Mengapa Soeharto memilih B.J Habibie untuk jabatan wakil presiden pada tahun 1998?






[ TahukahAnda.info ]  Jawabannya tentu saja karena B.J Habibie adalah anak emas Soeharto.

Soeharto adalah sosok yang meminta agar B.J Habibie kembali ke Indonesia, mengaplikasikan ilmunya untuk membangun Indonesia. Tahun 1973, Soeharto sedang merintis Orde Baru dan dia melihat kehadiran Habibie sangat krusial untuk mendukung program-programnya. Salah satunya adalah di bidang teknologi. Habibie yang saat itu sudah bekerja Messerschmitt-Bölkow-Blohm, sebuah perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman dianggap tepat untuk menjadi salah satu pembantu Soeharto.

Ajakan itu diterima Habibie, dan dia kembali ke Indonesia. Dia diberi beban berat untuk menjadi Menteri Riset dan Teknologi sejak tahun 1978. Jabatan ini diembannya hingga 20 tahun kemudian atau tahun 1998. Setiap kali pergantian pemerintahan, nama Habibie selalu ada dan sepertinya tidak mungkin tergantikan.

Habibie dan Soeharto.
Dia bisa menerjemahkan dengan baik visi Soeharto untuk mengembangkan teknologi Indonesia. Habibie dengan PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio (kelak menjadi PT. Dirgantara Indonesia) bahkan berhasil menciptakan pesawat pertama N-250 atau Gatot Kaca. Bisa dibayangkan bagaimana bahagianya Soeharto ketika untuk pertama kalinya menyaksikan pesawat buatan Indonesia itu mengangkasa tanggal 10 Agustus 1995. Dan itu tidak lepas dari jasa Habibie.
Soeharto juga melihat Habibie bukan sebagai orang yang patut ditakuti. Tidak seperti beberapa jenderal kesayangannya yang dipaksa minggir karena ada indikasi punya minat untuk menjadi presiden. Salah satunya adalah LB. Moerdani. Habibie tidak seperti itu, dia tidak pernah menunjukkan minat untuk menjadi presiden. Dia terlalu fokus pada teknologi.
Memasuki dekade 90an, Soeharto mulai mendekati kelompok Islam yang sebelumnya malah sering disingkirkannya. Soeharto lewat jenderal-jenderalnya mulai merangkul kaum ulama. Mengunjungi pesantren, dan dengan Partai Golkar-nya melakukan Safari Ramadan setiap masuk bulan Ramadan. Upaya ini disinyalir untuk menarik dukungan dari kaum Islam yang mulai menunjukkan tanda-tanda tidak menyukai Soeharto.
Di masa ini pula, Soeharto menggunakan jasa B.J Habibie sebagai cara untuk meraih simpati umat Islam. Habibie ditunjuk menjadi ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada tahun 1990. Sebuah langkah untuk merangkul para cendekiawan Muslim dengan memanfaatkan pamor Habibie yang relatif masih bersih.
Habibie terus menjadi anak emas Soeharto, bahkan menjelang akhir masa pemerintahannya konon Soeharto sudah berencana untuk menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan Indonesia pada Habibie. Alasannya, karena Habibie anak manis, tidak suka memberontak dan masih mudah untuk diatur. Salah satu caranya adalah mengangkat Habibie menjadi wakil presiden ketika Soeharto kembali naik tahta kepresidenan tahun 1998. Mungkin ini semacam magang buat Habibie sebelum dia benar-benar menjadi presiden 5 tahun berikutnya.
Malang bagi Soeharto, baru beberapa bulan pemerintahan Kabinet Pembangunan VII berjalan dia sudah harus turun akibat derasnya desakan masyarakat. Sesuai ketentuan, penggantinya adalah wakil presiden yang waktu itu dijabat Habibie. Jalan Habibie untuk jadi presiden datang lebih cepat dari yang direncanakan.
Namun, peristiwa itu juga meninggalkan luka mendalam bagi Soeharto. Dia tadinya berharap Habibie juga akan ikut turun bersamanya, tapi ternyata tidak. Habibie bahkan dengan tegas menyatakan siap menggantikan Soeharto. Habibie tetap di posisinya, bahkan menjadi presiden pengganti Soeharto. Tindakan Habibie ini membuat Soeharto terluka.
Setelah menjadi presiden, Habibie menelurkan beberapa keputusan yang semakin membuat Soeharto sakit hati. Pertama, Habibie setuju untuk menggelar referendum bagi Timor Timur yang membuat provinsi termuda Indonesia itu lepas. Soeharto tahu betul bagaimana susahnya merebut Timor Timur, dan karenanya dia kecewa ketika keputusan Habibie menyebabkan provinsi itu lepas. Kedua, Habibie juga menyetujui pengusutan kasus korupsi Soeharto. Jelas ini serasa tikaman dari belakang untuk Soeharto yang selama ini menganggap Habibie adalah anak emasnya.
Semua keputusan-keputusan itu membuat Habibie tidak pernah berhasil menghubungi Soeharto lagi. Baik bertemu langsung, atapun sekadar menelepon.
Ketika Soeharto terbaring sekarat di rumah sakit, Habibie dan istrinya sengaja terbang dari Jerman untuk menjenguk beliau, namun pihak dokter kepresidenan tidak mengizinkan. Alasannya, kehadiran Habibie bisa membuat Soeharto marah atau malah senang, namun itu dianggap bisa membuat adanya lonjakan emosi yang justru memperburuk keadaannya. Habibie menerima keputusan itu dan terbang kembali ke Jerman. Dia tidak pernah bertemu Soeharto lagi sampai pemimpin Orde Baru itu meninggal.
Si anak emas itu ternyata meninggalkan luka untuk "sang bapak". Luka yang tidak pernah benar-benar sembuh hingga "sang bapak" meninggal dunia.
Daftar Bacaan:

Artikel Terkait Lainnya

Terdepan Mengabarkan !



Back to Top