Mengapa RRT di bawah Xi Jinping banyak insiden internasional dan 'musuh'-nya ?




[ TahukahAnda.info ]  Terus terang, sekarang ada 2 hal utama yang mendesak dalam politik global: populisme, dan dengan demikian, chauvinisme/arogansi.

Kekhawatiran saya, kita sedang menatap permulaan era perang dingin dengan aktor pengganti (RRT pengganti USSR), jika bukan benih-benih perang dunia ketiga.


Masalahnya bukan cuma di RRT saja meski mereka relatif baru dalam panggung kekuatan adidaya, dan sering salah/kurang dimengerti. Barat (AS dan sekutu) pun punya andil negatif yang tidak kecil. Implikasinya jadi ke mana-mana dan membuat saya menyadari betapa bijak dan visionernya para pemimpin besar Indonesia masa lalu. I'll get to that later.



Apa yang bisa saya asumsikan sedari awal, Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok sekarang berimbang dan sama kerasnya. Jika Tiongkok dan Xi Jinping tampak banyak 'dimusuhi' dunia karena banyak alasan, tapi barat sendiri gagal/mundur dalam kepemimpinannya.
Oke, mari memulai bahasan yang panjang dan kompleks ini. Siapkan kopi dan kuota internetmu ya!

Apa itu populisme?
a political approach that strives to appeal to ordinary people who feel that their concerns are disregarded by established elite groups.
Ciri-ciri utama politik/budaya populisme adalah aktor utama yang membangun narasinya berasal dari kaum elite sendiri, tapi kebijakan yang dikeluarkannya cenderung agresif dan pada akhirnya menguntungkan kaum elitis (pemodal, 1 percenter, penguasa tinggi, dkk).
(kita sedang bahas RRT dan AS ya, tolong fokus)
Bagaimana dengan chauvinisme?
exaggerated or aggressive patriotism.
Dengan kata lain, overproud terhadap negaranya dan ofensif buta kepada bangsa/negara lain (jangan tanya lagi kalau terhadap rivalnya).
——
Bagaimana RRT Bertransformasi Menjadi Adidaya
Kamu mungkin sudah melihat statistik total GDP dunia oleh Visual Capitalist yang mencengangkan di salah satu jawaban saya, tapi jika dengan menghitung break down elemen Purchasing Power Parity (PPP), hasilnya lebih mencengangkan lagi di mana RRT melebihi AS:
Yang mungkin banyak orang tidak sadari (kalau tidak belajar sejarah atau ekonomi internasional), sebelum memasuki dekade 1980-an RRT masih terjebak sebagai negara agraris dengan lebih 80% rakyatnya tinggal di pedesaan dan pinggiran kota, terjebak dalam kemiskinan absolut. Program-program revolusioner seperti "Lompatan Jauh ke Depan" (da yuejin) dan "Revolusi Kebudayaan" (xinhua geming) bapak bangsa RRT Mao Zedong belum berhasil mengangkat derajat penghidupan negara&bangsanya.
Statistik says it all tentang pertumbuhan GDP RRT, from nada to tadaa:
IMF dan World Bank sepakat bahwa RRT kini bahkan sudah melampaui AS dalam hal penghitungan GDP yang dibagi dengan PPP (seperti yang juga bisa dilihat dari statistik Visual Capitalist di atas tadi). Ini perjalanan historisnya terutama sejak era 90 di mana RRT kali pertama membuka kembali bursa saham Shanghai-nya:
(interestingly enough, USSR sebagai adidaya blok Timur kolaps pada tahun-tahun itu)
Milestone keajaiban transformasi RRT menjadi kekuatan adidaya dunia kira-kira bisa diringkas sbb:
Dalam kata-kata berbahasa Indonesia:
  • 1977: Mao Zedong mangkat; 1979: Kebijakan 1 Anak; 1978: Gaige kaifang (reformasi keterbukaan) oleh Deng Xiaoping yang naik ke puncak kepemimpinan RRT. Slogan populer gebrakan Deng misalnya: "Menjadi kaya itu mulia" (zhifu shi guangrong), "Tidak peduli kucing hitam/putih, selama bisa menangkap tikus", dsb,
  • 1981 ke atas: Kebijakan agraris baru di mana pertanggungjawaban produksi agraris berada di wewenang manajer daerah setempat. Sistem itu lalu dipakai juga di sektor lain seperti UKM, dan standar kehidupan meningkat drastis lalu terjadi urbanisasi besar-besaran,
  • 1989: Strategi pengembangan kawasan garis pantai. Di titik inilah mulai terjadi fokus pembangunan titik-titik sentra UKM dan manufaktur dan basis ekspor global,
  • 1990–1991: Bursa saham Shanghai dan Shenzhen dibuka kembali. Saat ini kapitalisasi nilai bursa itu sudah lebih US$8,5 triliun. Hmm berapa Rupiah tuh ya? Banyak banget 0-nya pastinya, 1994–1996: Pencanangan Program Pengentasan Kemiskinan 8–7. Hingga tahun 2002 RRT berhasil mengeluarkan lebih 400 juta jiwa keluar dari kemiskinan absolut; 1997–1999: Krisis Moneter Asia, dan RRT tidak terpengaruh karena mata uangnya sengaja tidak bisa ditukar/diperdagangkan. Hongkong dan Macau kembali pada wilayah kesatuan RRT. 1999: Fokus pengembangan wilayah barat menjadi 5 daerah otonomi dan 1 daerah khusus (municipality),
  • 2001: China bergabung dengan WTO. Hingga 2012, derasnya FDI yang masuk ke RRT telah mengubah level kompetensi negaranya dan pada 2010: RRT sukses menyalip GDP Jepang dan menjadi yang terbesar kedua di bawah AS,
  • 2013 ke atas: Mulai aktif untuk membangun soft power internasionalnya seperti Silk Road Economic Belt dan 21st-Century Maritime Silk Road.
Foto-foto berikut ini mungkin akan membuatmu tercengang bagaimana RRT telah berubah menjadi negara besar yang diperhitungkan dunia.
Hangzhou 1900 vs 2016:
Chengdu 1994 vs 2016:
Jalan Nanjing di Shanghai 1940 vs 2016:
Shanghai 1920 vs 2009:
Shenzhen 1980 vs 2017:
——
Bagaimana Dunia (terutama barat) Tampak Memusuhi RRT
Pada awal Mei 2020, 200-an pasukan patroli perbatasan India dan Tiongkok saling berhadapan di kawasan pedalaman sengketa Kashmir Himalaya yang terkenal sebagai zona demarkasi Line of Actual Control (LAC), dan terjebak pada kedamaian yang rapuh. Pada 15 Juni semuanya berubah menjadi konflik berdarah tanpa senjata api di lembah sungai Galwan. Setidaknya 20 jiwa tentara India melayang dan tentara Tiongkok setali tiga uang, meski tidak ada angka resminya.
‘Perkelahian kecil berdarah’ di kawasan sengketa LAC Ladakh antara India vs RRT adalah sebuah fenomena yang jarang sekali terjadi (dan pastinya bukan yang terakhir), padahal RRT selama ini sangat berhati-hati tidak pernah berkonfrontasi terbuka. Masih ingat doktrin "RRT bangkit secara damai" di bawah kepemimpinan eks Presiden Hu Jintao?
Konflik RRT vs India ini seperti puncak gunung es di mana di dasarnya RRT sibuk membela dirinya di berbagai lini (konflik global). Ketika dunia terjebak dalam survival mode akibat pandemi Covid-19; Perang dagang AS–RRT yang berkepanjangan; Demonstrasi demokrasi berdarah Hongkong (dan sekarang diberlakukan UU Keamanan Nasional RRT di sana yang dianggap sudah mematikan demokrasi lebih awal 20 tahun dari yang seharusnya); Kebangkitan nasionalisme Taiwan baru-baru ini; Sentimen negatif dunia (misalnya Australia dan Uni Eropa) terhadap kualitas buruk masker dan APD buatan RRT; Sikap diamnya media-rakyat-pemerintah Pakistan yang tidak seperti biasanya terhadap konflik berdarah India vs RRT; Hingga ‘dukungan informal’ AS kepada India atas Landakh via Indo-Pacific Strategy yang kemudian berujung pada tawaran mediasi AS (tapi ditolak India dan RRT) dan penerimaan PM Modi atas undangan eksklusif Donald Trump pada KTT G7 mendatang.
Mendekode pernyataan sikap resmi pejabat tinggi RRT secara eksplisit (manuver politik luar negerinya) saat ini teramat sulit karena mereka cenderung menghindari argumen frontal atas suatu isu panas dan terkenal berdiplomasi senyap. Ada sebuah filosofi perang Sun Tzu,
Berdiam diri sehingga jadi tak terlihat. Jadilah misterius sehingga tak tersentuh. Maka kamu akan bisa mengontrol nasib lawanmu.
Dalam salah satu doktrin terkenal Deng Xiaoping, itu dikenal sebagai "tao guang yang hui” yang bermakna “diam-diam dan sabar, tapi selesaikan/capai sesuatu”.
Masalahnya adalah, asertivitas RRT saat ini sudah terang-terangan, misalnya:
Melihat asertivitas RRT di Laut China Selatan belakangan ini serta mungkin “agresitivitas” RRT di Ladakh, apakah doktrin persuasif Deng (dan Hu) itu masih relevan sekarang?
Secara logika, probabilitas India untuk nekat sengaja mencari gara-gara dengan RRT di Ladakh terbilang kecil, mengingat mereka sendiri sedang sempoyongan akibat pandemi Covid-19.
Yang menarik, dari pihak RRT justru bersikeras pada pendiriannya dan bernarasi, “India sedang membangun kekuatan di pinggiran LAC untuk memprovokasi Tiongkok.” Padahal RRT sendiri sudah dan terus melakukannya seperti tertuang dalam “Rencana Lima Tahun yang ke-13” di mana pembangunan kawasan pinggiran (termasuk Tibet itu) menjadi prioritas, misalnya infrastruktur yang kita tahu bisa digunakan juga sebagai kemudahan akses pengerahan tentara ke perbatasan secara masif dan cepat.
Kontradiktif kan? Para diplomat dan pemerintah barat mengistilahkan sikap agresif RRT sekarang sebagai “diplomasi pejuang serigala” (wolf-warrior diplomacy) yang namanya berasal dari sebuah film nasionalisme tentara khusus Tiongkok yang sangat populer sekarang. Dicirikan, para diplomat/petinggi RRT agresif dalam membela kepentingan nasionalnya, seringkali secara konfrontatif.
Lucunya, di sisi lain ada ini juga sebelumnya. Negara kalah perang di Asia? Hold my beer, cukup satu orang saja yang berperang:
Anak HI atau politik pasti familiar dengan figur diplomat RRT ini, Zhao Lijian, yang memang berada di garda terdepan melawan Donald Trump, Mike Pampeo cs:
Nasionalisme RRT sedang membumbung tinggi dan menjadi roh mentalitas kebangsaannya. Presiden Xi Jinping dalam pidato peringatan 95 tahun berdirinya PKT pada tahun 2016 menyebutkan tentang “Empat Bentuk Kepercayaan Diri” (si ge zixin) yang tadinya cuma tiga: jalan sosialisme—teori—sistem (negara&pemerintahan), dan penambahan baru yang signifikan, kepercayaan diri terhadap budaya Tiongkok. Xi juga menggarisbawahi tentang pentingnya “semangat dan kemampuan berjuang tinggi”.
Di bawah kepemimpinan Xi yang mengobarkan nasionalisme, pemerintah RRT saat ini tidak segan untuk asertif, dalam verbal maupun tindakan. Masih segar di ingatan, pada awal April kemarin kapal AL RRT menelenggamkan kapal nelayan Vietnam di dekat perairan kepulauan Paracel Laut China Selatan. Ketika pemerintah Vietnam memprotesnya, diplomat RRT menganggap “klaim Vietnam terhadap perairan itu ilegal” (familiar dengan klaim “historis budaya” RRT Nine Dash Line?). Pada 19 April, Kementerian Sumber Daya Alam bersama Kementerian Dalam Negeri RRT memberikan 80 nama pulau di wilayah sengketa Laut China Selatan. Yang terjadi kemudian tentu bisa ditebak, negara-negara ASEAN yang memiliki ZEE itu berdasarkan UNCLOS 1982 termasuk Indonesia, marah besar.
Merebaknya pandemi global Covid-19 juga menimbulkan kekecewaan dunia terhadap RRT. AS dan sekutu yang utamanya menuding bahwa RRT awalnya menutup-nutupi isu, sampai semuanya sekarang sudah terlambat menyebar. Yang terjadi kemudian, AS menuding “Ini China/Wuhan virus,” dan pemerintah RRT via jubir Zhao mengolahnya balik menjadi jargon nasionalisme agrersif “virus yang diselundupkan oleh militer AS.”
Familiarkan dirimu dengan dengan tokoh RRT ini juga:
Inikah yang akan selalu menghiasi tajuk politik global sekarang, ketimbang kolaborasi dan kerja sama?
——
The One True "Social-Distancing"
Kita jadi tersentak atas relevansi buah pikir Bung Hatta dulu, Mendayung Antara Dua Karang. Di tengah tantangan hidup akibat pandemi, kebijaksanaan kita dituntut agar,
pendirian jang harus kita ambil ialah supaja kita djangan mendjadi objek dalam pertarungan politik internasional, melainkan kita harus tetap mendjadi subjek jang berhak menentukan sikap kita sendiriberhak memperdjoangkan tudjuan kita sendiri, jaitu Indonesia Merdeka seluruhnja. Perdjoangan kita harus diperdjoangkan diatas dasar sembojan kita jang lama: Pertjaja akan diri sendiri dan berdjoang atas kesanggupan kita sendiri.
Bilamana Indonesia menavigasi dirinya atas gejala perang dingin ini? Simak opini para pakar&tokoh—pembahasan dunia militer—pandemi Covid-19 dsb dari edisi terbaru majalah ARMORY (FREE soft copy pdf, just let me know your email!).
Ini membuat kita berpikir lebih lanjut:
  1. Politik populisme akan mendorong sikap agresif, terlepas siapa pun aktornya,
  2. Siapa mendorong/memusuhi siapa? 'Dunia' memusuhi RRT? RRT memusuhi 'dunia'? Siapa yang lebih baik, Trump atau Xi?
Jawabannya mungkin ada dalam kebijaksaan dan kearifan Indonesia. "Social-distancing geopolitik" ala Indonesia?
Mengacu pada Visi Indonesia 2045 dan estimasi proyeksi pertumbuhan 2050, Indonesia akan menjadi kekuatan 5 besar dunia dalam 2–3 dekade lagi, bahkan melampaui Jepang dan Jerman.
Sudahkah kita bersikap bijak dan mulai membangun sedari sekarang? Itu semua tentunya tidak akan bisa kita capai jika menghabiskan energi pada politik praktis dan bersikap apatis ataupun destruktif.
Sebab salah satu kekuatan terbesar kita adalah inklusif. Bukan populisme, apalagi chauvinisme/arogansi. Bhinneka Tunggal Ika.
Mari saling memahami dan bergotong royong ya!
BONUS:
^Sutan Syahrir—Soekarno—Muh. Hatta. Kebetulan Juni adalah bulannya Soekarno.
Dan yang mencengangkan:

Beberapa Referensi





📢 Republished by [Tahukah Anda ?]  




Artikel Terkait Lainnya

Terdepan Mengabarkan !

Back to Top

Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini