Pernah Dengar Negara yang mengimpor sampah ? Lalu Untuk apa sampah tersebut ?




[ TahukahAnda.info ]  Jadi, jawabannya adalah IYA. Impor sampah ini sudah berlangsung sejak abad ke-20, dimana kala itu aktivitas industri mulai mendominasi perekonomian negara-negara maju. Dulu impor sampah ini belum diregulasi sehingga negara-negara maju ini bisa seenak e dewe mengirimkan sampah tanpa menyortirnya terlebih dahulu. Termasuk mengirimkan limbah beracun (hazardous waste/B3). Di tahun 1989, diciptakanlah sebuah perjanjian internasional bernama Basel Convention dengan tujuan untuk mengurangi pengiriman limbah beracun dari negara maju ke negara-negara berkembang.




"Kenapa sih kok ada ya negara yang mau mengimpor sampah? Kaya nggak ada komoditi lain yang bisa diimpor aja!"
Semenjak kita masuk ke era pasar bebas, komoditi atau produk apapun yang ada di dunia dapat diekspor ataupun diimpor. Salah satunya sampah. Negara-negara maju mengirim sampah ke negara lain demi menghemat biaya. Biasanya, semua sampah akan diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Jangan salah, TPA ini mahal loh! Konstruksi TPA khusus yang memenuhi syarat dan ketentuan memakan biaya sekitar $500,000 per hektar. Setelah itu, sampah-sampah yang ditumpuk disana harus selalu dijaga dan diawasi agar tidak merusak lingkungan dan mengganggu aktivitas masyarakat sekitar. Nah, untuk mencegahnya dibangunlah stasiun pemantauan udara serta sumur gas untuk mencegah keluarnya metan. Dan aktivitas tersebut harus dipantau setiap hari, namun jumlah sampah terus bertambah.
Sumber : CNBC.com.
Sedangkan ekspor sampah ke negara lain jauh lebih murah. Triknya adalah ketika negara mengimpor suatu komoditi maka kapal kargonya akan menuju ke negara tersebut untuk mengambilnya. Nah sekalian nih di dalam kapal kargo ditumpuklah sampah yang sudah didaur ulang untuk dikirim ke negara tersebut.
*Di Gedung Putih, seorang Presiden sedang menelepon koleganya di China.*
Trump : "Halo Xi. Anda ingat kan kita sudah deal mau menjalin kerjasama ekspor-impor sampah?
Xi : "Iya, Anda maksa sih."
Trump : "Lol. Saya kan impor mesin listrik dari negara Anda. Jadi sekalian ya saya kirim sampahnya kesana. Biar hemat."
Xi : "Katanya negara kaya, tapi.."
Trump : "Ok, bye."
Lalu, apa yang didapat oleh negara pengimpor? Selain sampah yang sudah didaur ulang tentu saja duit dong, hehehe. Negara yang menerima sampah mendapatkan dana untuk menstimulus perekonomian negaranya. Apalagi jika negara tersebut adalah negara miskin dan terbelakang. Kerjasama ekspor-impor sampah bisa menjadi permulaan bagi mereka untuk masuk ke perdagangan internasional. Pendapatannya bisa digunakan untuk membangun infrastruktur dan memajukan sistem pendidikan atau kesehatan.
Apakah keuntungannya hanya berupa pendapatan saja? Tidak. Tadi kan saya tulis bahwasanya sampah yang diimpor adalah sampah yang sudah didaur ulang. Nah sampah ini kembali dimanfaatkan sebagai bahan baku industri-industri lain. Misal, sampah karet bisa digunakan untuk membuat pipa atau papan karet.



Akan tetapi, negara-negara maju ini terkadang licik; mengirimkan limbah beracun (B3) yang ditumpuk diatas sampah-sampah daur ulang. Memang sebenarnya apabila ditemukan limbah beracun, negara pengimpor bisa mengirimnya kembali ke negara asal. Namun kegiatan pengiriman juga memakan biaya yang tidak sedikit. Pemimpin Filipina, yakni Duterte pernah murka dengan Kanada karena telah menipu negaranya; mengirimkan plastik yang katanya sudah didaur ulang, eh ternyata yang dikirim malah limbah rumah tangga. Lalu limbah tersebut dibawa pulang lagi ke rumahnya #savage.
Di Afrika, sampah kiriman dari negara-negara maju ini pernah memakan korban. Contohnya adalah negara Pantai Gading. Banyak negara-negara Barat yang membuang sampah di negara tersebut. Masalahnya, sampah-sampah kiriman itu tidak didaur ulang, dan ternyata mengandung limbah beracun. Sampai-sampai seorang warga harus kehilangan dua anaknya karena terpapar zat beracun dari limbah yang dibuang di dekat desanya, Akouédo.
Selain itu, negara-negara berkembang ini juga sampahnya sudah banyak. Jadi untuk apa mereka mengimpor sampah lagi dari negara maju? Akhirnya, banyak negara yang berusaha menghentikan kegiatan impor sampah. China sudah melakukannya. Melalui operasi Blue Sky 2018, China mulai melarang impor atas hampir seluruh kategori limbah dan sampah padat. Alasannya karena China sudah punya banyak sampah dan ingin melakukan perbaikan kualitas udara, air dan tanah di lingkungannya.

Kesimpulannya, negara-negara berkembang kali ini menang; mereka sudah tidak mau lagi menerima sampah dari negara-negara maju. Memangnya negara-negara maju itu mau menerima sampah dari negara berkembang? Mana mungkin! Toxic colonialism itu namanya.
Kiss and hugs!
Sumber :






📢 Republished by [Tahukah Anda ?]  




Artikel Terkait Lainnya

Terdepan Mengabarkan !

Back to Top

Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini