Bikin Status Kebebasan HAM Ditindas, Akun Kedubes Jerman Diserang, Dituduh Radikal

Artikel Terbaru Lainnya :

 Akun Twitter Kedutaan Besar Republik Federal Jerman di Indonesia, yaitu @KedubesJerman mendapat serangan dari warganet (netizen). Dalam dua cicitan terakhir, status tersebut mendapat sorotan warganet. Padahal, cicitan tersebut dibuat pada 10 Desember 2020, saat peringatan Hari Hak Asasi Manusia atau Human Rights Day.



Cicitan pertama yang paling banyak mendapat komentar warganet adalah status kebebasan berpendapat ditindas. Cicitan yang dikutip Republika pada Senin (21/12), ini sudah dirapikan menggunakan bahasa Indonesia yang baku.

"Selama krisis #Covid19, semua negara harus mengambil tindakan untuk melindungi kesehatan umum, namun ini tidak berarti #HAM seperti kebebasan berpendapat dan berkumpul dapat ditindas selama pandemi. #HAM bersifat universal dan tak dapat ditawar. Demi inilah (bendera Jerman) dan mitra-mitranya bergerak #HumanRightsDay," begitu bunyi unggahan tersebut.

Adapun cicitan kedua yang mendapat komentar warganet, meski tidak sebanyak yang pertama adalah status tentang ucapan Hari Hak Asasi Manusia Dunia dari Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Peter Schoof. "Pada Hari Hak Asasi Manusia (10 Desember) hari ini, Duta Besar Jerman Peter Schoof menyampaikan pesannya," tulis akun @KedubesJerman.

Akun @Mata_Eja yang me-repply @KedubesJerman, @AuswaertigesAmt, dan @UNHumanRights menuding Kedubes Jerman di Indonesia sebagai pendukung FPI. "Jerman pendukung radikal," ucapnya.

Akun @Indrimanu juga turut berkomentar. "Waduh, gak ngerti lagi dengan kalimat kebebasan berkumpul di masa pandemi ditindas.. gini yaa, setau saya di masa pandemi ini ada larangan berkumpul demi melindungi hak asasi manusia yaitu hak untuk hidup."

Wakil Sekretaris Umum (Wasekum) FPI, Aziz Yanuar membenarkan adanya kunjungan perwakilan Kedubes Jerman di Indonesia ke Petamburan pada Kamis (17/12). Menurut Aziz, staf kedutaan itu membahas beberapa hal dengan FPI. "Kedatangannya singkat, hanya setengah jam," ujar Azis kepada Republika saat dikonformasi, Sabtu (19/12).

Dalam kunjungan itu, Azis mengungkapkan, perwakilan Kedubes Jerman tersebut sebenarnya ingin bersilaturahim dengan petinggi FPI. Tentu saja, selain itu juga ingin mengenal FPI lebih dekat.

Azis mengeklaim, perempuan yang bekerja di Kedubes Jerman itu menyampaikan rasa simpati dan empati untuk penembakan enam laskar FPI yang dilakukan polisi, termasuk keadaan yang dialami Habib Rizieq Shihab di penjara. Dia menegaskan, mereka juga menitip pesan perdamaian pada FPI.  "Dan berjanji akan mengunjungi DPP FPI kembali," jelas Azis.


Kedubes Jerman: Pandemi Tak Berarti HAM dan Kebebasan Berkumpul Ditindas!



Kata 'Jerman' menjadi perhatian warganet dan dibahas lebih dari 19.000 tulisan pasca datangnya diplomat Kedutaan Besar Jerman ke markas Front Pembela Islam (FPI) pada Sabtu (19/12/2020). Melalui Twitter, Kedubes Jerman menuliskan bahwa Hak Asasi Manusia (HAM) bersifat universal dan tidak dapat ditawar.

Melalui akun Twitter resmi Kedutaan Besar Jerman menuliskan bahwa pandemi tidak berarti HAM seperti kebebasan berpendapat dan berkumpul dapat ditindas.

"Selama krisis #COVID19,semua negara harus mngambil tindakan utk melindungi kesehatan umum, namun ini tdk berarti #HAM spt kebebasan berpendapat&berkumpul dpt ditindas selama pandemi. #HAM bersifat universal & tak dpt ditawar.Demi inilah ???????? dan mitra2nya bergerak #HumanRightsDay," tegas akun @KedubesJerman

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri ( Kemlu ) RI membenarkan kedatangan diplomat Jerman ke Markas FPI. Saat ini, Kemlu masih menunggu keterangan dari Kedutaan Besar (Kedubes) Jerman terkait kabar perwakilan diplomat mereka mengunjungi markas Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

"Betul dan masih menunggu keterangan dari Kedubes Jerman," ucap Juru Bicara Kemenlu RI, Teuku Faizasyah saat dikonfirmasi Minggu (20/12/2020). []


Artikel Terkait Lainnya

Back to Top

Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini