Hersubeno Arief: Drakor Mensos Risma, Salah Casting, Salah Skenario Hingga Pengakuan Nursaman yang berbeda

Artikel Terbaru Lainnya :


DRAKOR MENSOS RISMA. SALAH CASTING, SALAH SKENARIO

Oleh: Hersubeno Arief

Tak perlu waktu terlalu lama. Teka-teki “gelandangan” yang ditemui Mensos Risma di Jalan Thamrin Jakarta, langsung terbongkar.

Seorang netizen mengenali pria berambut putih, berpakaian lusuh itu bukan gelandangan.

Dia seorang pedagang poster di Jalan Minang Kabau, Jakarta Selatan. 

Karena yang dijual kebanyakan poster Bung Karno dan Megawati, netizen menyimpulkan dia anggota PDIP. Setidaknya simpatisan partai moncong putih itu.

Berbekal info netizen, media ramai-ramai mendatanginya.

Benar saja. Pria itu bernama Nursaman. Sehari-hari dia pedagang es kelapa muda dan berjualan poster tak jauh dari Pasar Rumput.

Nursaman mengakui pria dalam foto itu dirinya. Anehnya dia mengaku tak pernah ke Jalan Thamrin. Apalagi bertemu Mensos. (Red: Belakangan Nursaman mengakui saat ditanya wartawan CNNIndonesia)

Menurut istrinya, pria berusia 70 tahun itu sudah sering lupa. Dia pikun.

Apapun pengakuannya, satu fakta tidak bisa dibantah. Benar pria yang ditemui Risma dan akan dipulangkan ke kampung halaman itu adalah Nursaman. 

Seorang pedagang yang diminta “berperan” sementara menjadi gelandangan.

Lokasi yang dipilih di sepanjang kawasan Jalan Sudirman-Thamrin. Sebuah jalan protokol, etalase Jakarta.

Bagaimana dengan dua gelandangan lain?

Satu orang seperti pengakuan Nursaman bernama Rizal. Sementara sang perempuan, tidak diketahui nama dan keberadaannya.

Temuan mengagetkan

Adanya “gelandangan” yang “ditemukan” Risma di koridor Sudirman-Thamrin ini memang sangat mengagetkan. 

Bukan hanya bagi mereka yang berkantor dan beraktivitas di kawasan itu. Tapi juga bagi Pemprov DKI.

Wagub DKI Ahmad Riza mengaku sangat heran. Seumur-umur dia tidak pernah menemukan kejadian aneh tapi nyata itu. Padahal dia sudah tinggal di Jakarta sejak usia 4 tahun.

Koridor Sudirman-Thamrin adalah kawasan utama. Sejak “dahulu kala” menjadi daerah terlarang bagi gelandangan dan pengemis. Dulu disebut gepeng.

Kawasan perkantoran, hotel dan tempat perbelanjaan prestisius ini, setiap hari dilewati para petinggi negara.  

Para diplomat, dan juga tamu-tamu negara ketika berkunjung ke Indonesia, juga melewatinya.

Di ujung Utara koridor ini, kita akan menemukan Istana Merdeka. Kawasan Ring 1. Harus benar-benar steril.

Jadi bagaimana ceritanya tiba-tiba ada gelandangan?

Hebatnya yang menemukan
seorang Risma. Seorang menteri yang baru dilantik, kurang dari dua pekan. 

Kemana saja para menteri yang lain? Kemana saja Gubernur DKI Anies Baswedan?

Karena kejanggalan inilah — netizen menyebutnya sebagai drama korea  (drakor)— langsung terbongkar.

Pertama, setting drakor ini salah lokasi. Kelihatannya pengatur laku tak begitu memahami kota Jakarta.

Kedua, salah casting. Salah pilih pemeran. 

Di Jakarta ini banyak sekali gelandangan. Cukup diberi uang Rp 100-150.000 mereka pasti bersedia bila diminta untuk memerankan diri sendiri. Tanpa harus berpura-pura.

Ketiga, salah skenario. Pengatur laku tampaknya terlalu bernafsu. Mereka tidak memperhatikan detil. 

Mulai dari lokasi, sampai asesoris yang dikenakan. Para “gelandangan” itu punya kesamaan.

Sangat sadar protokol kesehatan. Maskernya baru. Standar yang dijual di apotek.

Salah satu gelandangan juga diketahui membawa hp android lengkap dengan earphone. Canggih banget!

Nampaknya sukses membuat aksi blusukan di bantaran sungai, kolong jembatan, dan kolong jalan, membuat abai.  

Mereka mencoba membuat kisah lebih spektakuler.

Koridor Sudirman-Thamrin dipilih menjadi panggung besar sekelas Broadway.

Masalahnya, karena terlalu bernafsu. Tidak menguasai medan, kurang observasi.  Tidak memperhatikan detil. Panggung sandiwara besar itu langsung terbongkar. 

Sejak heboh Risma blusukan, kemana arahnya akan bermuara, sebenarnya sangat mudah terbaca.

Penunjukkan Risma, dari seorang walikota menjadi Mensos, mempunyai beberapa misi besar.

Pertama, mengalihkan isu korupsi bansos yang melibatkan seorang kader dan Wakil Bendahara Umum PDIP Juliari P Batubara.
Kedua, mendowngrade kinerja Gubernur DKI Anies Baswedan. 

Anies adalah ancaman nyata yang harus segera diaborsi, jauh sebelum pelaksanaan Pilpres 2024. 

Ketiga, branding dan mendongkrak popularitas Risma. 

Poin terakhir ini tampaknya erat kaitannya dengan skenario jangka panjang PDIP menguasai Jakarta, sekaligus Indonesia.

Apakah semua skenario besar itu salah?

Tentu saja tidak. Dalam politik hal itu sah-sah saja. Namanya juga usaha.

Cuma ada satu syarat yang tampaknya dilupakan.

Apa itu?

Seperti halnya korupsi, semua boleh dilakukan, dengan satu syarat! 

Tidak ketahuan.  end.


Pengakuan Nursaman Beda dengan Rilis Pernyataan Kemensos

Nursaman (68) sempat tak mengakui dirinya merupakan gelandangan yang viral gegara dikunjungi Mensos Risma saat blusukan.

Saat wartawan VIVA.co.id mengunjungnya pada Rabu (6/1) kemarin dan menunjukkan fotonya saat ditemui Risma di depan sebuah ruko berpintu merah, dia tidak mengaku.

"Enggak ada, saya enggak ketemu Mensos. Hari-hari di sini (tempat jualan kelapa muda)," katanya saat ditemui di Jalan Minangkabau, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu kemarin.

Namun hari ini Kamis (7/1), dalam berita yang dimuat CNNIndonesia.com, Nursaman mengakui dirinya didatangi Menteri Sosial Tri Rismaharini di kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada Senin (4/1) lalu.

"Iya itu saya, waktu Senin, ketemu orang pakai baju putih (Risma) di Jalan Sudirman," kata Nursaman kepada CNNIndonesia.com, Kamis (7/1).

Pengakuan Nursaman ini berbeda dengan rilis dari Kemensos.

Dalam rilis resmi Kemensos, tak ada tunawisma bernama Nursaman yang ditemui Risma. Saat itu, Risma menemui gelandangan bernama Faisal, Kastubi, dan Fitri.

Nursaman menegaskan bahwa namanya bukanlah Kastubi. Dalam foto Kemensos, sosok yang disebut Kastubi mirip dengan Nursaman.

Namun, Nursaman tak menjawab banyak saat ditanya soal pertemuannya dengan Risma pada Senin lalu.

Sementara itu, beberapa orang di sekitar lokasi bahkan mengingatkan Nursaman untuk tak langsung mengakui foto
tersebut.

"Jangan iya-iya aja lu, ini bukan mau dikasih uang, liat baik-baik itu di foto, lu apa bukan," kata seorang juru parkir kepada Nursaman.

Nursaman hanya mengatakan dirinya menolak dibawa ke Balai Rehabilitasi Sosial Eks Gelandangan dan Pengemis "Pangudi Luhur", Bekasi.

"Enggak mau dibawa ke Bekasi. Seenaknya di kampung orang, saya enggak mau," ujarnya.

Ia kemudian tidak lagi menjawab pertanyaan apapun yang diajukan CNNIndonesia.com.

Aksi blusukan Risma menuai banyak pertanyaan dari masyarakat, khususnya warga Ibu Kota. Pasalnya, Risma menemukan gelandangan di Jalan Sudirman-Thamrin, Jakarta Pusat, yang diketahui steril dari tunawisma.

Dalam aksinya hari itu, Risma menemukan tiga orang Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS), yakni Faisal, Kastubi, dan Fitri.

Salah satu di antaranya, yaitu Kastubi yang disebut mirip dengan seorang penjual poster Soekarno di kawasan Pasar Minangkabau, Manggarai, Jakarta Selatan. 

Bukan Tunawisma

Warga sekitar yang enggan disebut namanya bercerita sering melihat Nursaman di lapak es kelapa muda menyatakan bahwa Nursaman bukanlah seorang tunawisma. Tidak diketahui jelas dari mana asal Nursaman, tapi dirinya sering terlihat menetap di rumah Iin penjual es kelapa muda.

Nursaman juga dulunya adalah seorang supir bajaj yang suka mangkal di sekitar Pasar Minangkabau. Menurut Andi, saat ini Nursaman bekerja serabutan.

"Dulu Pak Nur itu supir bajaj, suka diem di Pasar Minangkabau, sekarang udah enggak pernah lihat bawa bajaj lagi, tapi kalau diminta bantuin apa dia mau asal dikasih uang," ujarnya.

Sumber: VIVACNNIndonesia


(Sumber: fb penulis)







Artikel Terkait Lainnya

Back to Top

Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini