MENJAGA IMAN DI GARIS DEPAN PERJUANGAN

Artikel Terbaru Lainnya :

MENJAGA IMAN DI GARIS DEPAN PERJUANGAN

"Staying close to the front line for me is important to keep my eman up. You meet the best of people on the frontlines. People who are only seeking the pleasure of Allah."
 
Yang dibilang Dr Shajul Islam ini bener banget. Kita harus dekat dengan kematian supaya iman terjaga di puncak tertingginya.

Beragam cara mengingatnya.

Ada yang sering-sering dengar ceramah dzikrul maut
Ada yang rutin berziarah kubur
Ada yang menyimpan kain kafan di lemari
Bahkan ada yang menggali kubur di halaman rumahnya.

Tapi apa ada tempat mengingat mati yang lebih indah daripada di frontline?

Di sana kita ga berjumpa dengan satu orangpun kecuali yang benar-benar hanya mengharapkan segera berjumpa dengan Allah.

Ga ada lagi ketakutan
Ga ada lagi hari esok
Ga ada lagi sedikitpun keinginan duniawi

Dia hidup untuk hari itu
Hanya hari itu
Bukan kemarin
Apalagi besok

Maka sebaik-baiknya dirinya sebagai muslim harus dicurahkan pada hari itu.

Setiap huruf yang dibaca saat shalat atau berdzikir terasa benar-benar menyegarkan jiwa bahkan ketika kita ga tau apa artinya..

Setiap detik yang terpikir hanya bagaimana berbuat baik pada detik itu, karena bisa jadi detik berikutnya sudah gugur bunga ke haribaan..

Setiap orang berada di situ bukan untuk dirinya sendiri. Mereka pergi dan berhadapan dengan kematian demi sesuatu yang lain. Baik agama. Maupun keluarga. Atau bangsa dan negaranya.

Sama sekali bukan untuk dirinya. Bahkan hal-hal selain dirinya itulah yang menjadi sebab ia ada disitu.
Maka setiap orang bersedia mengorbankan punggungnya demi orang lain yang bahkan seringkali tidak mereka kenal.

Ketika kita berdzikir meminta kekuatan. Yang terbersit di hati adalah agar Allah beri kekuatan untuk melindungi agama keluarga bangsa dan negara. Bukan kekuatan untuk hidup panjang dan menikmati masa tua.

Ketika kita berdzikir meminta diberi istiqamah. Yang terbersit di hati adalah agar Allah beri istiqamah dalam jalan yang mulia itu. Bukan istiqamah dalam kenikmatan selainnya.

Bahkan ketika berdzikir karena ketakutan. Itu karena kita takut tidak lagi dapat menikmati susah payah membela Allah, RasulNya, serta Islam dan kaum muslimin. Bukan karena takut mati lalu tidak sempat menikmati dunia yang damai.

Sama sekali bukan.

Karena ketika kita berada di sana. Seluruh pikiran. Perasaan. Tujuan. Dan perbuatan. Dicurahkan untuk hal-hal selain diri sendiri. Baik Allah. RasulNya. Maupun Islam dan kaum muslimin.

Di saat-saat seperti itulah siapapun akan kehilangan egonya. Hancur lebur. Lenyap tak berbekas. Tak ada yang tersisa kecuali akhirat semata.

Maka frontline adalah situasi yang paling dirindukan seorang muslim. Bahkan meski ia telah melihat keindahan surga.

"Tidak seorangpun yang masuk surga namun dia ingin kembali ke dunia, Padahal dia hanya mempunyai sedikit harta di bumi, kecuali orang yang mati syahid. Dia berangan-angan untuk kembali ke dunia kemudian berperang lalu terbunuh, lalu berperang lagi, lalu terbunuh lagi. Demikian hingga sepuluh kali. Karena dia melihat keistimewaan karamah (mati syahid)." (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka seorang muslim wajib bercita-cita mati fii sabiilIllah. Ancaman bagi mereka yang tak terbersit keinginan itu adalah kemunafikan.

Tinggal bagaimana kita mendudukkan perspektif Jihad yang baik dan benar menurut Syariat Islam. Bukan syariat para Takfiri Khawarij dan para perusak perjuangan kaum muslimin.

Tapi yang jelas. Berbahagia lah mereka yang sampai detik ini masih istiqamah di dalamnya. Karena tak lagi tersisa pada jiwanya kecuali hanya akhirat semata.

(By Fathi Nasrullah)




source https://www.kontenislam.com/2021/04/menjaga-iman-di-garis-depan-perjuangan.html
Back to Top