Media Asing: Langkah Pencegahan Covid-19 di Indonesia Membuat Daya Belanja Menyusut, Perputaran Bisnis Babak Belur




 Indonesia diperkirakan akan mendekati resesi pada kuartal ini, ketika pemerintah kembali mengetatkan langkah-langkah pembatasan dan jaga jarak sosial di tengah kasus virus corona yang semakin meningkat. Langkah pembatasan ini memupus harapan bahwa konsumsi yang kemarin terpuruk akan segera pulih.

The Edge Markets menyoroti daya belanja masyarakat baru saja akan bangkit lagi ketika tiba-tiba pemerintah kembali menerapkan pembaruan pembatasan sosial skala besar, sementara survei menunjukkan bahwa orang Indonesia sangat pesimis karena negara melaporkan jumlah kasus virus corona setiap beberapa hari.

Satria Sambijantoro, Ekonom PT Bahana Sekuritas di Jakarta menilai saat ini masyarakat lebih memilih untuk menahan diri dari belanja-belanja yang dianggap tidak terlalu mendesak karena pembatasan pergerakan yang diterapkan pemerintah.



“Tidak dapat dipungkiri bahwa kelas menengah Indonesia, yang masih dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi, akan terus menahan diri untuk tidak membeli dan memilih menabung,” katanya, seperti dikutip dari The Edge Markets, Rabu (23/9).

Selama wabah ini belum pergi, maka tahun 2020 akan tetap menjadi ‘tahun berhati-hati dengan pengeluaran’.

Pemerintah telah memangkas perkiraan pertumbuhan 2020 dan sekarang memperkirakan kontraksi 0,6 persen menjadi 1,7 persen untuk setahun penuh, dengan kemungkinan ekonomi menyusut pada kuartal ketiga dan keempat, seperti yang disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Pukulan terhadap konsumsi rumah tangga, yang menyumbang sekitar 60 persen dari produk domestik bruto, dapat memperburuk penurunan ekonomi terbesar di Asia Tenggara itu. Dalam survei Bloomberg, diperkirakan produk domestik bruto (PDB) menyusut 5,32 persen pada periode Maret-Juni dari tahun lalu, dan penurunan 2 persen pada kuartal ini.

Kepercayaan konsumen menurun di kalangan masyarakat Indonesia yang membelanjakan lebih dari lima juta rupiah sebulan, menurut survei bank sentral pada Agustus. Ekspektasi penjualan ritel untuk tiga dan enam bulan ke depan menurun di bulan Juli, dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Pengecer sudah berusaha semampunya menanamkan cadangan modal untuk tetap bertahan, menurut Roy Mandey, ketua Asosiasi Pengecer Indonesia.

Lalu, berapa lama pandemi akan mengganggu pengeluaran, dengan pengecer khawatir mereka akan kehabisan napas sebelum permintaan meningkat?

“Jika tekanan terus berlanjut, tinggal menunggu waktu satu per satu peritel modern akan berhenti beroperasi, terutama peritel lokal dengan skala usaha yang lebih kecil,” kata Roy Mandey.

PT Mitra Adiperkasa, yang mengoperasikan gerai Starbucks Corp dan Sephora di Indonesia, akan merealisasikan hanya 30 persen dari rencana belanja modal senilai 1,2 triliun rupiah tahun ini, setelah melaporkan rekor rugi bersih pada kuartal kedua. Rekannya, PT Matahari Department Store dan PT Ramayana Lestari Sentosa juga merugi karena tidak ada pengunjung yang datang ke pusat perbelanjaan.

Kunjungan ke ruang ritel dan rekreasi masih 10 persen lebih rendah daripada sebelum pandemi dimulai, menurut laporan mobilitas oleh Google per 11 September.

Pembaruan pembatasan sosial skala besar tentu berdampak pada perputaran bisnis Jakarta. Orang-orang bekerja dari rumah, tidak mengunjungi resto atau kafe, juga tidak berbelanja sepatu atau baju. Alphonzus Widjaja, wakil ketua Asosiasi Pusat Perbelanjaan Indonesia mengatakan hal itu.

"Kami memiliki cadangan kami pada periode pembatasan yang pertama," kata Widjaja. "Tapi pada periode ini, kita sudah memasuki batasan lain dalam keadaan yang babak belur," tutupnya. [rmol]



Artikel Terkait Lainnya

Terdepan Mengabarkan !

Back to Top


Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini