarang tidak apa-apa asal kualitas dan designnya masih bagus. Makan di resto mahal sesekali saja, itu juga karna memang rasa makanannya enak. Sisi positifnya yang lain, saya sudah bisa menabung karna sudah tidak perlu mengeluarkan biaya eksistensi demi pengakuan orang lain lagi:)
3. Berprinsip YOLO. Apa yang ada hari ini ya sudah dinikmati hari ini, peduli setan dengan esok hari. Hidup rasanya ingin memikir bahagianya saja. Usia sudah menginjak kepala 2, tapi jiwa masih anak-anak SMA. Lagi pula saya sudah capek bekerja, apa salahnya membahagiakan diri sendiri. Sampai akhirnya adik saya mengabari, sebentar lagi dia akan tes untuk diangkat menjadi karyawan tetap karna sudah 2 tahun bekerja. And DAMN!!! Seketika saya merasa sangat tua. Padahal rasanya baru kemarin saya membantu biaya sekolahnya. Sekarang saya sudah mulai memanage keuangan saya. Mengumpulkan modal dan mulai berpikir untuk membuka usaha, memutar kembali uang menjadi cuan. Karna seiring bertambahnya usia & kebutuhan, saya menyadari sudah tidak bisa lagi mengandalkan satu pemasukan. Terlebih saya anak pertama dan sudah tidak berbapak. Kalau bukan saya yang memperjuangkan masa depan saya, siapa lagi heyyy?
Sedang mentirakatkan diri, sebelum benar-benar "ditirakatkan" oleh kehidupan itu sendiri:)
4. Dulu suka sekali makan makanan yang sangat pedas. Perokok aktif. Malas olahraga. Abai dengan kesehatan intinya. Sekarang saya sudah tidak bisa & tidak mau lagi begitu. Badan saya langsung bereaksi jika pola hidup saya mulai barbar. Tenggorokan saya gampang radang sekarang jika kebanyakan makan pedas atau goreng-gorengan. Belum lagi muka juga jadi gampang berminyak atau bruntusan, karna pola makan yang sembarangan. Meski belum berhenti total, setidaknya kini dalam sebulan saya merokok tinggal hitungan jari. Bahkan rokok yang saya beli sebelum pandemi Corona datang ke Indonesia, baru habis bulan ini. Hahaha. Selain itu kabar kematian mantan saya yang perokok berat, tetangga saya yang baru berusia 30 tahun tapi sudah terkena stroke atau orang-orang muda yang saya kenal meninggal terkena serangan jantung mendadak, menyadarkan saya bahwa soal kesehatan tidak bisa lagi sebercanda itu:)
5. People pleaser. Tidak enak hati ketika menolak pertolongan. Sungkan menagih & lebih mengikhlaskan uang yang dipinjam orang. Terlalu royal & suka sekali mentraktir teman-teman. Kalau yang satu ini saya melakukannya bukan karna motif apa-apa sih, pada dasarnya memang saya tipikal orang yang senang ketika bisa membahagiakan orang. Namun ketika peristiwa buruk menimpa dan mungkin juga bagian dari seleksi alam, ternyata saya tidak sespesial itu di mata orang-orang yang saya spesialkan. Padahal di saat saya sedang terpuruk, bukan materi sebagai timbal balik yang saya harapkan. Sesederhana kehadiran atau support moril, itupun sudah membuat saya bahagia. Tapi nyatanya tidak ada. Sekarang saya lebih memilih membahagiakan orang lewat kegiatan kemanusiaan. Menolak memberi hutangan, tak peduli itu keluarga atau teman. Biarkan saja dibilang pelit dan kejam. Toh ternyata mereka selama ini tak lebih dari parasit yang sekedar memanfaatkan.






📢 Republished by [Tahukah Anda ?]  




Artikel Terkait Lainnya

Terdepan Mengabarkan !



Back to Top