Demo Omnibus Law Berujung Ricuh: dari Bandung hingga Lampung




Demo Omnibus Law Berujung Ricuh: dari Bandung hingga Lampung

KONTENISLAM.COM - Pengesahan Omnibus Law UU Cipta Kerja berujung demo mahasiswa-buruh di jalan. Aksi itu bahkan berakhir ricuh di sejumlah daerah, mulai dari Bandung hingga Lampung.

UU Cipta Kerja yang diprotes mulai dari isi pasal-pasalnya, sampai dalam proses pengesahan yang terkesan dikebut. Apalagi, pengesahan UU Cipta Kerja ini digelar di tengah pandemi.
 
Tok! Omnibus law RUU Cipta Kerja resmi disahkan dalam rapat paripurna DPR, Senin (5/10). DPR bersama pemerintah dan DPD sebelumnya telah sepakat omnibus law Cipta Kerja dibawa ke rapat paripurna.

Wakil Ketua DPR RI, Azis Syamsuddin menyebut pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja (Ciptaker) tidak dipercepat. Menurutnya, jadwal pengesahan Omnibus Law Ciptaker menjadi undang-undang telah sesuai kesepakatan Badan Musyawarah (Bamus) DPR RI.

“Nggak dicepetin. Memang jadwalnya. Jadwal itu kan tergantung kesepakatan bamus saja,” kata Azis di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (5/10/2020).

Sehari setelahnya, gelombang aksi turun ke jalan ramai di berbagai daerah. Demo penolakan UU Cipta Kerja dimulai 6 Oktober hingga tanggal hari ini.

8 Oktober disebut-sebut sebagai puncaknya aksi penolakan UU Ciptaker ini. Jika dua hari sebelumnya berlangsung di kota masing-masing, hari ini diagendakan aksi di DPR.

“Iya yang dimaksud mogok nasional kan melakukan aksi serentak di berbagai kota baik daerah daerah secara nasional, kan gitu, kalau tanggal 8 Oktober itu kan memang aksinya di DPR nanti, gerakan buruh bersama rakyat, bersama aliansi di daerah-daerah, tanggal 8 itu akan lakukan aksi di Jakarta gitu. Apakah di DPR atau Istana, tapi sementara di DPR gitu,” kata Ketua Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), Nining Elitos, saat dihubungi, Selasa (6/10/2020).

Namun, belum tiba aksi di DPR, ricuh saat demo UU Cipta Kerja sudah terjadi di sejumlah daerah. Berikut rangkumannya:

Bandung

Demo penolakan Omnibus Law UU Cipta Kerja berakhir dengan kericuhan di Gedung DPRD Provinsi Jawa Barat pada 6 dan 7 Oktober 2020. Polisi menyebut ada ‘kelompok lain’ yang menyusup ke dalam kerumunan demonstran dan sengaja berbuat onar dengan memancing emosi petugas.

Selama pengamanan demonstrasi penolakan ini, polisi menerjunkan 650 pasukan. Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Ulung Sampurna Jaya mengatakan penebalan pasukan akan dilakukan atau tidak tergantung dari laporan intelijen.

“Bandung ini aman dan kondusif, dan masyarakat bisa beraktivitas dengan aman dan nyaman. Kita lakukan penjagaan di setiap sudut, malam ini kita lakukan patroli gabungan TNI-Polri,” tuturnya.

Riau

Sekelompok mahasiswa melakukan aksi demo penolakan omnibus law di DPRD Riau di Jalan Sudirman, Pekanbaru, Riau. Mereka hadir di gedung wakil rakyat itu pada Rabu (7/10/2020) sekitar pukul 14.30 WIB.

Di halaman gedung DPRD Riau awalnya mereka menggelar aksi penolakan terhadap undang-undang yang baru disahkan tersebut. Demo sempat ricuh ketika mahasiswa dan aparat saling dorong di depan pintu masuk gedung.

Mahasiswa ini mendesak agar mereka dipertemukan anggota DPRD Riau. Permintaan ini akhirnya disetujui, dengan hadirnya lima anggota dewan menemui mahasiswa.

Jawa Tengah

Demo menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja di kantor DPRD Jawa Tengah, Kota Semarang juga ricuh. Dalam aksi ini pagar DPRD Jateng ambruk, bahkan ada pelemparan batu dilakukan hingga dua lampu yang ada di halaman gedung DPRD Jateng pecah.

Selain itu, tampak peserta aksi di balik pagar yang menenangkan rekannya berlarian ketika ada batu-batu melayang. Lemparan-lemparan terjadi selama sekitar 3 menit termasuk ada yang melempar flare warna merah ke halaman gedung DPRD Jateng.

Ricuh sempat tenang sesaat, namun ada lagi kericuhan. Tampak ada lemparan potongan pagar yang roboh dan kerikil.

Kapolrestabes Semarang, Kombes Auliansyah, lewat pengeras suara berusaha memberi imbauan kepada massa dan anggotanya untuk bersabar.

“Saya minta aksi dengan damai, akan kami kawal,” seru Auliansyah, Rabu (7/10/2020).

“Kenapa harus dirusak? Ini punya kita bersama,” lanjutnya.

Lampung

Hal serupa kejadian di Lampung. Demon menolak pengesahan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja (Ciptaker) di lingkungan kantor DPRD Provinsi Lampung diwarnai lemparan batu. Polisi jadi korban.

“Iya betul, ada yang kena lemparan batu, karena kan pada saat itu mahasiswa ingin masuk ke pintu utama, tapi diarahkan melalui pintu tengah, di situlah terjadi gesekan-gesekan itu,” kata Kabid Humas Polda Lampung Kombes Zahwani Pandra Arsyad saat dihubungi, Rabu (7/10/2020).

Anggota Satpol PP juga ada yang terkena lemparan. Polisi masih mendata berapa petugas yang terkena lemparan.

Jababeka, Kabupaten Bekasi

Kericuhan tak terhindarkan saat mahasiswa di wilayah Jababeka, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. 6 mahasiswa terluka.

Dari 6 orang yang terluka, 2 mengalami luka parah, yakni N dan NS. Dua mahasiswa itu kemudian dilarikan ke rumah sakit.

Itu (yang luka di kepala) mungkin ya (kena) pukulan, cuma yang kena (luka) mata itu kemungkinan (terkena) gas air mata,” kata koordinator lapangan unjuk rasa mahasiswa sekaligus Ketua BEM FEBIS Universitas Pelita Bangsa, Suhendar, ketika ditemui di RS Harapan Keluarga, Bekasi, Rabu (7/10/2020).

NS terluka di bagian matanya. Sedangkan N terluka di bagian kepala hingga bocor.

Bogor

Di Bogor, ratusan orang yang tergabung dalam mahasiswa bersama barisan rakyat (Membara) itu sempat menduduki gedung DPRD Kota Bogor. Aksi penolakan UU Omnibus Law Cipta Kerja meminta agar DPRD Kota Bogor menyampaikan aspirasi massa untuk meminta Presiden Jokowi mengeluarkan Perpu membatalkan undang-undang cipta kerja atau omnibus law.

Setelah sempat melakukan orasi di gerbang DPRD Kota Bogor, ratusan mahasiswa kemudian merangsek masuk ke dalam areal DPRD hingga ke dalam ruangan yang biasa digunakan untuk anggota dewan melakukan rapat.

“Karena bagi kita sebuah legislasi itu diciptakan oleh DPR, sehingga kami dari meminta DPRD kota Bogor untuk menyuarakan mahasiswa agar membatalkan uu omnibuslaw oleh Presiden RI,” ujar koordinator lapangan aksi Robby Darwis, Rabu (7/10/2020).

Sukabumi

Massa mahasiswa di Sukabumi membuka gerbang DPRD yang sempat tertutup. Ketua Umum GMNI Sukabumi Raya Anggi Fauzi, membenarkan adanya gesekan antara mahasiswa dan petugas. Namun menurutnya hal itu karena adanya miss komunikasi.

“Memang terjadi beberapa kali gesekan itu hanya gesekan akibat miss komunikasi mungkin kawan kawan kami panas makanya terjadi gesekan. Tidak terjadi apa apa,” ucapnya.

Dia mengatakan aksi yang dilakukannya bersama Cipayung Plus bertujuan untuk menyuarakan penolakan atas UU Omnibus Law Cipta Kerja.

“Kita tadi aksi bareng dengan kawan-kawan buruh, kebetulan memang agendanya barengan bersama-sama kawan buruh. Tapi kami konsisten kawan mahasiswa agar menjadi tuntutan kita ketemu ketua DPRD untuk menyampaikan beberapa tuntutan dari kawan kawan Cipayung hari ini,” ungkap Anggi.

Tasikmalaya

Massa gabungan terdiri dari buruh dan mahasiswa yang menuntut pencabutan Omnibus Law UU Cipta Kerja yang baru disahkan DPR dan pemerintah memblokir Jalan Raya Indihiang tepat depan Kantor DPRD Kota Tasikmalaya.

Aksi awalnya berjalan damai. Namun karena tidak ditemui wakil rakyat massa mulai emosi. Mereka terlibat saling dorong dengan petugas hingga akhirnya menjebol pagar Gedung DPRD Kota Tasikmalaya.

“Ini bentuk kekecewaan kami atas disahkanya Undang Undang Omnibus Law yang memberatkan teman teman buruh. Kami tuntut DPR Cabut Undang Undang ini,” ucap Muhaemin, kordinatior aksi di lokasi, Rabu (7/10/2020).

Masa kemudian masuk kantor dewan untuk melakukan sweeping wakil rakyat hingga ke ruang kantor. Namum, hanya satu anggota dewan yang ditemui dalam kantor.

Kelompok Anarko di Jakarta

Rencana Aksi tolak UU Cipta Kerja di DPR kemarin digagalkan polisi. Sebanyak 200 orang diduga kelompok anarko yang hendak melakukan aksi di DPR diamankan lantaran kedapatan membawa barang bukti batu hingga cat.

Sebanyak 200 orang kelompok anarko ini diamankan di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Pusat. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan mereka memang hendak melakukan demonstrasi di DPR.

“Ada beberapa bukti yang kita temukan dari HP, maupun juga dari barang yang dia bawa, ada yang bawa batu, ada yang bawa cat memang,” kata Yusri.

Saat ini ratusan pemuda tersebut diamankan di Polda Metro Jaya. Mereka juga menjalani rapid test dan sejauh ini 10 di antaranya dinyatakan reaktif Corona.

Sumber: detik.com



source https://www.kontenislam.com/2020/10/demo-omnibus-law-berujung-ricuh-dari.html

Artikel Terkait Lainnya

Terdepan Mengabarkan !

Back to Top

Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini