SINOVAC dan Perbandingan Vaksin Covid-19 Lainnya

Artikel Terbaru Lainnya :


 SINOVAC


Dari ketiga negara yang melakukan uji klinis phase 3 vaksin Covid-19 Sinovac, belum ada satupun yang merilis publikasi ilmiahnya meski sudah mengeluarkan hasil efikasi interm. Hingga sekarang pun, pihak Sinovac juga belum merilis efikasinya. 

Yang terbaru, Brazil, setelah klaim efikasi interm 78% namun mendapat kritik dari para ilmuan berdasar formula penghitungan efikasi yang seharusnya 63%, secara mengejutkan ternyata secara general efikasinya hanya kurang dari 60%. Tepatnya kurang di angka berapa? Apakah sangat tipis dari standar minimal WHO yang 50%?

Sebenarnya yang mengejutkan adalah keputusan BPOM yang mengeluarkan izin EUA (izin pakai darurat) berdasarkan uji klinis phase 3 Bandung, yang partisipannya hanya 1.620 orang. Bandingkan dengan major kandidat vaksin lain yang berjumlah 26.000 hingga 60.000 orang. Mengejutkan juga, karena diputuskan tanpa menunggu Sinovac merilis hasil efikasi. Sementara negara-negara lain ketika memutuskan mengeluarkan EUA, berdasarkan rilis efikasi produsen vaksin. Bahkan setelah mereka submit jurnal ilmiahnya. 

Hanya China yang mengizinkan pemakaian darurat sebelum rilis efikasi produsen di Agustus 2020, namun pemakaian terbatas pada militer dan tenaga medis militer. Setelah Sinopharm merilis efikasi resmi, akhirnya mereka memakai Sinopharm untuk sipil. Adapun karena keterbatasan produksi dan keterbatasan kelayakan yang dapat menerima vaksin Sinopharm tersebut, maka pemerintah China memutuskan mendatangkan juga AstraZeneca 200 juta dosis dan Pfizer 100 juta dosis, agar dapat segera memenuhi kebutuhan mereka. Juga untuk warganya yang di atas 59 tahun dan yang terdapat comorbid (penyakit bawaan).

Sinovac sendiri memiliki efikasi (hasil interm) yang terendah di antara kandidat vaksin major lainnya. Dengan rentang kurang dari 60% hingga 91% (inipun aneh, karena hanya berdasar 1.322 orang saja) sementara vaksin lain di 90% hingga 95%. Padahal vaksin lain melakukan uji klinis tidak hanya kepada golongan yang sehat dan umur prima, namun juga kepada golongan lansia di atas 65 tahun, dan yang mempunyai penyakit bawaan. Mereka claim pada jurnalnya vaksin aman hingga untuk yang berumur 111 tahun. Bila mereka hanya melakukan trial kepada yang berumur 18-59 tahun dan sehat saja, efikasi mereka tentu akan jauh lebih tinggi lagi. Oh ya, mereka juga sudah memulai uji klinis phase 3 kepada anak-anak sejak Desember kemarin. Kepada yang berumur di atas 10 tahun. Semoga hasilnya juga baik, agar anak-anak mendapat perlindungan.

Berdasarkan hasil uji klinis phase 3 kandidat vaksin lainnya tersebut, maka negara-negara lain justru menempatkan lansia dan yang mempunyai comorbid sebagai prioritas penerima vaksin. Karena merekalah warga yang lebih rentan terhadap Covid-19 secara berat. Selain prioritas kepada tenaga kesehatan dan pejabat negara. Tetapi tidak begitu adanya dengan Sinovac. Karena hanya untuk yang sehat saja berumur 18-59 tahun. 

Ya sayangnya hingga kini belum ada transparansi data uji klinis phase 3 dari Sinovac, belum ada rilis efikasi dari Sinovac, dan belum ada publikasi ilmiah atas hasil interm ketiga negara. Semoga secepatnya, agar tidak menjadi tanda tanya mengingat EUA sudah dikeluarkan oleh BPOM.

There I said it! 
Uneg-uneg di kepala. Meski saya tetap mendukung program vaksinasi di Indonesia. Anything di atas 50%!

“Gunakan vakin Covid-19 yang dapat izin BPOM dan yang lebih dulu tersedia!”

(By Agnes L Fera)

Artikel Terkait Lainnya

Back to Top

Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini