Jangan Percaya Bualan Jhoni Alen Marbun

Artikel Terbaru Lainnya :

Jangan Percaya Bualan Jhoni Alen Marbun 

Oleh:Aam S

 SALAH satu pecatan Partai Demokrat, Jhoni Allen Marbun, mulai membuka kedok aslinya. Lewat video 9 menit, Jonni Allen menebar fitnah dan menyerang Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat SBY, Ketua Umum Partai Demokrat AHY, dan melakukan propaganda buruk.

Tuduhan Pertama

Salah satu fitnah Jhoni Allen adalah menuduh SBY tidak mengeluarkan keringat dalam pendirian Partai Demokrat pada 2004.

Terhadap fitnah ini perlu diluruskan. Berdirinya Partai Demokrat berawal pada 12 Agustus 2001. Ketika itu, sejumlah penggagas melakukan rapat di apartemen Hilton.

Rapat yang dipimpin SBY itu membentuk tim pelaksana yang terdiri dari Vence Rumangkang, A. Yani Wahid, Achmad Kurnia, Adhiyaksa Dault, Baharuddin Tonti, dan Shirato Syafei.

Kemudian, diadakan pertemuan lagi pada 19 Agustus 2001 dan ini menjadi cikal bakal pendirian Partai Demokrat. Dalam pertemuan tersebut, Vence Rumangkang menyatakan rencana pendirian partai akan tetap dilaksanakan dan hasilnya akan dilaporkan kepada SBY.

Pada 20 Agustus 2001, dibantu oleh Sutan Bhatoegana, Vence Rumangkang mengumpulkan orang-orang yang akhirnya membentuk Tim 9 yang beranggotakan 10 orang.

Mereka bertugas untuk mematangkan konsep-konsep pendirian sebuah partai politik. Kesepuluh orang tersebut adalah Vence Rumangkang, Ahmad Mubarok, A. Yani Wachid, Subur Budhisantoso, Irzan Tanjung, RMH. Heroe Syswanto Ns, Saragih, Dardji Darmodihardjo, Rizald Max Rompas, dan T Rusli Ramli.

Selain nama-nama tersebut, ada juga beberapa orang yang sekali atau dua kali ikut berdiskusi. Namun, oleh karena butuh 50 orang untuk syarat mendirikan partai, mereka pun melengkapinya menjadi 99 orang.

Partai Demokrat kemudian disahkan di Gedung Graha Pratama Lantai XI, Jakarta Selatan di hadapan Notaris Aswendi Kamuli SH.

Ada sekitar 46 dari 99 orang menyatakan bersedia menjadi Pendiri Partai Demokrat dan hadir menandatangani Akte Pendirian Partai Demokrat. Sementara 53 orang lainnya tidak hadir tetapi memberikan surat kuasa kepada Vence Rumangkang.

Dapat disimpulkan sejatinya penggagas utama Partai Demokrat adalah SBY. Namun tentu saja nama SBY tidak ada di daftar 99 nama yang menandatangi akte pendirian Partai.

SBY itu orang pintar. Sejak 10 Agustus 2001, SBY dipercaya menjabat sebagai Menko Polkam dalam Kabinet Gotong Royong. Oleh karena itu urusan pendirian Partai Demokrat diserahkan kepada Tim 9.

Sebagai pejabat negara pastilah beliau menolak jika namanya dicantumkan dalam daftar pendiri Partai Demokrat, tetapi sebagai tentara intelektual pastilah pokok-pokok pikirannya menjadi ilham pada proses pendirian Partai Demokrat dan organisasi lainya.

Soal kecerdasan SBY tidak perlu diragukan lagi. SBY dikenal sebagai salah satu prajurit tercerdas di TNI. Tahun 1973, SBY lulus dari AKABRI dengan penghargaan Adhi Makayasa sebagai murid lulusan terbaik dan Tri Sakti Wiratama yang merupakan prestasi tertinggi gabungan mental, fisik, dan kecerdasan intelektual.

Sehingga pantaslah SBY dipercaya menjadi Menteri Pertambangan dan Energi (1999-2000), Menko Polkam (2000-2001), dan Menko Polkam (2001-2004).

Jejak panjang itulah yang menobatkan SBY sebagai negarawan. Sosok negarawan tentu memiliki tata krama dan nilai-nilai etika yang tinggi. SBY bisa membedakan kapan sebagai TNI, kapan sebagai menteri, dan sebagai kapan pendiri Partai Demokrat.

Fakta tersebut yang tidak diketahui oleh Jhoni Alen yang ternyata hanya sosok pemain pinggiran dalam proses pendirian Partai Demokrat. Hanya Tim Pelaksana dan Tim 9 yang mengetahuinya.

Wajar Jhonni Allen tong kosong nyaring bunyinya. Menuduh SBY tidak berkeringat karena memang level dirinya hanya sebatas tim pinggiran yang tidak terlibat dalam rapat-rapat penting.

Tuduhan Kedua

Jhoni Allen juga memfitnah SBY merekayasa Kongres 2015 dan Kongres 2020. Padahal pada kedua Kongres tersebut sudah dilaksanakan sesuai AD/ART dan pemerintah pun sudah mengakuinya.

Pada Kongres 2015, secara aklamasi SBY didaulat sebagai Ketua Umum. Sementara pada Kongres 2020, secara aklamasi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) terpilih sebagai Ketua Umum.

Anehnya, baru sekarang Jhoni Allen sadar dan menggugat Kongres 2015, padahal dirinya termasuk dalam pengurus DPP Partai Demokrat periode 2015-2020 sebagai anggota Majelis Tinggi.

Lebih lanjut, Jhoni Allen menghina Ketua Umum Partai Demokrat AHY dengan mengatakan berada di puncak tetapi tidak pernah mendaki. AHY dianggap tidak tahu cara turun gunung dan menyatakan Partai Demokrat dianggap dalam krisis kepemimpinan.

Tuduhan ini perlu diluruskan. Sejatinya saat ini dalam tubuh Partai Demokrat masih solid mendukung AHY sebagai Ketua Umum. Tidak ada krisis kepemimpinan seperti yang dituduhkan Jhoni Allen.

Seluruh 34 DPD dan DPC seluruh Indonesia solid mendukung AHY. Sementara para pembelot yang disetir oleh Moeldoko sudah dipecat dari partai.

Inilah bukti bahwa AHY sosok Ketua Umum yang cepat turun gunung untuk memberantas para pembelot dengan langkah yang super cerdas.
Pertama, mengirim surat kepada Presiden Joko Widodo. Langkah ini sukses mematikan kudeta yang sudah disiapkan oleh “Jenderal” Moeldoko.

Dalam dua kali jumpa pers, terlihat Moeldoko “megap-megap” menjawab pertanyaan wartawan. Padahal kalau tidak terlibat kenapa harus susah payah menggelar jumpa pers jenderal purn? Langkah cerdas AHY berhasil memaksa “ulo marani gebuk”. Dalam kasus kudeta ini, anak muda yang bernama AHY berhasil menggulung “Jenderal” Moeldoko.

Kedua, Ketua Umum AHY dengan dukungan 34 DPD dan DPC se-Indonesia memecat 7 kader. Langkah cerdas, berani dan terukur.

Pemecatan harus dilakukan untuk memutus mata rantai perongrong partai. Bagai penyakit “jamur kulit”, para perongrong harus dicabut sampai ke akar-akarnya.

Seharusnya Berterima Kasih

Kudeta Moeldoko dan Jhoni Allen berhasil digagalkan oleh Ketua Umum AHY. Keduanya merupakan orang-orang yang besar karena SBY. Tidak bisa dibantah karier Moeldoko bisa meroket berkat sentuhan tangan emas SBY. Demikian juga Jhoni Allen, mencapai karier cemerlang di politik juga berkat SBY dan Partai Demokrat. Ingin bukti??

Ingat pada Pemilu 2014, Jhoni Allen sebagai caleg nomor 1 di Dapil Sumatera Utara II dijungkalkan oleh caleg nomor 6, Rooslynda Marpaung. Itulah bukti Jhoni Allen tidak mengakar dan tidak bekerja untuk partai.

Alih-alih membesarkan partai, dirinya sendiri saja gagal melenggang ke Senayan secara terhormat. Baru di ujung, tepatnya pada 18 Mei 2018, Jhoni Allen berkesempatan menginjakkan kaki di Senayan setalah PAW Rooslynda Marpaung.

Pada Pileg 2019 yang lalu bila tidak ada Demokrat dan Kader PD lainya, belumlah tentu Jhoni Allen Marbun bisa lolos ke Senayan.

Seharusnya Moeldoko dan Jhoni Allen bersyukur dan menghaturkan terima kasih kepada SBY. Karena berkat tangan emas SBY lah keduanya bisa mencapai karier yang cemerlang.

(Pendiri Jaringan Nusantara)



source https://www.kontenislam.com/2021/03/jangan-percaya-bualan-jhoni-alen-marbun.html
Back to Top