Yang dirasakan Pasien Corona Covid-19 saat memakai VENTILATOR (alat bantu pernafasan) di rumah sakit




[ TahukahAnda.info ]  Istriku harus dipakaikan ventilator selama 6 hari, begini ceritanya.
seminggu sebelum lebaran, istriku mengalami sulit bernafas. Begitu kami sampai di IGD Rumah sakit di Jaksel, ia didiagnosa dengan gagal ginjal, hyperkalemi dan pneumonia, sehingga dia berstatus PDP, dan harus dirawat di ICU isolasi bersama mereka yang dirawat untuk Covid19.
Hatiku seperti meleleh ketika aku harus menandatangani surat perjanjian, jika kemungkinan terburuk terjadi, RS akan mengambil alih jenazah sesuai prosedur Covid. Syukurlah hal ini tidak terjadi.
Aku hanya sempat melihat istriku terakhir sebelum masuk ruang isolasi, otot lehernya seperti menonjol keluar semua, wajahnya kelihatan panik tak bisa bernafas, berusaha menyedot oksigen di udara. Enam hari kemudian, setelah keluar RS, istriku bercerita ini rasanya seperti dicelupkan ke kolam air dan kepalanya ditahan di bawah permukaan.
Berusaha bernafas, tapi terasa tak dapat oksigen yang cukup.
Lalu, dokter meminta persetujuanku untuk memasangkan ventilator, karena kadar oksigen di tubuhnya sudah drop hanya 30%, dan kalau tidak dipasangkan ventilator, otot jantung akan kelelahan berusaha meraup oksigen yang tidak cukup untuk mensupply tubuh. Kelelahan otot jantung ini akan berakibat gagal nafas, dan ini hampir saja terjadi. Tapi ketika menjelaskan berbagai resiko ventilator ini rasanya memang ngeri sekali, paling tidak ketika memasukkan selang oksigen ke kerongkongan, pasti ada pendarahan, dijelaskan juga berbagai resiko lain yang bikin terasa memang ini bisa berakibat buruk untuk pasien. Tapi, aku diyakinkan seorang teman yang juga dokter, saat ini, langkah-langkah life-saving harus diprioritaskan.
Kompleks-nya, kami ini belum secara resmi menikah. Jadi aku harus meminta persetujuan keluarga besar dari istriku. Dan meminta persetujuan ini ternyata jadi balas-balasan WA yang makin nggak jelas. Kakak-kakak dia malah memforward berita-berita dimana pasien meninggal karena dipasangi ventilator, dan juga resiko kehilangan suara, dll. Sedangkan kami sedang berpacu dengan menit-menit berharga untuk menyelamatkan istriku yang sedang kritis. Akhirnya, aku meng-override (dan kemudian aku bicarakan ke keluarga dia dan akhirnya mereka setuju, after the fact.). Akhirnya ventilator dipasang. Setelah ini semua selesai, dia bercerita itu rasanya seperti digerojok dengan aliran sejuk oksigen seperti berada di air terjun yang menyejukkan. Setelah sekian lama berjuang untuk bernafas, rasanya terasa nikmat langsung diguyur oksigen.
Keesokan harinya, aku masih berada di ruang tunggu, meskipun istriku tidak boleh dijenguk di ruang isolasi, malam itu sampai keesokan harinya, aku tak ingin pulang, jadi aku ngungsi di ruang tunggu RS, dan suster perawat bisa ngasih tau kalo ada perkembangan apapun. Seorang perawat berbaik hati untuk memperlihatkan kondisi dia via videocall seperti ini.
Selang nutrisi masuk dari hidung langsung ke lambung. Selang oksigen dimasukkan di kerongkongan sampai diafragma, dan selang oksigen ini keluar dari mulut. Jadi mulut selalu dalam keadaan terbuka. Tangan dan kaki istriku juga diikat dengan sprei ke tempat tidur, ini untuk menjaga supaya ketika dia panik, dia tidak berusaha melepas selang oksigen (karena memang tidak nyaman).



Setelah 5 hari, dan beberapa kali cuci darah, akhirnya istriku sudah pulih kembali dan bisa rawat jalan. Hasil test covid swab pun sudah negatif. Dan ini semua jadi pengalaman hidup yang berharga. Tapi cerita yang lebih seru adalah apa yang diceritakan istriku setelah keluar dari RS.
Dia menceritakan begitu detail tentang pengalaman menakjubkan ini. Di saat-saat kritis itu, dia seperti mendapatkan spiritual awakening, kebangkitan spiritual. Dan buatku yang juga terinspirasi untuk lebih hidup spiritual, pelajaran yang diceritakan istriku ini keren banget.
  • Acceptance/penerimaan.
    Dia memang sudah di tahap penerimaan ini sejak lama. Penerimaan bukanlah sifat pasrah pasif. Kami selalu berusaha untuk mencari upaya menuju kesembuhan, tapi dia sangat sangat OK, jika dia harus meninggalkan kehidupan untuk kembali ke alam jiwa.
  • Pelepasan
    kami selalu berlatih pelepasan dalam keseharian kami. Pelepasan terhadap ekspektasi, pelepasan terhadap kepemilikan. Istriku cerita, saat-saat kritis, dia sedang diuji kesanggupannya untuk melepas keterikatannya dengan raga, kemelekatannya terhadap identitas. Dan sanggupkah dia melepas dengan senyum ikhlas jika satu saat memang dia harus melepas itu semua.
  • Kebercukupan dalam nafas
    Dia bercerita seberapa beratnya mencoba bernafas waktu sebelum ventilator dipasang. Pelajaran spiritual yang ia dapatkan adalah untuk mendapatkan kebercukupan dalam setiap nafas. Rasa 'cukup' dan tak kurang satu apapun itu mudah dicari, yaitu dengan menyadari dan mensyukuri setiap nafas. Jadi, rugi banget kalo udah baik dan bisa bernafas lega, tapi masih saja merasa kurang, dan merasa terganggu dengan hal-hal kecil yang mengusik dalam keseharian.
  • Berada di saat ini sepenuhnya
    Setelah keluar dari RS, istriku lebih lagi untuk hidup secara sadar, di saat ini / "in-the-now". Ketika dia makan sarapan, telpon-nya selalu di-mute, dan diletakkan di ruang lain. Dia menikmati setiap gigitan buah dan makanan dengan sepenuhnya, tanpa terpecah perhatiannya dengan notifikasi smartphone, atau sambil ber-WA.
  • Tidak ada baik dan buruk
    banyak dari kita berpikir sakit adalah sesuatu yang buruk. bahkan ada di satu tradisi agama, bahwa sakit adalah menggugurkan dosa, seakan orang yang sakit berat berarti menanggung dosa yang berat. Istriku bercerita, dengan mind-set tak ada yang baik dan buruk, lebih enteng dia menjalani apa yang memang semestinya terjadi saat itu
  • Melampaui suka/tidak suka
    saat ada sesuatu di mulut, seperti ventilator, tubuh bereaksi dengan memproduksi ludah & riak secara berlebih. Bahkan satu ketika, dia hampir tak bisa bernafas karena tumpukan riak di tenggorokan, sedangkan dia tak bisa bicara karena ada selang ventilator. Jadi komunikasi dengan perawat juga susah. Dengan satu tangan, dia sering kirim text ke aku dan aku telpon perawat untuk membersihkan dengan alat sedot saliva.
    Tadinya dia sangat jijik dengan riak yang memenuhi mulut, hingga berusaha dia keluarkan dan karena posisi tubuh yang tiduran, akhirnya banyak menempel di rambut.
    Pelajaran yang dia ambil adalah: kita menjadi suka atau tidak suka terhadap sesuatu, akhirnya menjadi ekstrim jiik, itu semua adalah produk dari pemikiran kita sendiri. Hidup yang selaras dengan realitas adalah dengan melepas suka dan tidak suka, atau lebih tepatnya melampaui rasa suka/tidak suka.
Kami berdua memang suka belajar spiritualitas dari kejadian di kehidupan. We are collector of experiences, kita ini seperti kolektor pengalaman dalam kehidupan. Jadi pengalaman enak maupun pengalaman nggak enak seperti sakit keras seperti ini bisa jadi guru yang sangat berharga.



📢 Republished by [Tahukah Anda ?]  




Artikel Terkait Lainnya

Terdepan Mengabarkan !

Back to Top


Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini