Heboh Joke Gus Dur, Siapa Hoegeng yang Disebut Polisi Baik?








[ TahukahAnda.info ]  Gus Dur tengah menjadi trending topic di Twitter pada hari ini (18/6). Topik ini dipicu kabar pemeriksaan seorang yang posting joke Gus Dur soal polisi di akun media sosialnya. 
Ismail Ahmad, warga Kepulauan Sula, Maluku Utara, diperiksa di Polres setempat karena humor yang pernah dilontarkan Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid soal polisi yang baik. Kutipan tersebut berbunyi; 'Hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia: patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng'. Kepolisian meminta Ismail meminta maaf karena sudah membagikan humor Gus Dur itu. 


Lantas siapa Jenderal Hoegeng yang disebut Gus Dur dalam humornya itu?
Hoegeng yang dimaksud adalah Hoegeng Imam Santoso yang pernah menjabat Kepala Kepolisian RI pada 9 Mei 1968- 2 Oktober 1971. Ia dikenal sebagai polisi yang jujur, tak mempan disuap, dan hidup sederhana. (Baca profil selengkapnya di SINI)
Salah satu kasus terkenal yang pernah dihadapi adalah kasus pemerkosaan "Sum Kuning" yang melibatkan beberapa anak pejabat. Kasus pemerkosaan Sumarijem, ini coba ditutupi dengan merekayasa seolah Sum memberi keterangan palsu bahwa ia tidak diperkosa tapi berhubungan badan dengan seolah seorang penjual bakso bernama Trimo. 
Sum juga sempat dituding anggota Gerwani hingga harus membuka pakaiannya karena petugas mau mencari tanda PKI di badannya. Baik Sum dan Trimo menerima siksaan supaya mereka mengiyakan rekayasa kasus itu. Namun keadilan masih berpihak kepada mereka karena hakim memutus vonis bebas karena Sum tidak terbukti memberi kesaksian palsu.
Lalu bagaimana dengan para pelaku?


Usai vonis itu, Kapolri Hoegeng turun tangan. Ia membentuk tim pemeriksa agar semua anak polisi dan pejabat yang diduga terlibat pemerkosaan diseret ke pengadilan. Petugas yang merekayasa juga bakal kena hukuman. 
“Kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi kalau salah tetap kita tindak,” kata Hoegeng.
Belum selesai penyelidikan, kasus ini diintervensi pemerintah pusat karena dianggap meresahkan negara dengan pemberitaan yang begitu menghebohkan. Kasusnya ini kembali masuk ke pengadilan namun anehnya tak satu pun anak pejabat terseret. 
Tidak lama setelah itu, Hoegeng dicopot. Agaknya pusat tak setuju dengan caranya menangani kasus. Sum Kuning itu hanya salah satunya saja.
Seperti biasa pada era Orde Baru itu, pejabat yang dianggap tak sejalan dengan Presiden Soeharto akan diparkir menjadi duta besar. Ia dipanggil orang nomor satu di republik ketika itu. “Bagaimana, Mas Hoegeng, mengenai dubes itu?” tanya Soeharto.
Hoegeng tidak tertarik menjadi duta besar, jadi mantan menteri era Presiden Sukarno ini siap menerima tugas lain di dalam negeri. 
“Di Indonesia tidak ada lowongan, Mas," balas Soeharto.
“Kalau begitu, saya keluar saja.”
Maka pensiunlah Hoegeng pada 2 Oktober 1971. Ia mengakhiri karier dengan harta seadanya. Ia bahkan sampai harus mencari pendapatan tambahan untuk menyambung hidup dengan memandu acara musik Hawaian di TVRI dan menjadi penyanyi pada acara tersebut. 
Hoegeng pernah berujar betapa sulitnya menjadi pejabat yang jujur. "Yang paling berat adalah dikeroyok rekan sendiri untuk meremehkan hukum dan menomorsatukan kepentingan pribadi," ujarnya.
Jenderal Hoegeng wafat pada 14 Juli 2004 setelah menjalani perawatan di RSCM Jakarta karena stroke. Ia dikebumikan di pemakaman umum Giri Tama, Bogor karena ia sempat berpesan agar tidak dibawa ke Taman Makam Pahlawan Kalibata.






📢 Republished by [Tahukah Anda ?]  




Artikel Terkait Lainnya

Terdepan Mengabarkan !

Back to Top

Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini