Mengapa Peraih Nobel Sebut Penerima Vaksin Akan Meninggal dalam 2 Tahun ?

Artikel Terbaru Lainnya :

 Beberapa pekan terakhir, pesan yang kabarnya berasal dari pernyataan peraih Nobel Luc Montagnier soal vaksin Covid-19 menyebar luas di media sosial maupun aplikasi pesan instan terenkripsi. Di Facebook, misalnya, postingan yang menjadi viral berasal dari akun Ryan Shough pada 22 Mei 2021.

Unggahannya telah dibagikan lebih dari 1.000 kali. Ia berharap klaim yang mengatakan bahwa “tidak ada peluang untuk bertahan hidup” bagi penerima vaksin Covid-19 adalah kabar yang tidak benar.

“Tidak ada harapan dan tidak ada pengobatan bagi mereka yang telah divaksinasi. Kita harus bersiap untuk mengkremasi jenazah,” demikian klaim yang disebut-sebut bersumber dari wawancara dengan Montagnier.




Dalam unggahan di Facebook, Montagnier disebut mengatakan bahwa semua penerima vaksin Covid-19, produksi manapun, akan meninggal karena antibody dependent enhancement (ADE). Apa itu ADE?

Kekhawatiran soal ADE pernah terjadi dengan vaksin demam berdarah dengue (DBD). Kondisi ADE mewakili terjadinya peningkatan aktivitas–bisa berupa keparahan penyakit–yang disebabkan oleh keberadaan suatu antibodi tertentu pada tubuh.

Awalnya, para ilmuwan sempat khawatir tentang ADE ketika mengembangkan vaksin. Faktanya, kasus tersebut tidak ditemukan selama uji klinis atau peluncuran vaksin Covid-19 ke publik.

Dalam beberapa variasi unggahan di Facebook, ada wawancara dua menit dengan Montagnier yang membahas vaksin Covid-19 dan varian virus corona. Ahli virologi itu memang membuat klaim mengenai vaksin dapat menyebabkan ADE, membuat penyakit lebih parah dari sebelumnya.

Akan tetapi, dalam klip tersebut, Montagnier tak sedikitpun menyebut orang yang divaksinasi akan meninggal dalam dua tahun. Ia pun tidak mengungkapkan pernyataan bahwa mereka yang sudah divaksinasi tak mungkin mengelak dari risiko tersebut.(rol)

Back to Top