Republik Afrika Tengah (RAT) yang sangat Tertinggal, Tak sanggup mengaspalkan Jalan Utama Ibukota




[ TahukahAnda.info ]  Itulah, sedih kan? Dilema negara miskin. Paling miskin sedunia lagi.
Semua ini salah pemimpinnya.
Pemimpin dari Republik Afrika Tengah (RAT) tidak pernah ada yang bagus. Hampir semuanya menunjukkan tabiat sebagai diktator.

David Dacko, menjadi presiden pertama setelah RAT mendapatkan kemerdekaan dari Perancis. Dacko ini bisa menjadi pemimpin berkat bantuan Perancis. Kenapa? Karena Perancis tidak suka dengan kandidat yang satunya lagi, Dr. Abel Goumba. Goumba merupakan salah satu aktor penting dalam perjuangan kemerdekaan RAT, bersama dengan Barthelem Boganda sang tokoh revolusioner yang berjasa memerdekakan RAT. Boganda terbunuh dalam dalam insiden kecelakaan pesawat yang misterius di tahun 1959.
Apakah David Dacko presiden yang baik? Oh, tentu saja tidak. Ia menghapus konstitusi dan menghilangkan sistem multipartai sehingga partainya, yakni MESAN, menjadi satu-satunya partai yang eksis di pemerintahan. Pemilihan presiden juga tetap ada kok. Tapi calonnya ya hanya dia sendiri. Hehehe.


Kepemimpinannya diwarnai dengan korupsi. RAT kan baru banget merdeka tahun 1960, negara ini masih di tahap merangkak menuju kemandirian ekonomi. Alias, pendapatan negara pun masih minim. Namun Dacko mengangkat banyak pegawai sipil walaupun keputusannya tersebut membebani anggaran negara. Akibatnya, muncul korupsi di berbagai lini sehingga pemerintahan menjadi tidak efektif.
Dacko kehilangan popularitasnya dan dikudeta pada tahun 1965. Pemimpinnya adalah Kolonel Jean-Bedel Bokassa. Bokassa ini adalah sepupu dari Dacko dan keponakan dari Boganda. Jadi, peristiwa yang terus berulang ini bisa dibilang sebagai konflik antar saudara.
Awalnya Dacko sudah diperingatkan akan ancaman kudeta, yang kemungkinan besar akan dilakukan oleh Bokassa. Namun, Dacko tidak percaya dan justru meremehkan asumsi tersebut.
"Pfft. Mana mungkin seorang Bokassa akan berkhianat padaku. Akulah yang membuat dia bisa naik pangkat dengan cepat! Di pikirannya dia hanya ingin mengoleksi medali saja. Bokassa terlalu bodoh untuk melakukan kudeta. Wahaha!"
……Dan akhirnya dia dikudeta. Karma itu nyata ya?
Bokassa diangkat menjadi presiden. Apakah ia lebih baik dari Dacko?
Ternyata tidak. Justru lebih parah.
Bokassa menjadi seorang diktator yang… aneh. Iya, aneh. Sebab ia menerapkan peraturan-peraturan nyeleneh yang harus dipatuhi oleh warga negaranya. Salah satunya yakni menyuruh perempuan dan laki-laki yang sudah berumur 18 -55 tahun untuk menyediakan bukti bahwa mereka punya pekerjaan. Bukan disediakan lapangan pekerjaan, bukan. Pokoknya warga negaranya harus punya pekerjaan apapun itu. Dan jika tidak punya pekerjaan mereka akan didenda atau dipenjarakan. Mengemis pekerjaan pada pemerintah? Tidak boleh!


Selain itu, ia juga mewajibkan murid-murid sekolah untuk membeli seragam dari perusahaan milik salah satu istrinya. Para murid tersebut akhirnya melakukan aksi demonstrasi, namun pemerintah mengatasinya dengan brutal. Sebanyak 100 anak-anak beserta remaja, tewas dalam aksi tersebut.
Setelah sepuluh tahun menjadi presiden, ia tiba-tiba mengangkat dirinya sebagai Kaisar di tahun 1976. Tanggal 4 Desember 1976, Bokassa merombak pemerintahan yang pada mulanya merupakan republik menjadi monarki, dengan nama baru yakni Kerajaan Afrika Tengah.
Eits, ia juga menggelar prosesi pengangkatan dirinya sebagai raja yang dikritik oleh banyak orang sebagai "tindakan yang sangat konyol". Ia 100% meniru acara penobatan Napoleon Bonaparte! Mulai dari jubah, mahkota, tongkat. Ia bahkan membeli mobil merek Mercedes-Benz yang dipakai untuk mengiringi acara penobatannya. Total uang negara yang sudah ia habiskan untuk acara aneh tersebut bernilai $20 juta. Dan sebenarnya semua uang itu adalah bantuan yang diberikan oleh Prancis.
They see rolling, they hating! Sumber : The Irish Times
Ada sekitar 5000 tamu luar negeri, termasuk perwakilan negara yang diundang ke acara penobatan tersebut. Tetapi, yang datang hanya seperdelapannya saja. Bahkan, Perancis sebagai tamu penting yang diundang pun tidak jadi datang. Sedih banget..
Merasa bahwa Bokassa ini mulai aneh, Perancis turun tangan dan melancarkan Operasi Barracuda untuk menurunkan Bokassa dan menggantinya dengan pemimpin baru, Jenderal Andre Kolingba. Sama saja, ia juga memerintah RAT dengan tangan besi. Tetapi pada kala itu, koalisi Barat yang terdiri dari AS, Prancis dan organisasi GIBAFOR mendesak Kolingba untuk menerapkan sistem demokrasi. Kolingba setuju dan menjanjikan akan mengadakan pemilihan umum di bulan Oktober 1992 dengan bantuan PBB.
Kolingba yang tidak mau kekuasaannya hilang, menunda-nunda pengumuman hasil pemilu ronde pertama. Didesak kembali oleh pihak internasional untuk melakukan pemungutan suara ronde kedua, dan hasilnya Ange-Felix Patasse menang dan menjadi presiden. Kolingba? Dia kalah. Hanya berhasil mengumpulkan 10 persen suara.




Semenjak saat itu, pemerintah mengalami instabilitas karena seorang pemimpin bisa dengan mudahnya dijatuhkan karena kudeta. Tahun 2011, Presiden Francois Bozize dikudeta oleh gabungan kelompok pemberontak bernama Seleka yang berarti aliansi dalam bahasa Sango. Bozize lari ke Kamerun (ada yang bilang ke Benin).
Michael Djotodia, mendeklarasikan diri sebagai presiden. Ia adalah seorang muslim minoritas; memimpin masyarakat yang mayoritas beragama Kristen di RAT. Namun, kelompok Seleka ini mulai menyerang para penduduk. Mereka melakukan penjarahan dari rumah ke rumah, pemerkosaan hingga pembunuhan. Kelompok ini merasa akan terus dilindungi oleh Presidennya. Toh si Presiden juga berasal dari golongan Seleka. Kan kami yang berjasa mengangkat dia menjadi seorang pemimpin. Kelompok mereka juga mendominasi kursi parlemen.
Merasa harus melakukan perlawanan, muncul lah suatu kelompok bernama Anti-Balaka. Mereka ini koalisi pemberontak yang beragama Kristen, berbanding terbalik dengan Seleka. Kelompok ini mulai melakukan perlawanan dengan cara yang sama brutalnya dengan Seleka; mengatasnamakan 'perlindungan diri'. Hingga saat ini, konflik antar keduanya masih terus berlanjut dan belum menemukan titik cerah.



Sekian penjelasan dari saya. Mohon maaf jika terdapat kesalahan, maklum saya sudah agak pikun. Yang saya ingat hanya pacar saya saja #ihiy.
Pernah menonton film The Purge tidak? Dimana pemerintah melegalkan warganya melakukan tindakan kejahatan; dalam kurun waktu 24 jam. Kondisi yang terjadi adalah chaos; anarki akibat masyarakat hidup dalam ketiadaan hukum.
Di RAT pun sama. Kudeta yang terjadi berulang kali merupakan gambaran apabila nilai-nilai hukum tidak ditegakkan dan dijalankan dengan semestinya. Mereka punya kok konstitusi, peraturan bahkan instansi penegak hukum. Tapi setiap kali presiden berganti, maka ketiga komponen diatas juga ikut diubah sesuai keinginan sang pemimpin. Ketidakpastian ini membuat legitimasi pemerintah semakin lama semakin melemah. Hukum tidak ada harganya. Dan lihat, apa yang terjadi sekarang? Walaupun RAT punya Presiden, mereka tidak tunduk lagi pada pemimpinnya. Kepercayaan pada pemerintah pun memudar. Berperang mengatasnamakan agama, padahal keinginannya hanya ingin menguasai negara saja.
Semoga RAT bisa segera pulih ya.
Kiss and hugs!
Sumber:






📢 Republished by [Tahukah Anda ?]  




Artikel Terkait Lainnya

Terdepan Mengabarkan !

Back to Top

Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini