Pandemik, Tebarkan Rahmat Bukan Khianat




Pandemik, Tebarkan Rahmat Bukan Khianat

Oleh:Abdurachman


VIRAL di group WhatsApp (WA) berita tentang melesatnya harga rapid test. Selain harganya melejit, aturan mainnya dipersoalkan. Wawancara dilakukan oleh Gina Fita dari TV One dengan salah seorang anggota Ombudsman Republik Indonesia Laode Ida dalam salah satu berita siang.

Harga dasar satu set alat rapid test 70-an ribu rupiah sedangkan temuan di lapangan biaya pemeriksaan berkisar antara 300 ribu rupiah sampai satu jutaan dan itu memaksa, ujar Laode Ida. Padahal di beberapa tempat seperti pelabuhan, bandara seharusnya menyiapkan rapid test secara gratis, karena pemerintah sudah mengeluarkan biaya trilyunan antara lain untuk itu.

Upaya ini dinilainya sebagai usaha memanfaatkan ketakutan dan kecemasan masyarakat untuk keuntungan pribadi atau kelompok.

Perilaku demikian di masa negara sedang menghadapi pandemik bisa dikategorikan sebagai tindakan khianat kepada masyarakat dan Bangsa.

Tebarkan Rahmat Hingga Dekati Ajal

Sejak mengumandangkan kalimat shyahadat di hadapan Rasul Mulia Muhammad saw., Ikrimah menjadikan dirinya teladan yang baik. Ia menggabungkan diri ke dalam barisan dakwah sebagai anggota pasukan berkuda yang cekatan. Karakternya yang memang gagah berani menyertainya di medan perang.

Bukan hanya itu, Ikrimah adalah seorang ahli ibadah dan pembaca al-Quran yang tekun di masjid. Beliau menjadi teladan al-muttaqiin yang baik, ialah golongan orang-orang ahli taqwa. Orang yang taqwa mampu melakukan amal-amal shaleh, menjauhi perbuatan buruk, sesuai yang dicontohkan Rasulullah saw. Semua itu dilakukan demi megharap ridlo Allah semata.

Pada waktu perang Yarmuk, pertempuran antara para pejuang Islam (sedikit) dan pasukan Romawi yang jumahnya sangat banyak. Pasukan Islam di bawah komando Khalid ibnu al-Walid. Saat itulah keberanian Ikrimah tampil sangat mengagumkan. Melihat tindakan Ikrimah yang sangat berani, Khalid bin Walid mengingatkan, "Ikrimah, jangan gegabah! Kembalilah! Kepergianmu akan menjadi kerugian besar bagi kaum Muslimin."

Ikrimah saat itu benar-benar ingin membayar kekeliruannya saat dirinya belum masuk Islam. "Ijinkan aku maju ya Khalid. Agar aku menebus dosa-dosaku yang telah lalu. Dulu aku telah memerangi Rasulullah di beberapa medan pertempuran. Apakah layak setelah beriman aku lari dari pasukan Romawi ini? Tidak, tidak akan!" Ujarnya memohon. Selanjutnya dia berteriak. Teriakan yang memotivasi penuh kesungguhan, "Siapakah yang berani ikut bersamaku?"

Beberapa orang segera menghamburkan diri ke samping Ikrimah, kemudian maju menerjang, menghalau pasukan lawan yang terus maju. Banyak korban yang jatuh, tetapi para pejuang pejuang Islam sukses memukul mundur pasukan Romawi. Pasukan Islam memperoleh kemenangan gemilang.

Setelah pertempuran reda, di bumi Yarmuk tiga mujahid Muslim terkapar dalam keadaan kritis. Posisi mereka relatif berdekatan. Satu dan yang lain masih mampu saling menatap. Tubuh masing-masing mereka penuh dengan luka, mengalirkan darah segar.

Demi darah yang mengalir tak mampu dibendung, kondisi mereka mendekati shock hypovolemic. Mereka hampir hilang kesadaran karena cairan tubuh terkuras. Detak jantung menjadi cepat namun lemah, tubuh pucat, rasa sangat haus menimpa tenggorokan layaknya mencekat.

Dengan suara yang tersisa Al-Harits meminta air minum. Ketika seorang sahabat membawakan air, didekatkanlah ke mulutnya, ia melirik kondisi Ikrimah yang tak jauh berbeda. Isyarat hatinya menunda kebutuhan utamanya, "Tolong berikan kepada Ikrimah," serunya pelan.

Sahabat yang membawa minum bergegas menuju Ikrimah. Saat air sudah tinggal diteguk, pandangan Ikrimah tertuju kepada Ayyasy. Terlihat sahabatnya itu tidak berbeda dengan dirinya. Terusik hatinya menjadikan bibirnya terkatup menolak minum sambil berkata lirih, "Berikan dulu kepada Ayyasy!" serunya.

Segera air itu dihantarkan ke mulut Ayyasy. Terlambat! Ayyasy telah syahid.  Sahabat yang menyuguhkan air bergegas kembali ke al-Harits, beliau pun syahid. Langsung saja air itu ditujukan ke Ikrimah. Beliau pun sebagaimana orang-orang yang dicintainya. Ikrimah pun syahid. Mereka bersama ‘pulang’ dalam suasana hati saling menyintai. Cinta karena Allah.

Perilaku Ikrimah, al-Harits dan Ayyasy merupakan sebagian contoh perilaku rahmat. Perilaku yang dicontohkan dan dianjurkan oleh Rasulullah saw.

Para beliau menerapkannya dengan sempurna. Bahkan sampai pada kondisi diri masing-masing mendekati ajal, yang terbayang adalah mendahulukan kepentingan orang lain daripada dirinya. MasyaAllah.

Allah SWT memuji orang-orang yang mengutamakan saudaranya daripada dirinya,“…dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”, (QS. 59:9).

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda,“irhamuu man fil ardli yarhamkum man fissamaa-i”, rahmati yang siapa yang di bumi niscaya engkau akan dirahmati oleh Siapa yang di langit.

Perilaku rahmat kepada semesta, terlebih kepada sesama manusia, mengundang curahan ramhat Allah swt. Curahan rahmat Allah sangat dibutuhkan antara lain demi menghempas pandemi dari Bangsa ini. Bangsa Indonesia membutuhkan curahan rahmat Allah untuk segera bangkit setelah pandemik. Kembali berpacu menggiatkan segala sektor; medis, ekonomi, sosial, dan politik.

Belajar dari Ikrimah dan para sahabat mulia radiyallaahu ‘anhum, kita hempas perilaku khianat, kita tebarkan perilaku rahmat demi mengundang curahan rahmat Allah swt. Indonesia berkah, pandemik berakhir!

(Gurubesar FK Universitas Airlangga, Past President of Indonesia Anatomists Association (IAA), Past President APICA-6, Executive Board Member of APICA)


source https://www.kontenislam.com/2020/07/pandemik-tebarkan-rahmat-bukan-khianat.html

Artikel Terkait Lainnya

Terdepan Mengabarkan !



Back to Top