Kenapa Turki akhir-akhir ini terkesan menjadi negara agresif di TIMTENG, Serang Suriah & intervensi Libya ?






[ TahukahAnda.info ]  Pertanyaan: Kenapa Turki akhir-akhir ini terkesan menjadi negara agresif di timur tengah, seperti menyerang Suriah dan intervensi di Libya?




Pengamatan Anda tajam! Media di Indonesia tidak terlalu banyak meliput sepak terjang geopolitik dan militer Turki akhir-akhir ini. Hanya yang mengikuti berita seputar MENA dari sumber internasional yang banyak melaporkan agresivitas Turki.
Sebenarnya sepak terjang Turki tidak hanya "akhir-akhir ini" saja. Ini kebetulan saja jadi cukup rame karena Turki sibuk di tiga palagan sekaligus: Suriah, Irak, dan Libya.
Palagan Suriah
Tentang alasan militer Turki menginvasi Suriah timur laut, saya jabarkan cukup panjang di postingan-postingan Quora sbb:
Singkatnya: Perang Saudara Suriah membuat Kurdistan Suriah menguat sebagai enklav otonom, ditambah dengan support dari AS karena milisi SDF yang didominasi milisi Kurdi menjadi tulang punggung dalam memberantas ISIS. Di dalam SDF sebenarnya ada YPG, yang afiliasinya dengan partai PYD yang adalah cabang Suriah dari PKK (Partai Pekerja Kurdistan, musuh pemerintah Turki, yang ingin memerdekakan Kurdistan). Jadi Turki menginvasi Kurdistan Suriah untuk mencegah Kurdistan Suriah menjadi tempat perlindungan PKK.
Palagan Irak
Kalau serangan militer Turki ke Irak utara, ini satu paket dengan misi ke Suriah timur laut (Kurdistan), yaitu buat ngejar PKK yang bersembunyi di provinsi otonom Kurdistan Irak. Pengejaran dilakukan bahkan sampai ke pegunungan Sinjar.
Kenapa pemerintah Irak tidak menangkal?
  1. Karena serangan Turki dilakukan ke wilayah provinsi otonom Kurdistan, itu udah hampir kayak negara sendiri di dalam Irak. Menurut hukum, tentara Irak tidak boleh masuk ke wilayah provinsi Kurdistan.
  2. KRG (Pemerintah Daerah Kurdistan) berkuasa bisa dibilang adalah sekutu Turki. Hubungan ekonomi Kurdistan Irak dengan Turki cukup erat.
Palagan Libya
Saya menjelaskan tentang motif Turki terlibat di Perang Saudara Libya di postingan berikut ini:
Singkatnya: untuk mendapatkan akses Laut Mediterania timur yang kaya minyak dan mencegah Yunani-Siprus membangun pipa minyak di sana.
Faktor Erdogan dan Neo-Ottomanisme


Tidak bisa disangkal, Turki yang agresif adalah fenomena yang relatif baru, tepatnya sejak Beliau ini berkuasa.
Recep Tayyip Erdogan adalah politikus berhaluan Islamis yang afiliasinya dengan partai beraliran Ikhwanul Muslimin AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan). Untuk pertama kalinya dalam sejarah Turki partai Islam bisa menang secara kuat sehingga Erdogan mendapatkan posisi PM sejak 2003. Erdogan tidak hanya populer, dia juga memulihkan ekonomi Turki yang jatuh di resesi 2001 dan melakukan investasi besar di bidang infrastruktur. Pemerataan ekonomi terwujud sampai ke pelosok Anatolia, daerah yang secara historis miskin. Rakyat lebih banyak mendapat akses pelayanan sosial seperti RS. Popularitasnya makin menguat sehingga dia bisa memenangkan referendum konstitusi dua kali, termasuk yang membuat dia bisa menjabat presiden lebih lama dan kekuasaan presiden jadi lebih banyak daripada PM.
Yang membedakan Erdogan dari pendahulu-pendahulunya di Turki ada dua:
1. Pengaruh Islamisme.
Pemerintahan Erdogan berupaya lebih 'mengislamkan' Turki, yang tentunya membuatnya dibenci oleh sekularis/Kemalis garis keras. Seperti pembatasan berjualan alkohol (yang kalau dibanding di Indonesia, tetep aja jauh lebih longgar di Turki, tapi ini udah bikin ribut dengan kubu sekularis), seragam pramugari Turkish Airlines yang lebih memperlihatkan 'identitas Turki/Ottoman' (sebelumnya seragamnya orientasi maskapai Eropa banget), upaya untuk membuat Hagia Sofia menjadi mesjid lagi (gagal) dll. Banyak dari langkah-langkah politik Islamis ini belum tentu dari Erdogan pribadi, tapi dengan berkuasanya Erdogan dan AKP menjadikan kubu Islamis lebih berani memasukkan agenda-agenda mereka (khususnya dalam penerapan Syariat Islam) di hukum Turki. Mirip dengan PKS di Indonesia lah, tapi versi Turki.



Erdogan juga mengarahkan Turki untuk lebih berkonfrontasi dengan Israel (ingat kejadian Marvi Marmara?), tidak seperti pemerintah Turki sebelumnya.
Ini semua membuat Erdogan menjadi figur yang populer di dunia Islam. Waktu Arab Spring dia mengunjungi Mesir dan mendapat sambutan bak rockstar di publik Mesir. Di Indonesia aja dia punya fans club-nya sendiri (Sahabat Erdogan).
2. Neo-Ottomanisme (Neo-Ottomanism - Wikipedia).
Ini bukan kebijakan resmi mungkin, tapi kesimpulan dari para pengamat melihat kebijakan luar negeri era Erdogan.
Walaupun di awal-awal Erdogan lebih agresif dalam mengupayakan keanggotaan Turki di Uni Eropa (gagal), belakangan Erdogan sepertinya tidak lagi peduli dengan Uni Eropa, khususnya waktu AS-Eropa mengalami krisis ekonomi parah (Yunani sempat mau keluar dari Uni Eropa) sementara Turki lagi kuat-kuatnya ekonominya. Di era Erdogan Turki lebih banyak mengambil kebijakannya sendiri dan tidak mau didikte-dikte oleh AS, pemimpinnya di NATO. Ini terbukti di Suriah dengan keengganannya menumpas ISIS. Erdogan seperti sedang mengatakan kepada dunia bahwa Turki akan mengambil kembali apa yang dirampas dari Ottoman, yaitu posisi sebagai pemimpin dunia muslim.
Erdogan pada akhirnya lebih memusatkan perhatiannya ke wilayah-wilayah bekas Ottoman, yaitu Timur Tengah, Kaukasus dan Afrika Utara. Ini menjelaskan hubungan mesranya dengan Azerbaijan, keterlibatannya di Suriah, Libya, Irak, dan posisinya yang berhadapan dengan Arab Saudi, Mesir dan UAE di percaturan geopolitik kawasan. Erdogan bahkan mengirim pasukannya ke Qatar waktu negara itu di-blokade oleh Saudi cs.
Erdogan tahu keunggulan geografis Turki yang menjadi jembatan Eropa dan Asia, sebagaimana Imperium Ottoman dulu, dan dia menggunakan semua potensi Turki itu untuk meluaskan pengaruh Turki di kawasan. Bisa dibilang Erdogan juga melakukan pertaruhan tingkat tinggi, seperti yang kita lihat di Suriah dan Libya dia membela pihak yang lemah dalam Perang Saudara.
Jadi Erdogan itu 11–12 dengan Putin di Rusia. Strong man, populer di kalangan rakyat (walaupun belakangan ekonomi menurun, popularitasnya masih relatif tinggi), bisa berkuasa lebih lama dengan mengubah konstitusi, akrab dengan kalangan agamawan dan konstituen relijius, kebijakan luar negerinya agresif dan berorientasi bekas wilayah imperium terdahulu.
Sejarah memang sering berulang. Ancaman terbesar Imperium Ottoman adalah Imperium Rusia. Lalu di era Republik Turki Uni Soviet mengepung dan mengancam Turki (maka Turki gabung ke NATO). Hal tsb terulang lagi di era Erdogan-Putin, khususnya di palagan Libya dan Suriah. Walau begitu, keduanya bisa duduk bareng dan nge-deal untuk bikin pipa minyak Turkstream yang mengalirkan minyak dari Rusia lewat Laut Hitam ke wilayah Edirne untuk kebutuhan Eropa selatan.
Inaugurasi Turkstream
Menarik untuk kita lihat ke depan, bagaimana percaturan Erdogan, Putin, MBS (Arab Saudi), Netanyahu (Israel) dan Iran di MENA ini.
Buat yang mau belajar geopolitik Turki, saya rekomen tiga video Youtube ini dari channel CaspianReport.


📢 Republished by [Tahukah Anda ?]  




Artikel Terkait Lainnya

Terdepan Mengabarkan !



Back to Top